colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in Menuju Pertanian Modern

Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Beras Internasional (IRRI) membangun pusat pembibitan padi transgenik di Muara, Bogor, Jawa Barat. Proyek tersebut bertujuan untuk mengembangkan padi ciherang transgenik yang memiliki kandungan provitamin A sangat tinggi.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Suyamto, Rabu (24/3) di Manila, Filipina, mengungkapkan, dalam kerja sama itu Litbang Pertanian menyediakan tempat, tenaga peneliti yang akan dilatih, dan sharing pendanaan.

Adapun IRRI mendukung dana untuk pembelian satu set peralatan laboratorium transgenik dan operasionalisasi kegiatan serta padi transgenik golden rice asal AS yang akan ditransfer pada varietas ciherang. Selain dukungan tersebut, IRRI juga memberikan bantuan pembangunan unit rumah kaca dengan standar uji coba transgenik yang bagus. Dengan adanya rumah kaca, proses pemuliaan akan berlangsung baik karena tanaman yang dikembangkan di sana terisolasi.

”Kami memilih lokasi di Muara, Bogor karena bisa jauh dari Balai Besar Tanaman Padi di Subang, Jawa Barat, yang fokus melakukan kegiatan penelitian untuk tanaman padi varietas unggul. Bogor dipilih untuk mengantisipasi bila ada keberatan kalau pengembangan transgenik dekat dengan varietas yang sudah ada,” katanya.

Paling banyak dipakai

Pilihan varietas ciherang sebagai varietas yang akan menjadi sasaran transfer gen dari golden rice tak lain karena varietas ini paling banyak dipakai petani. Penggunaan benih padi varietas ciherang saat ini 30-40 persen dari total areal tanam 12,8 juta hektar, menggusur posisi IR-64 yang penggunaannya turun menjadi 15-30 persen.

Varietas ciherang juga sangat adaptif dengan iklim di Indonesia sehingga produktivitas padinya tinggi. Nantinya varietas padi ciherang ini akan disilangkan atau dikawinkan dengan padi transgenik golden rice IRRI.
Golden rice sendiri merupakan padi dengan ciri fisik berwarna keemasan dan mengandung vitamin A yang sangat tinggi.

Kepala Laboratorium Bioteknologi Beras IRRI sekaligus peneliti padi transgenik asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Inez H Slamet, menyatakan, IRRI juga melakukan kerja sama dengan Filipina dan Banglades. Anggaran yang dialokasikan untuk tiga negara sebesar 4 juta dollar AS.

Gerard Barry, program leader, IRRI Program 4 on Rice and Human Health Head, Intellectual Property Management Unit, menyatakan, kerja sama transfer padi golden rice asal AS ini juga dilakukan pada megavarietas padi IR-64 dan IR-36.

Inez mengungkapkan, kerja sama yang dilakukan IRRI dengan Balitbang Pertanian baru pada tahap penelitian dan pengembangan. Belum masuk pada tahap pelepasan varietas atau komersialisasi.

Saat ini IRRI sudah melakukan penyilangan golden rice dengan ciherang dalam lahan uji terbatas di markas IRRI di Los Banos, Filipina. Penyilangan sampai tiga kali, baru setelah itu golden rice ditransfer dengan padi ciherang di Indonesia. Nanti diharapkan bisa didapat padi transgenik golden rice ciherang. Memiliki kandungan vitamin A sesuai sifat induk golden rice IRRI, tetapi produktivitas dan daya tahan tanaman sesuai ciherang.

(Hermas E Prabowo dari Manila) http://cetak.kompas.com/

Seperti diposting oleh hayat pada Kamis 25 Maret 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2398

Siapa yang tak akrab dengan kantong-kantong plastik. Bahkan Agus Haryono, peneliti polimer di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tidak mampu benar-benar melepaskan diri darinya. Padahal Agus terhitung paham benar efek negatif plastik.
Plastik boleh jadi anak emas industri kimia sejak lebih dari setengah abad lalu. Disisipi plasticizer, Polyvinyl Chloride (PVC) yang identik dengan pipa serta bahan pengganti baja dan kayu dalam bidang konstruksi memang bisa melentur. Disisipi agen yang bisa membuatnya lentur, PVC bisa merambah kebutuhan bidang lainnya, seperti insulasi listrik, kemasan makanan, pakaian, dan medis.

Tapi di sinilah masalahnya. Agus menerangkan, beberapa penelitian membuktikan bahwa agen plasticizer yang jamak digunakan, yakni dioctyl phthalate (DOP), bisa memicu kanker dan beberapa kelainan hormon pada mencit. Bukan tidak mungkin terjadi pula pada manusia. “Sampai sekarang belum ada yang melarang (penggunaan plastik) mentang-mentang pengujian masih pada tikus,” kata Agus. “DOP masih menjadi bahan baku penting plastik karena murah.”
Agus menjelaskan, DOP adalah senyawa organik yang mudah larut dalam lemak, terutama pada suhu panas. Ini jelas berbahaya apabila plastik digunakan sebagai kemasan makanan. Adapun kantong-kantong darah dan cairan infus di bidang medis, misalnya, memang tidak melibatkan suhu hangat, tapi tetap saja ada risikonya. “Karena penggunaannya yang jangka panjang,” kata Agus.

