Siapa yang tak akrab dengan kantong-kantong plastik. Bahkan Agus Haryono, peneliti polimer di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tidak mampu benar-benar melepaskan diri darinya. Padahal Agus terhitung paham benar efek negatif plastik.
Plastik boleh jadi anak emas industri kimia sejak lebih dari setengah abad lalu. Disisipi plasticizer, Polyvinyl Chloride (PVC) yang identik dengan pipa serta bahan pengganti baja dan kayu dalam bidang konstruksi memang bisa melentur. Disisipi agen yang bisa membuatnya lentur, PVC bisa merambah kebutuhan bidang lainnya, seperti insulasi listrik, kemasan makanan, pakaian, dan medis.
Tapi di sinilah masalahnya. Agus menerangkan, beberapa penelitian membuktikan bahwa agen plasticizer yang jamak digunakan, yakni dioctyl phthalate (DOP), bisa memicu kanker dan beberapa kelainan hormon pada mencit. Bukan tidak mungkin terjadi pula pada manusia. “Sampai sekarang belum ada yang melarang (penggunaan plastik) mentang-mentang pengujian masih pada tikus,” kata Agus. “DOP masih menjadi bahan baku penting plastik karena murah.”
Agus menjelaskan, DOP adalah senyawa organik yang mudah larut dalam lemak, terutama pada suhu panas. Ini jelas berbahaya apabila plastik digunakan sebagai kemasan makanan. Adapun kantong-kantong darah dan cairan infus di bidang medis, misalnya, memang tidak melibatkan suhu hangat, tapi tetap saja ada risikonya. “Karena penggunaannya yang jangka panjang,” kata Agus.
Mulai 2004, Agus dan timnya mencoba mencari solusi alternatif untuk bahan baku plasticizer pengganti DOP. Pilihan jatuh pada senyawa turunan minyak sawit yang kalaupun terlarut akan tetap aman dikonsumsi tubuh. Yang penting, bahan tetap lentur dan mampu bertahan melawan panas.
Agus terinspirasi senyawa turunan minyak sawit itu oleh inovasi yang sudah lebih dulu dilakukan di Amerika Serikat yang memanfaatkan senyawa turunan minyak kedelai. “Kalau kedelai saja bisa, kenapa kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia tidak bisa,” begitu pemikiran doktor berusia 39 tahun itu.
Pada tahun itu pula Agus mulai meneliti 11 macam jenis senyawa turunan minyak sawit dalam berbagai kandungan asam lemak dan panjang rantai karbon. Ia menyeleksi untuk mendapatkan komposisi senyawa yang mampu mempertahankan sifat fisik plastik, seperti ketika menggunakan DOP.
Pada 2005, Agus dan kawan-kawannya berhasil mendapatkan tiga yang paling bagus. Satu di antaranya adalah senyawa IPO alias isopropyl oleate. Dari segi harga, IPO memang yang paling bisa menyaingi harga DOP. Sebagai perbandingan, DOP dijual Rp 2.200 per liter, sedangkan IPO Rp 3.500 per liter.
Tapi penggunaannya belum bisa menggantikan DOP sepenuhnya. “IPO paling optimal adalah sebanyak 40-60 persen,” katanya. “Kalau 100 persen, campuran masih keras seperti seng.”
Agus sebenarnya masih punya satu alternatif lainnya yang lebih ampuh ketimbang IPO, yakni IBO atau isobutyl oleate. Senyawa yang satu ini bisa menekan penggunaan DOP sampai tersisa 20 persen saja. “Tapi harganya lebih mahal,” ujarnya.
Karena alasan itulah Agus dan Pusat Penelitian Kimia LIPI tetap memilih IPO untuk disiapkan ke dalam proses produksi tahun ini juga. “Ini sudah yang terbaik,” katanya sepekan lalu sambil menambahkan bahwa kecenderungan saat ini di dunia ketika DOP sudah mulai ditinggalkan.
Dimulai dengan proses pemurnian bahan-bahan pembantu, seperti alkohol, di laboratorium sendiri demi menekan biaya, mereka rencananya akan memproduksi 2 ton IPO. “Kenaikan harga bahan-bahan saat ini memang menyulitkan, tapi kami akan berusaha mencari pasar untuk IPO ini,” kata Agus. wuragil
Lentur tapi…
Phthalate atau phthalate ester memang jamak digunakan sebagai agen yang ditambahkan ke dalam plastik untuk menambah kelenturan. Biasanya phthalate digunakan untuk mengubah Polyvinyl Chloride (PVC) dari lembaran plastik keras menjadi plastik yang lemas.
