colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in in memoriam

Ini adalah sajak yang tertinggal dari kawan kita almarhum Ahmad Ridwan yang di posting oleh kakak kita “Roy82″, maaf sajak ini saya copy dan pindahkan menjadi thread tersendiri :

Kala ku tahu warisan itu kasih sayang
Kala ku tahu warisan itu dititipkan pada perempuan
Kala ku tahu kasih sayang itu penggemblengan
kala ku tahu kasih sayang itu menggemblengku sembilan bulan

Kala ku dipaksa keluar dari penggemblengan
Kala ku berteriak dan menangis keras karena kaget dan enggan
Aku dipaksa keluar dari penggemblengan
Aku dipaksa keluar meninggalkan kasih sayang
kasih sayang yang melingkupiku sembilan bulan

tangisku adalah bahasaku
teriakku adalah kekesalanku

ternyata …
aku tak keluar dari kasih sayang

dia membimbingku merangkak
dia memapahku melangkah
dia menjagaku kala ku berlari

ternyata aku tetap dalam dekapan kasih sayang

tak ada ucap dan karya yang dapat ku sembahkan senilai dia

kala ku tahu ilmu itu kasih sayang
kalu ku tahu ilmu itu dititipkan pada guru dan ilmuwan
kala ku tahu kasih sayang itu pendidikan dan pengajaran
kala ku tahu kasih sayang itu tiga tahun pembekalan

kala usai sudah pembekalan
kala berlinang air mataku antara ingin dan enggan
aku dipaksa keluar dari pembekalan
Aku dipaksa keluar meninggalkan kasih sayang
kasih sayang yang melingkupiku tiga tahun pembekalan

aku merangkak mencari arti
aku melangkah membangun makna
aku tergelincir dan terjatuh, kadang terinjak oleh yang berlalu

ternyata …
aku tak pernah keluar dari pembekalan
aku tak pernah lepas dari dekapan kasih sayang
dia membangunkanku tuk berdiri dan …
memapahku tuk melangkah kekal

dia membimbingku menapak karya
dia memapahku menapak wira
dia menjagaku kala ku berkelana

ternyata aku tetap dalam dekapan kasih sayang

tak ada ucap dan karya mampu ku sembahkan senilai dia

sungguh
tak ada kata terima kasih
tak ada persembahan terima kasih
yang mampu kusembahkan padamu dan padanya

jasamu tak ternilai
kasih sayangmu tak terbalas

entah apa arti kami
kala kami tahu
dekapan kami tak mampu membalas
dekapan kasih sayangmu

Seperti diposting oleh piets sofyatudin pada Sabtu 27 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1297

Sebuah siang yang terik. Kami sedang praktik nyangkul. Tempatnya saya lupa. Entah kenapa saat itu saya malas banget. Rasa malas, juga menghinggapi benak sahabat saya, Ahmad ‘Boher’ Ridwan (almarhum). Kalau teman lain berkutat dengan cangkul, saya dan Boher malah pinjam motor milik syahrul, adik salah satu pegawai SPMA.

Saya dibonceng Boher, pergi ke suatu tempat yang saya lupa, meninggalkan teman yang sedang praktik. Saat motor kami melintas, tiba-tiba………..’Gdubrak!” motor menghantam sebuah tembok yang ada di pinggir jalan.
Boher dan motor masuk got. Jidatnya berdarah. Sementara saya terhempas ke jalan aspal, dan bergulingan sekian meter ke depan. Saya masih sanggup berdiri, kendati bahu kiri saya merasakan sakit yang lumayan hebat. Saya bantu Boher keluar dari got.

Singkat cerita, saya dan boher dibawa ke RS PMI. Boher dirawat di sana, sedangkan saya disaran untuk berobat secara tradisional di Cimande. Saya nurut, pergi ke Cimande. Saya masuk ke rumah tukang pijat. Menit berikutnya, saya berteriak-teriak ketika dipijat, “Silakan nangis. Jangankan kamu yang badannya kecil, orang yang badannya besar dan kumisnya baplang, pasti menangis kalau saya pijat,” kata tukang pijat dengan tenang, jari tangannya yang besar menusuk bahu bagian belakang saya.