Mulai 2004, Agus dan timnya mencoba mencari solusi alternatif untuk bahan baku plasticizer pengganti DOP. Pilihan jatuh pada senyawa turunan minyak sawit yang kalaupun terlarut akan tetap aman dikonsumsi tubuh. Yang penting, bahan tetap lentur dan mampu bertahan melawan panas.
Agus terinspirasi senyawa turunan minyak sawit itu oleh inovasi yang sudah lebih dulu dilakukan di Amerika Serikat yang memanfaatkan senyawa turunan minyak kedelai. “Kalau kedelai saja bisa, kenapa kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia tidak bisa,” begitu pemikiran doktor berusia 39 tahun itu.

Pada tahun itu pula Agus mulai meneliti 11 macam jenis senyawa turunan minyak sawit dalam berbagai kandungan asam lemak dan panjang rantai karbon. Ia menyeleksi untuk mendapatkan komposisi senyawa yang mampu mempertahankan sifat fisik plastik, seperti ketika menggunakan DOP.

Pada 2005, Agus dan kawan-kawannya berhasil mendapatkan tiga yang paling bagus. Satu di antaranya adalah senyawa IPO alias isopropyl oleate. Dari segi harga, IPO memang yang paling bisa menyaingi harga DOP. Sebagai perbandingan, DOP dijual Rp 2.200 per liter, sedangkan IPO Rp 3.500 per liter.
Tapi penggunaannya belum bisa menggantikan DOP sepenuhnya. “IPO paling optimal adalah sebanyak 40-60 persen,” katanya. “Kalau 100 persen, campuran masih keras seperti seng.”

Agus sebenarnya masih punya satu alternatif lainnya yang lebih ampuh ketimbang IPO, yakni IBO atau isobutyl oleate. Senyawa yang satu ini bisa menekan penggunaan DOP sampai tersisa 20 persen saja. “Tapi harganya lebih mahal,” ujarnya.

Karena alasan itulah Agus dan Pusat Penelitian Kimia LIPI tetap memilih IPO untuk disiapkan ke dalam proses produksi tahun ini juga. “Ini sudah yang terbaik,” katanya sepekan lalu sambil menambahkan bahwa kecenderungan saat ini di dunia ketika DOP sudah mulai ditinggalkan.
Dimulai dengan proses pemurnian bahan-bahan pembantu, seperti alkohol, di laboratorium sendiri demi menekan biaya, mereka rencananya akan memproduksi 2 ton IPO. “Kenaikan harga bahan-bahan saat ini memang menyulitkan, tapi kami akan berusaha mencari pasar untuk IPO ini,” kata Agus. wuragil

Lentur tapi…

Phthalate atau phthalate ester memang jamak digunakan sebagai agen yang ditambahkan ke dalam plastik untuk menambah kelenturan. Biasanya phthalate digunakan untuk mengubah Polyvinyl Chloride (PVC) dari lembaran plastik keras menjadi plastik yang lemas.
Ketika ditambahkan ke dalam plastik, phthalate memungkinkan rantai molekul Polyvinyl yang panjang untuk saling tumpang-tindih satu sama lain. Phthalate membawa serta sifat-sifatnya yang sulit larut dalam air, tak mudah menguap, tapi mudah larut dalam minyak.

Menurut data pada 2004, setiap tahun ada 400 ribu ton phthalate yang diproduksi. Muncul pertama kali pada 1920-an, produksi senyawa ester ini mulai digenjot sejak ia “dikenalkan” dengan PVC pada 1950-an.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat pernah menyurvei bahwa urine kebanyakan warga di sana mengandung phthalate yang cukup tinggi. Dalam studinya terhadap tikus bahkan ditemukan bahwa kadar phthalate yang tinggi itu bisa merusak hati, testis, dan menyebabkan cacat bawaan.

Kesimpulan itu dikuatkan studi lainnya, seperti yang dilakukan di antaranya di Inggris, Swedia, Denmark, juga Amerika. Para ilmuwan itu mendapati tertekannya proses produksi hormon steroid, pembentukan alat kelamin yang abnormal, hubungan yang erat antara alergi pada anak dan senyawa phthalate, sampai resistensi terhadap insulin alias gejala diabetes.
Dalam riset terbaru yang dipublikasikan tahun ini juga mengingatkan bahaya sejenis pada produk untuk bayi, seperti lotion, bedak, dan sampo. Peringatan itu terkait dengan temuan konsentrasi phthalate dalam urine bayi yang semakin meningkat, diduga akibat pemaparan lewat kulit.
Meski kontroversial, phthalate masih saja banyak digunakan. Gadget iPhone dan iPod dari Apple Inc. serta beragam komputer personal (PC) adalah contoh aplikasinya yang terbaru.

Yang Beracun, yang Banyak Dicari

Efek negatif DOP atau senyawa phthalate lainnya menambah efek negatif yang sudah diciptakan Polyvinyl Chloride (PVC) sebagai bahan baku plastik. Agus mengungkapkan sebuah kasus di Jepang ketika ditemukan kandungan dioksin dalam produksi sayur-sayuran yang kebunnya terletak dekat sekali dengan tempat pembuangan akhir sampah.
Tidak sampai di situ saja, kadar senyawa aromatik dioksin yang biasa dilepaskan plastik PVC ketika diproduksi atau dibakar itu juga ditemukan dalam air susu ibu setempat. “Dioksin bisa menyebabkan kanker dan bisa mengancam sistem kekebalan tubuh, juga reproduksi,” Agus menjelaskan.