Ketika ditambahkan ke dalam plastik, phthalate memungkinkan rantai molekul Polyvinyl yang panjang untuk saling tumpang-tindih satu sama lain. Phthalate membawa serta sifat-sifatnya yang sulit larut dalam air, tak mudah menguap, tapi mudah larut dalam minyak.
Menurut data pada 2004, setiap tahun ada 400 ribu ton phthalate yang diproduksi. Muncul pertama kali pada 1920-an, produksi senyawa ester ini mulai digenjot sejak ia “dikenalkan” dengan PVC pada 1950-an.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat pernah menyurvei bahwa urine kebanyakan warga di sana mengandung phthalate yang cukup tinggi. Dalam studinya terhadap tikus bahkan ditemukan bahwa kadar phthalate yang tinggi itu bisa merusak hati, testis, dan menyebabkan cacat bawaan.
Kesimpulan itu dikuatkan studi lainnya, seperti yang dilakukan di antaranya di Inggris, Swedia, Denmark, juga Amerika. Para ilmuwan itu mendapati tertekannya proses produksi hormon steroid, pembentukan alat kelamin yang abnormal, hubungan yang erat antara alergi pada anak dan senyawa phthalate, sampai resistensi terhadap insulin alias gejala diabetes.
Dalam riset terbaru yang dipublikasikan tahun ini juga mengingatkan bahaya sejenis pada produk untuk bayi, seperti lotion, bedak, dan sampo. Peringatan itu terkait dengan temuan konsentrasi phthalate dalam urine bayi yang semakin meningkat, diduga akibat pemaparan lewat kulit.
Meski kontroversial, phthalate masih saja banyak digunakan. Gadget iPhone dan iPod dari Apple Inc. serta beragam komputer personal (PC) adalah contoh aplikasinya yang terbaru.
Yang Beracun, yang Banyak Dicari
Efek negatif DOP atau senyawa phthalate lainnya menambah efek negatif yang sudah diciptakan Polyvinyl Chloride (PVC) sebagai bahan baku plastik. Agus mengungkapkan sebuah kasus di Jepang ketika ditemukan kandungan dioksin dalam produksi sayur-sayuran yang kebunnya terletak dekat sekali dengan tempat pembuangan akhir sampah.
Tidak sampai di situ saja, kadar senyawa aromatik dioksin yang biasa dilepaskan plastik PVC ketika diproduksi atau dibakar itu juga ditemukan dalam air susu ibu setempat. “Dioksin bisa menyebabkan kanker dan bisa mengancam sistem kekebalan tubuh, juga reproduksi,” Agus menjelaskan.
Seluruh siklus hidup plastik PVC memang sangat berbahaya, tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga tubuh manusia. Di rumah-rumah kita, plastik yang satu ini bisa menebarkan senyawa kimia lainnya yang tidak kalah beracun, seperti merkuri, yang terkait dengan sebab-sebab kanker dan cacat lahir.
Ironisnya, produksi PVC terus tinggi sejak 1950-1960. Ketika barisan produk lainnya dari sesama industri klorin (seperti PCB, CFC, dan pelarut terklorinasi) sudah “dicekal”, PVC masih berjaya. Bahkan industri lainnya malah memanfaatkan kelebihan bahan baku klorinnya untuk beralih ikut-ikutan memproduksi plastik ini.
Produksi plastik PVC meningkat, terutama di Asia dan Amerika Latin. Kini sebanyak 30 persen produksi klorin dunia digunakan untuk membuat PVC.
Akibatnya, laju PVC menggantikan fungsi berbagai material lain yang sebenarnya relatif lebih ramah, seperti gelas, logam, kertas, keramik, dan kayu, sulit dibendung. Pelanggan terbesarnya ada di sektor bangunan (kabel, rangka, pintu, dinding, panel, dan pipa) dan produk rumahan (lantai, kertas dinding, penyemu kaca jendela, dan tirai kamar mandi).
Ia bahkan merambah ke barang kebutuhan konsumsi, semisal kartu kredit, kaset, dan mainan. Itu semua belum termasuk barang-barang, misalnya, di kantor, dari furnitur sampai folder; di industri otomotif; dan di rumah sakit.
Sumber : Koran Tempo (23 Mei 2008); http://intra.lipi.go.id

Seperti diposting oleh hayat pada Senin 26 Mei 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=561