Di suatu hari mendung dan gerimis, di sebuah Biskota yang trayeknya melewati kp. melayu – pasar pramuka – gambir – senen, hari itu sedang sepi penumpang. Di dalamnya cuma ada seorang pendeta yang naik dari kp. melayu mau ke kantornya pak wapres di jl. merdeka selatan. Di pasar pramuka naiklah seorang penumpang yang nampaknya adalah seorang ustadz.
Setelah menyetop biskota, naiklah sang ustadz sambil berdoa: “Bismillah…..”
Sang pendeta yang sudah di dalam bis meralatnya: “Maaf pak, ini Biskota, bukan Bismillah…”
Sang ustadz hanya tersenyum sambil sedikit dongkol.
Sesampainya di tugu tani turunlah sang pendeta dan diikuti sang ustadz yang kebetulan punya tujuan searah, selang beberapa saat turun di halte tugu tani, terdengar petir menyambar salah satu pohon angsana yang berjejer di jalan merdeka selatan tidak jauh dari halte tersebut.
Sang pendeta yang kaget oleh petir tersebut langsung berdoa: “Haleluya…. Puji Tuhan…”
Sang ustadz yang ada di sampingnya langsung meralatnya: “Maaf pak, itu Halilintar, bukan Haleluya…”
Sang pendeta hanya tersenyum sambil sedikit dongkol.
Seperti diposting oleh piets sofyatudin pada Selasa 06 Maret 2012
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?f=50&t=3128