Seluruh siklus hidup plastik PVC memang sangat berbahaya, tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga tubuh manusia. Di rumah-rumah kita, plastik yang satu ini bisa menebarkan senyawa kimia lainnya yang tidak kalah beracun, seperti merkuri, yang terkait dengan sebab-sebab kanker dan cacat lahir.
Ironisnya, produksi PVC terus tinggi sejak 1950-1960. Ketika barisan produk lainnya dari sesama industri klorin (seperti PCB, CFC, dan pelarut terklorinasi) sudah “dicekal”, PVC masih berjaya. Bahkan industri lainnya malah memanfaatkan kelebihan bahan baku klorinnya untuk beralih ikut-ikutan memproduksi plastik ini.

Produksi plastik PVC meningkat, terutama di Asia dan Amerika Latin. Kini sebanyak 30 persen produksi klorin dunia digunakan untuk membuat PVC.
Akibatnya, laju PVC menggantikan fungsi berbagai material lain yang sebenarnya relatif lebih ramah, seperti gelas, logam, kertas, keramik, dan kayu, sulit dibendung. Pelanggan terbesarnya ada di sektor bangunan (kabel, rangka, pintu, dinding, panel, dan pipa) dan produk rumahan (lantai, kertas dinding, penyemu kaca jendela, dan tirai kamar mandi).
Ia bahkan merambah ke barang kebutuhan konsumsi, semisal kartu kredit, kaset, dan mainan. Itu semua belum termasuk barang-barang, misalnya, di kantor, dari furnitur sampai folder; di industri otomotif; dan di rumah sakit.

Sumber : Koran Tempo (23 Mei 2008); http://intra.lipi.go.id

Seperti diposting oleh hayat pada Senin 26 Mei 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=561

Kenaikan harga minyak dunia mendorong sejumlah pihak mengusulkan harga BBM dalam negeri dinaikkan. Alasannya, jika tidak dinaikkan, beban subsidi APBN kian parah. Saat ini saja, beban APBN untuk subsidi BBM mencapai Rp 200 triliun atau seperlima dari produk domestik bruto (PDB).
Sebaliknya, kenaikan harga BBM berdampak inflasi sebab akan menaikkan ongkos produksi yang berefek kenaikan harga barang (cost push inflation). Karena itu, memutuskan untuk menaikkan harga BBM bukan perkara mudah. Adakah pilihan lain?

Pilihan termudah, mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga. Namun, pilihan ini berdampak inflasi dan pengangguran. Dampak non-ekonomi, hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah sebab pernah dijanjikan harga BBM tidak akan naik hingga tahun 2009.

Berdasar fakta dan argumentasi tersebut, ada lima usulan yang bisa diperhatikan.
Pertama, dengan menghemat anggaran pengeluaran APBN 2008. Penghematan itu dapat berupa potongan atau penghilangan sementara pos anggaran yang tidak mengikat, misalnya penghilangan pos pembelian alat atau bahan nonproduktif atau pembangunan infrastruktur yang dapat ditunda. Konkretnya, kebijakan efisiensi melalui pemotongan anggaran 15 persen yang pada awal tahun ini direncanakan seyogianya dijalankan.
Kedua, upaya pemerintah melakukan mobilitas dana investasi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi selektif terhadap pos penerimaan baik pajak maupun nonpajak. Selektivitas yang dimaksud dalam pelaksanaan kebijakan fiskal ini adalah jangan sampai kebijakan itu menimbulkan efek pengurangan konsumsi, investasi, dan ekspor. Salah satu contoh yang dapat dilakukan adalah peningkatan pajak barang mewah, seperti kendaraan bermotor dan sejenis lainnya.
Ketiga, peningkatan volume produksi komoditas ekspor yang tak bersentuhan langsung dengan penggunaan BBM dalam proses produksi. Kelompok komoditas ekspor itu terutama komoditas pertanian pangan ataupun bahan pertambangan. Pilihan ini didasarkan pertimbangan harga komoditas itu (khususnya pangan) relatif tinggi saat ini akibat tingginya permintaan maupun keterbatasan pasokan di lingkup global. Komoditas pertanian dimaksud antara lain beras, jagung, minyak sawit, karet, dan cokleat.
Keempat, pemerintah harus mendorong sektor nontradeables, khususnya sektor jasa pariwisata. Alasannya, hal ini belum optimal dikembangkan, padahal potensinya besar. Untuk itu, pengalaman pengembangan sektor pariwisata di berbagai, negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, China, dan Malaysia, patut dijadikan pelajaran penting guna menjungkit sektor pariwisata nasional kini dan mendatang.
Kelima, melalui kebijakan penghematan penggunaan energi BBM, khususnya BBM pada sektor kelistrikan. Dalam hal ini, penggunaan BBM untuk listrik harus disubstitusi, khususnya dengan batu bara atau gas alam.

Pilihan terhadap dua sumber energi itu karena pasokan keduanya relatif dapat diakses secara mudah dan dapat dilakukan segera. Dalam jangka panjang, penting dipikirkan energi baru dan terbarukan seperti diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006.
Kelima pilihan itu merupakan contoh dari kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah sebagai pengganti kebijakan menaikkan harga BBM. Optimalisasi kelima kebijakan itu rasanya lebih penting dan genting kita upayakan dalam menyikapi kenaikan harga BBM sampai 2009. Hal ini karena ongkos sosial, ekonomi, dan politik kebijakan kenaikan harga BBM dipastikan lebih besar dibandingkan ongkos yang harus ditanggung dalam mengefektifkan dan mengoptimalkan kelima kebijakan itu.

