Obituari by eko supriyanto

Saya memanggilnya Sabrina.
Meski tahu nama aslinya Iis Sabaria, saya lebih suka menyebutnya dengan Sabrina. Bukan tanpa alasan kalau saya memberi nama panggilan tersendiri – seperti kebiasaan terhadap beberapa rekan lain – juga bukan karena alasan tertentu.
Nama itu saya ambil dari tokoh Sabrina Duncan yang diperankan aktris Kate Jackson dalam serial Charlie Angles yang diputar TVRI waktu itu. Dalam film itu Kate Jackson bermain bersama-sama Jacklin Smith dan Farah Fawcett. Serial itu termasuk digemari, dan melambungkan nama Farah Fawcett sebagai artis idola.
Tapi saya memilih Kate Jackson sebagai idola karena setiap kali melihatnya di tivi saya teringat Sabaria. Begitu juga sebaliknya, setiap kali ketemu Sabaria saya teringat Kate Jackson.
Penyebutan Sabrina dan Sabaria sangatlah mirip. Jadi tidaklah bisa disalahkan kalau kemudian saya memanggilnya Sabrina.
Kalau saya berjumpa Iis di perpustakaan sekolah atau di koridor dan memanggilnya “Sab…” Iis pasti menoleh. Mungkin dia berpikir saya memanggil nama belakangnya yang Sabaria itu, padahal maksud hati saya memanggilnya Sabrina.
Bahkan beberapa tahun kemudian, ketika saya menyuratinya setelah kuliah di Bandung, tanpa ragu saya mencantumkan di sampul amplop: Kepada Yth, Sabrina Iis Sabaria….
Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.
Iis tahu tapi tidak begitu peduli. Dan ketidakpeduliaan itulah salah satu sifatnya. Tentu saja tidak peduli dalam artian yang positif. Anak-anak muda sekarang menyebutnya dengan cuek.
Saya teringat seorang adik kelas yang pernah menceritakan risihnya pergi bersama Sabrina yang santai saja mengenakan baju yang kelihatan sekali belum disetrika. Waktu itu ada pertandingan tenis meja di Kampus IPB. Entah dalam rangka apa – sudah tidak teringat lagi – tapi Sabrina dan seorang adik kelas datang sebagai wakil dari SPMA.
Si adik kelas setengah berbisik mengatakan, “Aku risih banget jalan sama Teh Iis. Bajunya lecek banget….”
Memang tidak ada hubungan antara prestasi olahraga dan baju yang lecek. Karena baju paling rapi sekalipun toh akhirnya akan lecek setelah dipakai berolahraga. Yang memakai baju lecek juga tidak peduli, meski juga tidak jelas apakah akhirnya Sabrina menang atau kalah dalam pertandingan itu.
Dan tenis meja memang tidak bisa dipisahkan dari Sabrina. Setiap kali ada pertandingan tenis meja, Sabrina pasti tampil mewakili kelasnya – dan biasanya memang menang.
Barangkali kebiasaan berolahraga itu juga yang membuatnya tampak atletis. Dengan postur tinggi (meski tidak besar), kulit putih, tatapan wajah agak galak – lengkap sudah. Ditambah lagi cara jalannya yang seperti mau menabrak apa saja yang ada di depannya.
Seorang rekan waktu saya tanyakan apakah masih ingat dengan Iis Sabaria mengatakan, “Iis? Yang kalau jalan selalu nunduk…. cepeeeeet banget jalannya dan selalu mepet ke satu sisi…. kalau jalan di koridor sekolah, jalannya nggak di tengah koridor tapi mepet ke dinding dan siuuuut …. cepet banget lewatnya…. Iis Sabaria yang itu kan?”
Teman lain menjulukinya Si Tirilik karena kebiasaan berjalan cepat itu. Tidak jelas juga dari bahasa mana kata tirilik itu diambil. Bahasa Sunda barangkali, karena bahasa itulah yang umum dipakai sebagai bahasa pergaulan di lingkungan SPMA.
Artinya kurang lebih ya seperti itu, berjalan cepat seperti tidak mau tahu apa yang ada di kiri kanan jalan
Memang menyenangkan kalau kita mengingat Sabrina yang berjalan mlipir-mlipir alias berjalan lurus memepet tembok menuju pintu kelasnya. Kalau sudah begitu tidak ada yang berani menghalangi. Apalagi saya yang berperawakan lebih kecil. Pernah sekali saya coba menghadangnya. Matanya yang bulat melotot besar sambil tangannya mengibas-ngibas. Seperti berkata tanpa suara, “Awas… Minggir…. Minggir….”
Selain tenis meja dan jalan cepat tadi, ada satu hal lagi yang tidak bisa dilepaskan dari Sabrina, yaitu menjadi MC!
Setiap kali ada acara di sekolah, setiap kali ada acara di aula, pasti Sabaria yang diminta menjadi pembawa acara. Suaranya yang lembut mungkin menjadi alasan tersendiri. Dan ini menjadi kontradiksi dari penampilannya sehari-hari yang jauh dari kesan feminin.
Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.
Iis tahu tapi tidak begitu peduli.
Saya yakin Iis tetap tidak peduli kalau bertahun-tahun kemudian saya tetap menyebutnya Sabrina meskipun masa tayang Charlie Angles di TVRI sudah usai.