Usai diurut, saya dibawa ke rumah Boher di Gunung Batu. Di sana, saya tinggal untuk beberapa bulan. Duh, saya diperlakukan seperti anak sendiri oleh keluarga Boher, hingga akhirnya saya bisa kembali bersekolah, kendati tangan saya harus digendong dan tak boleh nyangkul untuk beberapa lama.
“Saya kualat,” itu kata spontan yang saya lontarkan atas kejadian itu.
Untuk Boher, tidurlah dengan tenang di sisi-Nya. Banyak kenangan yang telah kita lalui bersama saat di SPMA dulu.

Seperti diposting oleh tatang budimansyah pada Minggu 14 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1193

Setahun yang lalu, sahabat kita tercinta, amirnya 86’ers, Didin Ahmad Nurdin meninggalkan kita untuk selamanya. Meninggalkan seorang istri yang tabah Rina Rosalina, dan dua anak tersayang Nervilia Nur Afifah (Nervi) dan adik kecilnya yang -maaf- sampai saat ini saya belum tahu nama anak keduanya. Sepeninggalnya, 86’ers yang kompak dan guyub seperti kehilangan roh-nya. Beliau adalah pemersatu dan pembangkit semangat 86’ers. Sembari berkarir di Kebun Raya Cibodas, beliau masih menyempatkan dirinya untuk senantiasa mengontak dan menjembatani komunikasi teman-teman 86’ers. Masih teringat bagaimana beliau bersusah payah bersama beberapa rekan 86’ers lain sampai terwujudnya acara reuni “15 tahun lulus” pada 2001 di KRB, dengan jumlah kehadiran 86’ers hampir 70 %, begitupun pada acara reuni 2 tahun berikutnya di Kebun Raya Cibodas.
Untuk mengenang beliau, berikut saya salinkan tulisan dadakan mendiang ketika acara reuni “15 tahun lulus” pada Juli 2001 (kebetulan tulisan itu tersimpan pada dokumen di komputer saya) :

BENAHI DIRI (Obat Kangen Buat Udin Saripudin)
“janganlah engkau memusyrikan Allah dengan menganggap besar urusan dunia, mementingkan pekerjaan, jabatan, harta, dan kedudukan karena di sisi Allah itu sangat kecil,” nasehat Ustadz Basyir (H. Dudung Mulyadi) – saudara kita yang pernah jadi lurah dewi sri – kepada para jamaah pengajiannya.
“pusing euy mikirin anggota koperasi!” ceuk pak Agus Suhatman,Ssi. Ketua KPRI Gandaria Kebun Raya Cibodas.
“berdasarkan penelitian di lab. Kimia farma, ternyata daun jambu itu sangat mujarab untuk menghentikan diare, daun antanan gunung (cantela asiatica) dapat digunakan untuk mengobati maag, dan ke depan prospek tumbuhan obat sangat bagus karena ada trend back to nature,” kata kang Munajat, bantara saka taruna bumi di cibalagung tahun 85.
Atau bila anda butuh HP yang murah dan bagus, bisa menghubungi adryan cellular milik Tb. Hendra Wijaya, tapi kalau soal kerjasama dan dana usaha yang modalnya minimal 100 juta, bisa menghubungi Yudi Mahriadi, SE.
Subhanallah………………
Dari kelas yang mayoritas urusannya pacul dan tanah ternyata saudara kita ada yang sudah jadi pengusaha, tokoh masyarakat, calon bankir, guru, pengurus MUI, dan nggak usah disebut peneliti dan teknisi di bidang tumbuhan dan pertanian. Lima belas tahun sudah sang waktu memberikan kesempatan kepada kita untuk merubah nasib kita menjadi lebih baik dan perilaku lebih bermoral, ada baiknya kita teladani resep orang-orang yang kita jadikan panutan, sebelum kita menyesali diri………..
Kita pernah merasakan rasa kebersamaan dan saling tolong menolong selama kita belajar di cibalagung, apa kita akan hilangkan rasa kebersamaan itu ????…….tentu tidak….!!
Kita pernah mengumpulkan sisa uang jajan yang tidak seberapa digabung dengan beberapa rekan, akhirnya bisa sedikit membantu saudara kita yang hanya keterlambatan membayar uang ujian nyaris tidak diperbolehkan mengikuti ujian akhir, atau bila di antara kita ada yang mendapat rejeki dan kiriman uang lebih, rame-rame kita menengok Aris Munandar (yang rutin bikin surat sakit) bila sudah beberapa hari nggak nongol di kampus.
Atau (yang ini jangan dilestarikan) : kita berkolaborasi untuk melaksanakan panen awal terutama jagung dan kacang tanah di gudang atas, ya……demi bisa menikmati kebersamaan kita sambil ngobrol dan menikmati jagung dan kacang rebus…..walaupun tanggung bulan kiriman uang belum datang………..
Mudah-mudahan rasa peduli sesama seperti ini masih tetap terpelihara dalam diri kita…
“mari kita benahi diri………” kata kang Udin Saripudin menirukan Ebiet G Ade sambil meneruskan hanca maculnya di gudang tengah………………………………………