Bukan saatnya lagi kita mendorong pemerintah ingkar janji jika masih ada pilihan lain. Karena itu, janji pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM hingga 2009 patut didukung.

Penulis : Carunia Mulya Firdausy (Deputi Menneg Ristek Bidang Dinamika Masyarakat, Peneliti P2 Ekonomi LIPI)
Sumber : Kompas (5 Mei 2008)

Seperti diposting oleh hayat pada Senin 05 Mei 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=470

Meroketnya harga pangan dunia, khususnya beras, seharusnya bisa menghantarkan petani memasuki taraf kehidupan yang lebih baik. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Petani tak bisa menikmati kenaikan harga beras. Ini terjadi karena nilai tukar gabah petani sangat jauh berbeda bila disandingkan dengan harga jual barang barang konsumsi lainnya, apalagi barang non barang konsumsi. Petani padi memang akan terkena dampak paling besar saat inflasi membumbung tinggi.

Untuk itu, sebaiknya pemerintah perlu menyeimbangkan kebijakan antara menjaga harga pangan biar tidak mahal dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani padi secara nyata. Kalau pemerintah tidak bisa menjalankan itu, maka meroketnya harga beras tetap tidak dapat meningkatkan kesejahteraan petani padi.

Dengan adanya panen raya padi sekarang ini, pemerintah tak perlu khawatir akan kekurangan beras hingga tiga sampai empat bulan kedepan. Karena apa, ketersediaan stok beras dalam negeri masih jauh dari batas defisit atau kurang.

Tapi untuk tetap menjaga agar stok beras di dalam negeri aman untuk kebutuhan ke depan sebenarnya sah-sah saja bila pemerintah melaku kan impor beras. Hanya saja, impor beras jangan lebih dari 10 persen atas produksi beras dalam negeri. Selain itu, kalau lebih dari 10 persen pemerintah tak bisa lagi mengklaim telah melakukan swasembada beras pada tahun ini.

Maxensius Tri Sambodo, (Ekonom Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI)
Sumber : http://intra.lipi.go.id

Seperti diposting oleh hayat pada Senin 28 April 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=441

Pemerintah mewaspadai kemungkinan terjadinya lonjakan harga pangan di dalam negeri menyusul kembali meroketnya harga minyak mentah dunia yang sudah mendekati level US$120 per barel. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah sudah melaksanakan kebijakan stabilisasi harga yang diluncurkan pada Februari yang lalu ketika harga pangan melambung tinggi mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia.
“Pemerintah terus mewaspadai dan telah melaksanakan kebijakan stabilisasi harga pangan yang sudah diluncurkan pemerintah,” katanya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di dalam negeri mengalami kenaikan mengikuti lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak goreng curah dan terigu tercatat mengalami lonjakan yang paling tinggi. Harga tertinggi minyak goreng mencapai Rp14.000 per kg terdapat di Jayapura dan Maluku Utara, sedangkan harga terendah Rp9.850 per kg di Banten.
Harga rata-rata nasional minyak goreng curah tercatat Rp11.533 per kg, padahal pada minggu kedua dan ketiga bulan ini sudah memperlihatkan tren penurunan menuju level Rp11.214 per kg jika dibandingkan Maret Rp12.437 per kg.
Harga minyak goreng curah & tepung terigu (Rp/per kg) Migor curah Terigu Jan. 10.147 6.759 Feb. 10.709 7.291 Mar. 12.437 7.518 April Minggu I 11.544 7.589 Minggu II 11.214 7.586 Minggu III 11.336 7.651
Kenaikan harga tepung terigu memengaruhi harga mi instan di pasar-pasar domestik. Buktinya, jika pada minggu pertama bulan ini baru Rp1.214 per bungkus, kemarin mengalami kenaikan menjadi Rp1.243 per bungkus.

Kebijakan baru
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adam Latif menilai paket kebijakan stabilisasi harga yang diluncurkan pemerintah pada Februari lalu tidak mampu meredam harga pangan domestik, buktinya harga pangan masih meroket.
Menurut dia, perlu ada kebijakan baru yang diarahkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat “Kebijakan tersebut dirumuskan kembali dengan mempertimbangkan karakteristik komoditasnya serta mengevaluasi program subsidi,” katanya.
Dia menjelaskan program stabilisasi harga yang dilaksanakan pemerintah saat ini tidak mampu meningkatkan daya beli masyarakat. “Contohnya program subsidi minyak goreng untuk 19,1 juta rumah tangga miskin. Realisasinya tidak optimal.”

dikutip dari INTRA LIPI (http://intra.lipi.go.id)

Seperti diposting oleh hayat pada Senin 28 Apr 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=440

disadur dari: http://www.beritaiptek.com/

Mungkin sulit dibayangkan jika nata de coco yang biasa kita makan, suatu saat muncul di hadapan kita dalam bentuk layar televisi atau monitor komputer. Tapi para ilmuwan dari Kyoto University telah menemukan bahwa ternyata nata de coco dapat diolah menjadi material baru yang sangat kuat dan tahan panas, tetapi sekaligus lentur, dan mampu mentransmisikan cahaya. Salah satu produk yang mungkin dihasilkan dari nata de coco adalah layar monitor. Tidak percaya?