Bahkan ketika kemudian lulus SPMA dan melanjutkan kuliah di Bandung, sebutan itu tidak pernah lekang. Apalagi ketika Kate Jackson tampil kembali di layar TVRI dalam serial The Scarecrow And Mrs. Kings. Meskipun dalam film tadi Kate berperan sebagai Amanda Kings, tidak serta merta saya mengganti panggilan kepada Iis menjadi Amanda, misalnya.
Saya tetap memanggilnya Sabrina.
Dan menonton Scarecrow sambil tetap membayangkan Sabrina yang berjalan cepat mlipir-mlipir tembok. Apalagi dalam film itu Kate bermain bersama Bruce Boxleitner yang sebelumnya muncul di layar tivi dalam serial Bring ‘Em Back Alive – serial yang saya gemari karena seting ceritanya di hutan Malaysia.
Jadi setiap kali nonton The Scarecrow saya membayangkan diri saya sebagai Bruce Boxleitner dan membayangkan Iis sebagai…… Sabrina Duncan, bukan sebagai Amanda Kings.
Tahun 2002 saya kembali ke Depok setelah sepuluh tahun terakhir bekerja di pedalaman Sumatera Utara. Hal pertama yang saya lakukan adalah melacak kembali keberadaan teman-teman semasa SPMA, terutama yang tinggal di Depok dan sekitarnya. Diawali dari Wahyu Pangayoman, kemudian Ellys Watie, Tuti ‘Tiut’ Suprapti, dan juga Yayat ‘Ocang’ Supriyatna.
Semangat mengumpulkan teman-teman lama semakin menggebu manakala mendengar kabar akan ada Reuni Akbar pada Bulan Desember 2003 di gedung SPMA tercinta. Dengan semangat yang sama saya menyusuri lagi jalanan di Perumahan Depok II Tengah tempat Sabrina dulu tinggal.
Rumahnya ketemu.
Orangtuanya masih mengenali saya.
Tapi Sabrina sendiri sudah pindah ke daerah Cibinong setelah menikah. Beruntung saya mendapatkan nomor telpon rumahnya. Kemudian saya menelponnya dari wartel tidak jauh dari rumah orangtuanya.
Saya tidak pernah lupa bagaimana Sabrina histeris ketika tahu saya yang menelponnya. Ia berjanji akan datang dalam reuni tersebut. Juga akan hadir dalam acara pra reuni angkatan 84 yang diadakan di Kebun Raya Bogor.
Tapi pada hari yang dijanjikan Sabrina tidak muncul. Saya masih menyempatkan menghubunginya dari wartel persis di depan pintu masuk kebun raya. Sabrina minta maaf tidak bisa hadir karena ada keperluan keluarga yang tidak bisa dihindari.
Pada saat reuni akbar bulan Desember 2003, Sabrina juga tidak terlihat di antara sekian puluh alumni angkatan 84 yang hadir. Saya juga tidak sempat menghubunginya karena tenggelam dalam keceriaan bertemu teman-teman lama.
Menjelang Oktober 2006 saya dikabari adanya rencana halal bihalal di aula gedung SPMA. Berita yang beredar dari SMS ke SMS itu mengingatkan lagi akan ketidakhadiran Sabrina dalam dua kali pertemuan sebelumnya. Belum sempat saya menemukan nomor telpon rumah Sabrina yang terselip di antara berkas-berkas lama – saat itu saya belum lama kembali setelah bekerja selama tiga tahun di Papua – masuklah SMS dari Tuti Suprapti. Ko, katanya Iis sudah meninggal dunia, apa betul?
Berita SMS itu semakin menyemangati menemukan nomor telpon rumah Sabrina. Dan malam itu juga – dalam suasana gerimis di perumahan – saya bergegas menuju wartel terdekat.
“Ya, mas, istri saya Iis Sabaria sudah meninggal dunia dua minggu lalu. Maafkan kalau ada kesalahannya semasa hidup….”
Begitulah kata suaminya. Kalimat yang begitu mengejutkan. Lebih mengagetkan daripada suara petir yang saat itu memecah langit.
Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.
Iis tahu dan tidak pernah keberatan atau mempermasalahkan. Bahkan bertahun-tahun setelah lulus dari SPMA saya tetap menyebutnya Sabrina. Tetap ingin memanggilnya dengan nama itu.
Saya tidak merasa bersalah karenanya. Meskipun keinginan bertemu Sabrina tidak pernah terlaksana. Dua kali kesempatan reuni terlewatkan tanpa kehadiran Sabrina. Dua kali kesempatan memanggil namanya terlupakan karena ketidakhadirannya.
Saya tidak pernah merasa bersalah memanggilnya Sabrina. Meski sekarang hanya bisa menyebutkan namanya sambil berbisik. Meski dengan sambil berbisik pun Sabrina juga tidak bisa menjawabnya.
Tapi saya percaya nama itu akan tetap ada. Akan selalu ada. Dan akan selalu saya bisikkan dalam kesempatan reuni-reuni selanjutnya.
“Selamat jalan, Sabrina. Sampai jumpa dalam reuni berikutnya di surga….”
Ditulis untuk mengenang sahabat kita tercinta Iis Sabaria,
alumni SPMAN Bogor Angkatan 1984 yang meninggal dunia pada tahun 2006