Kebun Raya Cibodas, Akhir Juli 2001
Didin A Nurdin

Buat Rekan 86’ers, mari kita lanjutkan semangat kebersamaan yang selalu diusung oleh amir sekaligus sahabat kita, mendiang Didin Ahmad Nurdin.
Selamat jalan sahabat………. Doa kami menyertaimu……………………………

Seperti diposting oleh piets pada Rabu 30 juli 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=880

Lautan hati adalah kumpulan seribu wajah
di dalamnya terpahat kata berukir
yang menempel di dinding sanubari.
saksi bisu perjalanan insan yang fana…..

Itulah puisi untuk almh Iis Sabaria, teman, sahabat, saudara yang terasa begitu dekat meskipun sudah terpisah oleh jarak dan waktu yang begitu jauh. Kebetulan waktu di kelas dua kami pernah menjadi teman satu kost dan tidur di satu kamar. Begitu banyak suka duka yang kami alami bersama selama satu tahun. Makan sepiring berdua sampai tidur sebantal berdua pernah aku rasakan bersamanya. Sudah seperti orang yang pacaran saja….

Iis Sabaria adalah kawan yang baik. Kawan yang selalu menyadarkan dan memberi motivasi untuk rajin belajar. Terus terang waktu kelas dua nilai raporku bertumbangan, membuatku jadi malas belajar. Kerjaku cuma baca novel dan cerita Kho Ping Hoo melulu. Tapi Iis dengan sabar selalu nasehatiku, selalu mengingatkan bahwa kita harus rajin belajar karena orangtua sudah susah payah membiayai kita. Nasehat dan ucapan yang akhirnya membuatku sadar.
Yang menarik dari sahabatku yang satu ini adalah sifatnya yang agak pemalu dan grogi, apalagi kalau sudah kuajak ngobrol tentang cowok! Apalagi aku dulu dikenal centil dan suka bikin ge-er teman-teman cowok di sekolah. (Sekarang juga masih – red.)