Nata de coco selama ini memang dikenal sebagai makanan yang sangat digemari masyarakat. Selain murah dan gampang dibuat, ternyata kandungan seratnya bisa memperlancar saluran pencernaan. Pembuatannya hanya melalui proses fermentasi air kelapa dengan menggunakan bakteri jenis Acetobacter xylinum. Jadi, tidak terbayangkan sebelumnya jika makanan yang begitu sederhana bisa diolah menjadi bahan baku industri yang lain.

Menurut para peneliti dari Lab of Active Bio-based Material-Kyoto University, nata de coco dapat dijadikan komposit yang sangat kuat dengan teknik pengolahan yang cukup sederhana. Lembar nata de coco yang sudah dihilangkan airnya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam perekat polifenol formaldehid dengan berat molekul rendah. Setelah melalui proses pengeringan kemudian dipres panas pada suhu 180ºC selama 10 menit sehingga akan dihasilkan komposit yang sangat kuat.

Material komposit tersebut mempunyai keteguhan patah (bending strength) 450 MPa, dengan kerapatan 1.4 g/cm3. Kekuatan ini lebih baik bila kita bandingkan dengan kekuatan baja campuran (Mg alloy AZ-91) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 370 Mpa (kerapatan 1.8 g/cm3). Bahkan kekuatan komposit tersebut dapat disetarakan dengan kekuatan baja ringan SS400 (kerapatan 0.8 g/cm3) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 500 MPa.

Komposit nata de coco bisa memiliki kekuatan yang sangat baik karena nata de coco memiliki microfibrils yang seragam dengan ukuran fiber kurang dari 10 nm, lurus serta membentuk jaringan seperti jaring laba-laba. Kekuatan jaringan inilah yang menjadikan komposit nata de coco mendekati kekuatan baja ringan namun dengan kerapatan yang jauh lebih rendah bila dibandingkan baja ringan. Keunggulan tersebut memungkinkan komposit nata de coco untuk dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi seperti industri otomotif, elektronik, maupun konstruksi. Selain keunggulannya yang ringan, kuat, murah dan mudah dalam proses pembuatannya, keunggulan lainnya adalah komposit tersebut dibuat dari bahan alami (renewable resources) yang ketersediaannya di alam sangat melimpah.

Tidak hanya sampai di situ, komposit nata de coco bahkan memiliki sifat transmitter cahaya seperti kaca. Berdasarkan penemuan mutakhir dari para peneliti Kyoto University, ukuran fiber dari nata de coco yang berskala nano, memungkinkannya untuk mentransmisikan cahaya tanpa pembelokan. Sifatnya nyaris seperti kaca dengan keunggulan lebih tahan terhadap panas dan memiliki kelenturan seperti plastik. Hal ini menjadikan komposit nata de coco sebagai material impian dengan berbagai keunggulan.

Prinsip pembuatannya cukup sederhana, lapisan nata de coco dihilangkan airnya sehingga berbentuk lembaran seperti kertas. Setelah dikeringkan menggunakan vacuum oven, lembaran tersebut masih belum transparan karena masih mengandung rongga udara, sifat transparan dihasilkan setelah rongga udara diisi oleh senyawa resin yang mempunyai sifat transparan seperti resin akrilik. Selanjutnya dilakukan pematangan dengan menggunakan sinar UV, sehingga dihasilkan lembaran yang transparan.

Dengan berbagai sifat yang unggul seperti transparan, ringan, fleksible dan mudah dibentuk menjadikan komposit berbahan dasar nata de coco mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai layar monitor, kaca jendela mobil ataupun jendela kereta api. Di Jepang sendiri, saat ini pemanfaatan komposit tersebut sedang diaplikasikan dalam skala industri bekerjasama dengan pihak swasta. Diharapkan dalam waktu dekat, kita bisa menikmati layar monitor komputer yang lentur seperti plastik namun tahan panas seperti gelas. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kita akan memakai kacamata yang terbuat dari komposit nata de coco apabila komposit tersebut dikembangkan untuk alat optik.

Lalu bagaimana dengan pengembangan dan pemanfaatannya di Indonesia? Sebenarnya Indonesia dapat dikatakan sangat diuntungkan dengan melimpahnya ketersediaan nata de coco. Produksinya bersifat ramah lingkungan dan menguntungkan banyak rakyat kecil karena bisa dikerjakan dalam skala home industri. Pengembangan teknologi industri berbahan dasar nata de coco di Indonesia bisa jadi memiliki prospek cerah mengingat industri elektronik dan otomotif di Jepang mampu menyerap hasilnya.

Jepang, walaupun tidak memiliki sumber daya alam yang besar seperti Indonesia dan hanya mengimpor nata de coco dari Filipina, namun mampu mengembangkan nata de coco menjadi material yang prospektif dengan kemungkinan aplikasi yang luas. Jika teknologi ini bisa dikembangkan di Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia akan dapat menjadi penyedia komposit ini untuk berbagai aplikasi.

Seperti diposting oleh hayat pada Rabu 17 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1211

Muslimin Nasution (Ketua Presidium ICMI), selasa, 27 Oktober 2009

”Apa yang hendak saya katakan ini adalah amat penting,” ujar presiden Soekarno dalam pidato peletakan batu pertama pembangunan Fakultas Pertanian UI yang kemudian menjadi Institut Pertanian Bogor. ”Oleh karena soal yang hendak saya bicarakan itu mengenai soal persediaan makanan rakyat, camkan. Sekali lagi, camkan. Kalau kita tidak aanpakken soal makanan rakyat ini secara besar-besaran, secara radikal, dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka.”
Sesuai dengan pesannya, pidato ini sendiri diberi judul ‘Soal Hidup atau Mati’.

Kekhawatiran presiden Soekarno didasari terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pangan beras Indonesia saat itu. Presiden Soekarno kemudian menyampaikan gagasan, detail, dan lengkap dengan angka-angka, bagaimana cara menambah persediaan makanan rakyat dengan meningkatkan produksi dalam negeri. Presiden Soekarno sedikit pun tidak menawarkan opsi impor. Logikanya, bagaimana mungkin kita akan menyerahkan hidup mati kita kepada bangsa lain?

Saat ini, RI telah masuk jebakan impor pangan. Setiap tahun, lebih dari 5 miliar dolar AS atau setara Rp 50 triliun lebih devisa habis untuk mengimpor pangan, mulai dari gandum, kedelai, jagung, daging, telur, susu, sayuran, dan buah-buahan, bahkan garam yang kebutuhannya masih dapat dipenuhi oleh produsen garam lokal juga diimpor dengan nilai Rp 900 miliar. Begitu dahsyatnya ketergantungan kita kepada pangan impor, sampai-sampai pada tahun ini pernah ada rencana untuk melakukan impor daging dari Brasil dan India, dua negara yang jelas-jelas tidak bebas dari penyakit mulut dan kuku.

Tulisan ini sengaja mengambil judul dari judul pidato presiden Soekarno. Mudah-mudahan bisa mengingatkan kita semua bahwa sungguh memprihatinkan, ternyata kita tenggelam dalam masalah yang telah diingatkan sejak puluhan tahun lalu.

Dilihat dari sisi agroekologis, nyaris semua komoditas yang diimpor itu sesungguhnya dapat diproduksi di dalam negeri. Hanya gandum yang tidak bisa dibudidayakan secara meluas di sini, dengan catatan, gandum pun terbukti dapat disubstitusi sebagian atau seluruhnya dengan tepung lokal. Lahan, teknologi, modal, dan tenaga kerja untuk memproduksi pangan itu juga semuanya kita miliki. Lalu, mengapa masih mengimpor? Jawabnya, karena kita belum mempunyai kebijakan yang berpihak kepada penggunaan pangan lokal.

Dalam masalah keberpihakan ini, kita kalah dengan negara lain. Dibandingkan Nigeria, misalnya. Sewaktu terjadi lonjakan harga gandum dunia beberapa tahun lalu, presiden Nigeria mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan industri produsen terigu lokal mencampur 10 persen terigu dengan tepung ubi kayu. Nigeria adalah salah satu negara produsen utama ubi kayu di Afrika. Adanya kebijakan ini otomatis menciptakan captive market sebesar 200 ribu ton tepung ubi kayu lokal setiap tahunnya.

Di India, tak ada setetes susu impor pun yang boleh masuk ke negara itu tanpa seizin koperasi produsen susu di sana. Dengan kata lain, tanpa persetujuan para peternak lokal, tidak ada susu luar yang bisa dijual di India. Di Thailand, tidak ada produk pangan impor yang bisa masuk jika produk itu bisa diproduksi secara lokal. Raja Bhumibol sendiri yang akan turun tangan untuk membela produk negerinya ketika ada ancaman.

Jadi, solusinya cukup sederhana. Buatlah kebijakan yang mewajibkan penggunaan produk pangan dalam negeri untuk produk yang memang bisa dihasilkan di dalam negeri. Kemudian, diikuti dengan berbagai kebijakan pendukungnya, seperti kebijakan kredit yang disesuaikan dengan kondisi usaha pertanian, kebijakan jaminan pasar dan jaminan harga, kebijakan bantuan teknologi, dan kebijakan prorakyat sejenis.

Persoalannya, ketika kebijakan untuk mewajibkan penggunaan pangan lokal ini muncul, kebijakan ini akan dianggap bertentangan dengan konsep pasar bebas yang diusung kaum ekonom neoliberal. Padahal, kaum ekonom neoliberal sangat kuat pengaruhnya di pemerintahan. Ketika terjadi krisis beras tahun 2007 lalu, penulis pernah menawarkan program diversivikasi pangan untuk menggantikan impor kepada seorang tokoh kunci pengambil kebijakan ekonomi di pemerintahan. Tanggapan tokoh itu, selagi kita punya uang, mengapa kita tidak membelinya dari luar? Jika membeli dari luar lebih murah, mengapa harus susah-susah memproduksinya di dalam negeri yang jelas-jelas jika ini dilakukan merupakan tindakan yang tidak efisien?

Di sisi lain, kebijakan ini juga akan merugikan pihak-pihak tertentu. Pertama, negara eksportir pangan. Misalnya, jika kita menghentikan impor kedelai dan menggantinya dengan kedelai lokal, kita akan berhadapan dengan aksi negara-negara besar semacam AS. Beranikah pemerintah menghadapi respons balik dari mereka?

Kedua, importir lokal yang akan kehilangan sumber bisnisnya. Importir lokal ini adalah kelompok ‘kuat’ karena menguasai akses teknologi, permodalan, jaringan pasar, dan pembuat kebijakan sehingga oleh Amy Chua, pengarang buku terkenal World on Fire, disebut market dominant.