Kalau aku lagi cerita yang seru-seru tentang cowok, Iis Sabaria cuma senyuuuuum dan tertawa malu-malu, padahal di sebelah rumah kost ada dua orang mahasiswa yang salah satunya naksir dia lho! Aku pernah dimintai tolong sama itu cowok itu untuk bantu nyomblangin dia. Tapi dasar si Iis ini memang cewek antik, susaaaah banget ditaklukkan walaupun sering dikirimin surat cinta!
Sikapnya yang tidak mau ditaksir cowok sempat membuatku salut padanya. Sampai pada suatu hari Iis datang padaku dan berkata dengan mata berbinar-binar: “Tiut, aku mau cerita …. tapi ini rahasia yach…. Aku kayaknya lagi jatuh cinta!…..”
“Sama siapa Is?” tanyaku penasaran. “Sama Kak Darma cowok sebelah itu?”
“Bukan,” Iis menggeleng sambil memberi isyarat untuk tutup mulut. “Bukan sama dia….”

Rupanya Iis jatuh cinta pada salah satu guru di sekolah. Iis berterus terang kagum pada kepintaran dan otak encernya. Tentu saja aku tahu namanya karena Iis membisikan padaku, tapi karena aku sudah janji akan merahasiakannya, maka biarlah nama itu tetap menjadi rahasia di antara kami berdua.
Satu hal lagi yang aku ingat dari almh Iis adalah suaranya yang merdu dan renyah banget. (Renyah? Kerupuk kaleee…). Kalau dia bersenandung enak banget didengar. Dulu aku sering nyanyi duet walaupun cuma dalam kamar. Lagu yang paling kami suka adalah lagu Bukit Berbunga yang dinyanyikan Uci Bing Slamet. Kenal nggak lagu itu? Kalau nggak kenal berarti bukan remaja yang hidup di era tahun 80′an.

Karena suaranya yang khas itu aku pernah bilang pada Iis bahwa dia berbakat jadi MC atau penyanyi! Dan dugaanku itu terbukti ketika pada suatu waktu Iis diminta menjadi MC bersama-sama Kang Asep Syarief hidayat (angkatan 83).
Acaranya sudah lupa apakah dalam rangka Dies Natalis, Inagurasi atau apa begitu. Yang jelas menjelang acara tersebut Iis bingung mau pakai baju apa. Iis minta pendapatku. Lalu kami sibuk memilih-milih pakaian apa yang kira-kira pantas dipakai. Sampai akhirnya terpilihlah baju lucu berwarna biru dengan model setengah Cinderella! (Waktu itu memang ada model kayak begitu – pen.)
Masalahnya kemudian adalah: baju itu kekecilan!

Postur tubuhku kan mungil sementara Iis Sabaria tinggi semampai. Atasannya pas tapi bawahannya kurang panjang. Akhirnya aku punya akal. Lipatan di bagian bawah kubuka supaya menjadi lebih panjang. Setelah dicoba ternyata pas dan membuat iis jadi tambah cantik.
Masalahnya tidak berhenti disitu. Ada ide untuk memoles wajah Iis supaya menjadi lebih cantik. Tapi alat make-up tidak punya! Mau ke salon enggak mungkin. Maklum anak kost dan tanggal tua pas lagi bokek-bokeknya. Kemudian aku teringat tetangga dekat rumah – anak SMA yang bernama Dede – yang suka dandan kalau sekolah. Ya sudah, akhirnya kurayu dia supaya bisa pinjam peralatan make-upnya dengan iming-iming dia boleh datang ke acara sekolah. Dede-nya oke-oke saja. Kebetulan dia lagi suka sama teman kita Boik Haryanto.

Akhirnya Iis bisa tampil di acara tersebut dengan penampilan yang cantik dan sukses berkat suaranya yang merdu. Aku senang banget melihat senyumnya yang bahagia. Apalagi setelah acara itu Iis memelukku dengan eratnya sambil mengatakan: “Makasih ya Tiut, kamu sudah ngasih sesuatu yang bikin aku bahagia malam ini. Mudah-mudahan persahabatan kita tetap manis sampai nanti!…”
Aku terharu mendengar omongannya. Aku bisa ikut merasakan kebahagiaannya pada malam itu. Dan rasa bahagia itu seolah-olah masih bisa kurasakan sampai sekarang, meski Iis sudah lebih dulu berpulang kehadiratNya.
Selamat jalan, Is…
Aku senantiasa merindukan senyum dan suaramu….

Seperti diposting oleh tiut84 pada Minggu 06 Juli 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=800

Obituari by eko supriyanto

  

 

jpeg

Ini foto tiga bidadari Charlie Angles versi TVRI jaman dulu. Dari kiri ke kanan: Jacklin Smith, Farah Fawcett, dan Kate Jackson. Nah, nama Kate dalam serial itu adalah Sabrina Duncan – nama yang saya pakai untuk memanggil Iis Sabaria.
Kate Jackson juga dikenal di Indonesia dalam serial tv The Scarecrow And Mrs. King. Di situ dia bermain bersama Bruce Boxleitner yang sudah dikenal sebelumnya dalam serial Bring ‘Em Back Alive.
Serial terakhir tadi termasuk serial favorit  semasa kuliah karena ceritanya tentang penyelamatan hutan, dan settingnya pun di Malaysia.

Pertanyaannya sekarang, betulkah Sabrina mirip Iis Sabaria?

Obituari by eko supriyanto

   

 

 

Saya memanggilnya Sabrina.

Meski tahu nama aslinya Iis Sabaria, saya lebih suka menyebutnya dengan Sabrina. Bukan tanpa alasan kalau saya memberi nama panggilan tersendiri – seperti kebiasaan terhadap beberapa rekan lain – juga bukan karena alasan tertentu.

Nama itu saya ambil dari tokoh Sabrina Duncan yang diperankan aktris Kate Jackson dalam serial Charlie Angles yang diputar TVRI waktu itu. Dalam film itu Kate Jackson bermain bersama-sama Jacklin Smith dan Farah Fawcett. Serial itu termasuk digemari, dan melambungkan nama Farah Fawcett sebagai artis idola.

Tapi saya memilih Kate Jackson sebagai idola karena setiap kali melihatnya di tivi saya teringat Sabaria. Begitu juga sebaliknya, setiap kali ketemu Sabaria saya teringat Kate Jackson.

Penyebutan Sabrina dan Sabaria sangatlah mirip. Jadi tidaklah bisa disalahkan kalau kemudian saya memanggilnya Sabrina.

Kalau saya berjumpa Iis di perpustakaan sekolah atau di koridor dan memanggilnya “Sab…” Iis pasti menoleh. Mungkin dia berpikir saya memanggil nama belakangnya yang Sabaria itu, padahal maksud hati saya memanggilnya Sabrina.

Bahkan beberapa tahun kemudian, ketika saya menyuratinya setelah kuliah di Bandung, tanpa ragu saya mencantumkan di sampul amplop: Kepada Yth, Sabrina Iis Sabaria….

 

  

Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.

Iis tahu tapi tidak begitu peduli. Dan ketidakpeduliaan itulah salah satu sifatnya. Tentu saja tidak peduli dalam artian yang positif. Anak-anak muda sekarang menyebutnya dengan cuek.

Saya teringat seorang adik kelas yang pernah menceritakan risihnya pergi bersama Sabrina yang santai saja mengenakan baju yang kelihatan sekali belum disetrika. Waktu itu ada pertandingan tenis meja di Kampus IPB. Entah dalam rangka apa – sudah tidak teringat lagi – tapi Sabrina dan seorang adik kelas datang sebagai wakil dari SPMA.

Si adik kelas setengah berbisik mengatakan, “Aku risih banget jalan sama Teh Iis. Bajunya lecek banget….”

Memang tidak ada hubungan antara prestasi olahraga dan baju yang lecek. Karena baju paling rapi sekalipun toh akhirnya akan lecek setelah dipakai berolahraga. Yang memakai baju lecek juga tidak peduli, meski juga tidak jelas apakah akhirnya Sabrina menang atau kalah dalam pertandingan itu.

Dan tenis meja memang tidak bisa dipisahkan dari Sabrina. Setiap kali ada pertandingan tenis meja, Sabrina pasti tampil mewakili kelasnya – dan biasanya memang menang.