Di Indonesia, bisnis impor pangan dikuasai oleh market dominant itu. Sebagai gambaran, bisnis impor kedelai dikuasai hanya oleh lima perusahaan. Impor terigu dan jaringan pemasarannya dikuasai sebuah perusahaan. Demikian pula impor ubi kayu dan tapioka, penguasanya adalah sebuah perusahaan saja. Bisnis impor pangan lain, seperti jagung, gula, hingga garam, yang bermain juga hanya segelintir perusahaan.

Tentu saja, kebijakan impor pangan akan memperlemah kemampuan produksi pangan lokal. Produk-produk pangan dalam negeri yang dihasilkan oleh para petani harus bertarung sendirian dengan produk pangan impor yang bersubsidi besar. Siapakah yang akan menjadi pemenang dalam persaingan ini? Apakah para petani Indonesia yang saat ini hampir kehilangan segala bentuk subsidi dan insentif atau para petani dari negara-negara pengekspor pangan atau petani di negara industri yang didukung dengan subsidi berjumlah 300 miliar dolar AS?

Jawabannya sungguh jelas. Kalau diteruskan, kita tinggal menunggu malapetaka datang. Mudah-mudahan, kita tersadar dan segera kembali ke jalan yang benar.

Tantangan-tantangan yang akan dihadapi ketika kita memutuskan bebas dari ketergantungan impor pangan memang sungguh berat. Namun, itu bisa diatasi jika pemerintah bersedia dan berani memutus ketergantungan itu. Kebijakan pemerintah-lah yang menyebabkan terigu mampu menjadi komoditas pangan utama di negeri kita. Kebijakan pemerintah pula yang menyebabkan beras dapat menggantikan jagung, sagu, dan ubi kayu sebagai satu-satunya sumber karbohidrat rakyat. Jadi, kebijakan pemerintah bisa mengubah keadaan, bahkan mengubahnya secara drastis. Belum terlambat jika pemerintah mau mengeluarkan kebijakan yang bermanfaat, yang menyelamatkan kelangsungan hidup rakyatnya sendiri. Semoga presiden dan kabinet yang baru dapat memimpin rakyat melepaskan diri dari ketergantungan pangan untuk kemudian hidup sentosa dalam kemerdekaan pangan yang abadi.

http://www.republik a.co.id/

Seperti diposting oleh hayat pada Rabu 28 Okt 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2205

Kamis, 22 Oktober 2009, Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono melantik 36 menteri dan pejabat setingkat menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, termasuk jabatan menteri pertanian. Resmi sudah Ir. H. Suswono, MMA menjabat Menteri Pertanian Republik Indonesia untuk periode 2009–2014. Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menggantikan Dr. Ir. H. Anton Apriyantono, MS.

Suswono sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi masalah pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, kelautan, dan pangan. Posisi tersebut dijabatnya selama lima tahun sejak tahun 2004 (antara.co.id) . Selain itu, Suswono pun pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri Kehutanan tahun 1999–2001 (wikipedia.org).

Bidang pertanian bukanlah hal yang baru baginya. Lulus Program S1 Sosial Ekonomi Peternakan IPB (1984), pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah 20 April 1959 ini, melanjutkan pendidikannya di Magister Manajemen Agribisnis IPB dan lulus pada tahun 2004. Kini, Suswono sedang dalam proses menyelesaikan Program Doktoral Manajemen Bisnis di IPB (kandidat doktor).

Menyinggung program pertanian ke depan, Suswono menyatakan telah menetapkan visinya. “Saya telah merumuskan konsep pemikiran sebagai visi pertanian lima tahun ke depan yaitu `Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Nilai Tambah, Daya Saing Ekspor dan Kesejahteraan Petani`,” katanya, seperti diungkapkan pada wartawan antaranews.com.

Visi tersebut menyeleraskan harapan Presiden SBY saat memanggil Suswono untuk uji kelayakan di Cikeas, Senin, 19 Oktober yang lalu, dimana SBY berharap Departemen Pertanian mampu mewujudkan kemandirian pangan dengan meningkatkan produksi beras dan kesejahteraan petani.

Pada kesempatan yang sama, Presiden SBY memberikan 10 arahan soal pertanian. Seperti yang diungkapkan Suswono pada wartawan detik.com (20/10/2009), ke sepuluh arahan Presiden tersebut adalah : 1) Ketahanan Pangan; 2) Kemandirian Pangan di tiap daerah; 3) Produktivitas Hasil Pertanian; 4) Keterpaduan Antar Sektor; 5) Kesejahteraan Petani; 6) Subsidi Tepat dan Ideal; 7) Ekspor Impor yang Adil; Peningkatan Produksi Peternakan; 9) Peningkatan Kerjasama Negara-negara Sahabat; dan 10) Pemberantasan KKN. (id.yahoo.com)

Kini Suswono telah menjadi nahkoda baru Departemen Pertanian. Jalan panjang telah membentang ke depan. Selamat Datang, Selamat Bekerja, Bapak Suswono, Menteri Pertanian RI 2009-2014!
Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Bapak Anton Apriyantono atas karya baktinya di Departemen Pertanian periode 2004-2009.

Sumber : diolah dari berbagai media

Seperti diposting oleh nonon pada Rabu 28 Okt 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2206

Menteri pertanian Anton Apriyantono (2008) mengemukakan bahwa krisis pangan yang berpotensi menimbulkan krisis sosial dapat meledak setiap saat, hal tersebut dapat diatasi dengan teknologi pertanian yang modern.
Sehubungan dengan usaha Penghidupan Kembali SPMA Bogor yang berstandard Internasional, maka Pertanian berbasis Bioteknologi sangat perlu diterapkan dalam kurikulum pengajaran dan pelajaran di sekolah ini. Hal ini tidak mustahil, karena pertanian dewasa ini berkembang sangat pesat seiring dengan berkembangnya teknologi. Disampin hal tersebut perhatian terhadap penggunaan bioteknologi merupakan alternative pemecahan masalah pangan

SPMA Bogor sebagai sekolah pertanian merupakan sekolah yang akan mencetak dan menghasilkan insan insan yang bergerak dan berkarya di bidang pertanian. Jadi sudah sejogyanya sekolah ini tidak hanya memberikan pelajaran pertanian yang konvensional, tetapi pertanian dengan sistem modern atau inkonvensional sangat perlu dimasukan dalam kurikulum pelajaran. Karena saat ini tidak hanya sistem pertanian yang konvensional saja yang dibutuhkan dalam pengembangan pertanian. Bioteknologi sebagai sistem pertanian yang modern juga dapat diterapkan dalam sistem pra panen, budidaya dan pengolahan hasil.

Saat ini banyak usaha agribisnis yang sudah menerapkan sistem usahataninya secara modern seperti penggunaan kultur jaringan untuk menghasilkan tanaman tanaman yang berkualitas seperti bibit yang tumbuh seragam, bebas hama penyakit dan dihasilkan dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang singkat. Penggunaan pupuk hayati (biofertilizer) juga merupakan terobosan bioteknologi untuk menghasilkan pupuk atau unsur hara dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti rhizobium.

Memang tidak mudah menerapkan bioteknologi di sekolah pertanian ini, karena selain diperlukan peralatan dan fasilitas lainnya yang menunjang kegiatan, juga ketersediaan pengajar yang pakar bergerak di bidang ini adalah penting. Akan tetapi permasalah tersebut dapat diatasi dengan cara bekerjasama antara sekolah dengan instasi instasi baik pemerintah maupun swasta yang memang sudah menerapkan sistem bioteknologi terlebih dahulu. Banyak juga lulusan SPMA BOGOR yang saat ini bekerja di bidang bioteknologi baik tanaman maupun peternakan yang dapat dihubungi untuk memberikan ilmu yang telah diperolehnya sebagai sumbangsih terhadap almamaternya.

Dengan diterapkannya mata pelajaran bioteknologi di sekolah pertanian, maka akan menghasilkan lulusan lulusan yang dapat bersaing di dunia agribisnis yang sudah menggunakan sistem pertanian yang berbasis bioteknologi.

Seperti diposting oleh nina solvia pada Minggu 27 Juli 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=867

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas pertanian yang tidak kalah pentingnya dengan tanaman pangan maupun tanaman industri. Umumnya tanaman hias yang dikenal adalah tanaman hias berbunga indah, akan tetapi banyak tanaman hias berdaun indah dan berbatang indah. Tidak seperti tanaman pangan dan tanaman industri yang akan bersifat unggul karena disukai rasanya yang enak dan produksinya yang tinggi. Tanaman hias bersifat fasionable, disukai karena keindahannya dan keharuman aromanya. Konsumen tanaman hias beragam tergantung pada selera masing masing. Ada yang menyukai bunga dengan ukuran besar, tapi juga ada yang menyukai ukuran sedang dan kecil. Begitu pula dengan bentuk bunga dan warna bunga yang sangat bervariasi. Jadi kalo konsumen tanaman pangan dan tanaman industri itu umumnya homogen, sedangkan konsumen tanaman hias sangat heterogen.
Ada istilah katakanlah dengan bunga. itu istilah bukan hanya sekedar omongan, cobalah anda kenali tanaman hias, maka anda akan merasa tentram. Dengan mengenal tanaman hias, maka sensiitifitas dan romantis kita akan muncul.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Banyak genus dan species tanaman hias yang tumbuh di nusantara ini. Kita mengenal beribu-ribu jenis dan kultivar anggrek, ada puluhan bahkan ratusan kultivar anthurium, krisan, mawar, gladiol, anyelir, lili dan lain-lain.

Akhir akhir ini perkembangan tanaman hias semakin meningkat. Tingginya minat masyarakat terhadap kebutuhan keindahan dan kecantikan lingkungan menyebabkan permintaan komoditas ini semakin meningkat. Oleh karena itu perlu usaha pengembangannya yang tepat sasaran dan tepat guna agar dapat menunjang hasil yang maksimal.

Banyak pengusaha tanaman hias yang berhasi dan sukses dalam mengembangkan usahanya, tetapi tidak sedikit petani tanaman hias yang masih stagnan dan belum mampu berkembang ke arah yang lebih baik. Hal ini disebabkan kurang informasi mutakhir mengenai teknologi budidaya maupun pemanfaatan produk produk yang bermutu.

Pada saat ini telah banyak dihasilkan produk produk tanaman hias yang bermutu, baik dalam bentuk benih maupun tanaman induk. Begitu pula sudah ada teknologi budidaya mutakhir yang dapat diterapkan pada setiap jenis tanaman yang diusahakan.

Untuk produk produk tertentu harga jual tanaman hias memang relatif mahal, tetapi ada beberapa jenis tanaman hias dengan harga yang dapat dijangkau oleh semua masyarakat. Harga yang tinggi maupun rendah tidak menentukan nilai estetika tanaman tersebut. Yang pasti bunga “NOVELTY” mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Seperti diposting oleh nina solvia pada Rabu 13 Feb 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=104