Barangkali kebiasaan berolahraga itu juga yang membuatnya tampak atletis. Dengan postur tinggi (meski tidak besar), kulit putih, tatapan wajah agak galak – lengkap sudah. Ditambah lagi cara jalannya yang seperti mau menabrak apa saja yang ada di depannya.

Seorang rekan waktu saya tanyakan apakah masih ingat dengan Iis Sabaria mengatakan, “Iis? Yang kalau jalan selalu nunduk…. cepeeeeet banget jalannya dan selalu mepet ke satu sisi…. kalau jalan di koridor sekolah, jalannya nggak di tengah koridor tapi mepet ke dinding dan siuuuut …. cepet banget lewatnya…. Iis Sabaria yang itu kan?”

Teman lain menjulukinya Si Tirilik karena kebiasaan berjalan cepat itu. Tidak jelas juga dari bahasa mana kata tirilik itu diambil. Bahasa Sunda barangkali, karena bahasa itulah yang umum dipakai sebagai bahasa pergaulan di lingkungan SPMA.

Artinya kurang lebih ya seperti itu, berjalan cepat seperti tidak mau tahu apa yang ada di kiri kanan jalan

Memang menyenangkan kalau kita  mengingat Sabrina yang berjalan mlipir-mlipir alias berjalan lurus memepet tembok menuju pintu kelasnya. Kalau sudah begitu tidak ada yang berani menghalangi. Apalagi saya yang berperawakan lebih kecil. Pernah sekali saya coba menghadangnya. Matanya yang bulat melotot besar sambil tangannya mengibas-ngibas. Seperti berkata tanpa suara, “Awas… Minggir…. Minggir….”

Selain tenis meja dan jalan cepat tadi, ada satu hal lagi yang tidak bisa dilepaskan dari Sabrina, yaitu menjadi MC!

Setiap kali ada acara di sekolah, setiap kali ada acara di aula, pasti Sabaria yang diminta menjadi pembawa acara. Suaranya yang lembut mungkin menjadi alasan tersendiri. Dan ini menjadi kontradiksi dari penampilannya sehari-hari yang jauh dari kesan feminin.

 

 

Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.

Iis tahu tapi tidak begitu peduli.

Saya yakin Iis tetap tidak peduli kalau bertahun-tahun kemudian saya tetap menyebutnya Sabrina meskipun masa tayang Charlie Angles di TVRI sudah usai.

Bahkan ketika kemudian lulus SPMA dan melanjutkan kuliah di Bandung, sebutan itu tidak pernah lekang. Apalagi ketika Kate Jackson tampil kembali di layar TVRI dalam serial The Scarecrow And Mrs. Kings. Meskipun dalam film tadi Kate berperan sebagai Amanda Kings, tidak serta merta saya mengganti panggilan kepada Iis menjadi Amanda, misalnya.

Saya tetap memanggilnya Sabrina.

Dan menonton Scarecrow sambil tetap membayangkan Sabrina yang berjalan cepat mlipir-mlipir tembok. Apalagi dalam film itu Kate bermain bersama Bruce Boxleitner yang sebelumnya muncul di layar tivi dalam serial Bring ‘Em Back Alive – serial yang saya gemari karena seting ceritanya di hutan Malaysia.

Jadi setiap kali nonton The Scarecrow saya membayangkan diri saya sebagai Bruce Boxleitner dan membayangkan Iis sebagai…… Sabrina Duncan, bukan sebagai Amanda Kings.

 

 

Tahun 2002 saya kembali ke Depok setelah sepuluh tahun terakhir bekerja di pedalaman Sumatera Utara. Hal pertama yang saya lakukan adalah melacak kembali keberadaan teman-teman semasa SPMA, terutama yang tinggal di Depok dan sekitarnya. Diawali dari Wahyu Pangayoman, kemudian Ellys Watie, Tuti ‘Tiut’ Suprapti, dan juga Yayat ‘Ocang’ Supriyatna.

Semangat mengumpulkan teman-teman lama semakin menggebu manakala mendengar kabar akan ada Reuni Akbar pada Bulan Desember 2003 di gedung SPMA tercinta. Dengan semangat yang sama saya menyusuri lagi jalanan di Perumahan Depok II Tengah tempat Sabrina dulu tinggal.

Rumahnya ketemu.

Orangtuanya masih mengenali saya.

Tapi Sabrina sendiri sudah pindah ke daerah Cibinong setelah menikah. Beruntung saya mendapatkan nomor telpon rumahnya. Kemudian saya menelponnya dari wartel tidak jauh dari rumah orangtuanya.

Saya tidak pernah lupa bagaimana Sabrina histeris ketika tahu saya yang menelponnya. Ia berjanji akan datang dalam reuni tersebut. Juga akan hadir dalam acara pra reuni angkatan 84 yang diadakan di Kebun Raya Bogor.

Tapi pada hari yang dijanjikan Sabrina tidak muncul. Saya masih menyempatkan menghubunginya dari wartel persis di depan pintu masuk kebun raya. Sabrina minta maaf tidak bisa hadir karena ada keperluan keluarga yang tidak bisa dihindari.

Pada saat reuni akbar bulan Desember 2003, Sabrina juga tidak terlihat di antara sekian puluh alumni angkatan 84 yang hadir. Saya juga tidak sempat menghubunginya karena tenggelam dalam keceriaan bertemu teman-teman lama.

Menjelang Oktober 2006 saya dikabari adanya rencana halal bihalal di aula gedung SPMA. Berita yang beredar dari SMS ke SMS itu mengingatkan lagi akan ketidakhadiran Sabrina dalam dua kali pertemuan sebelumnya. Belum sempat saya menemukan nomor telpon rumah Sabrina yang terselip di antara berkas-berkas lama – saat itu saya belum lama kembali setelah bekerja selama tiga tahun di Papua – masuklah SMS dari Tuti Suprapti. Ko, katanya Iis sudah meninggal dunia, apa betul?

Berita SMS itu semakin menyemangati menemukan nomor telpon rumah Sabrina. Dan malam itu juga – dalam suasana gerimis di perumahan – saya bergegas menuju wartel terdekat.

“Ya, mas, istri saya Iis Sabaria sudah meninggal dunia dua minggu lalu. Maafkan kalau ada kesalahannya semasa hidup….”

Begitulah kata suaminya. Kalimat yang begitu mengejutkan. Lebih mengagetkan daripada suara petir yang saat itu memecah langit.

 

 

 

Iis Sabaria tahu saya memanggilnya Sabrina.

Iis tahu dan tidak pernah keberatan atau mempermasalahkan. Bahkan bertahun-tahun setelah lulus dari SPMA saya tetap menyebutnya Sabrina. Tetap ingin memanggilnya dengan nama itu.

Saya tidak merasa bersalah karenanya. Meskipun  keinginan bertemu Sabrina tidak pernah terlaksana. Dua kali kesempatan reuni terlewatkan tanpa kehadiran Sabrina. Dua kali kesempatan memanggil namanya terlupakan karena ketidakhadirannya.

Saya tidak pernah merasa bersalah memanggilnya Sabrina. Meski sekarang hanya bisa menyebutkan namanya sambil berbisik. Meski dengan sambil berbisik pun Sabrina juga tidak bisa menjawabnya.

Tapi saya percaya nama itu akan tetap ada. Akan selalu ada. Dan akan selalu saya bisikkan dalam kesempatan reuni-reuni selanjutnya.

“Selamat jalan, Sabrina. Sampai jumpa dalam reuni berikutnya di surga….”

 

 

Ditulis untuk mengenang sahabat kita tercinta Iis Sabaria,

alumni SPMAN Bogor Angkatan 1984 yang meninggal dunia pada tahun 2006