colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in Kisah-Kisah Inspiratif

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang bijaksana. Pemuda tersebut merasakan hatinya sering gelisah, panik, stress, dan mudah tersinggung sehingga hal itu menyebabkannya selalu berada dalam medan konflik. Untuk itulah ia datang untuk meminta nasehat sang kakek. Kakek itu pun dengan sangat antusias menerima dan mempersilahkannya untuk masuk. Kemudian pemuda itu menceritakan seluruh keluh kesahnya. Sementara sang kakek mendengarkan dengan seksama. Setelah selesai, kakek itu masuk ke dalam rumah kemudian keluar dengan membawa segelas air putih.

“Silahkan diminum,” kata sang kakek.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika ia meminum air yang dihidangkan oleh kakek itu. “Ah… air apa ini kek? Kenapa rasanya asin sekali. Aku belum pernah minum air se-asin ini”.

Sang kakek hanya tersenyum, kemudian mengajak pemuda tersebut ke halaman belakang rumahnya yang luas. Di sana terdapat sebuah danau kecil yang airnya bening bersih. Terlihat pula seekor angsa berenang kian kemari. Sang kakek kemudian mendekati pinggir danau dan menaburkan segenggam garam ke seluruh danau sambil menyuruh pemuda itu minum air danau. Tentu saja pemuda itu merasakan air danau yang segar, sejuk dan jernih.

Sang kakek berkata, “Perumpamaan gelas dan danau ini adalah seperti hati kita, dan garam sebagai permasalahannya. Terkadang bukan banyaknya masalah yang membuat hati resah, gelisah, dan lainnya. Tetapi karena kita tidak pandai melapangkan dada kita. Segenggam garam ternyata jadi sangat asin dan tidak enak apabila ditaruh pada segelas air. Namun segenggam garam tidak berarti apa-apa apabila kita memiliki hati seluas danau atau lebih luas dari itu”.

Cerita di atas sangat menarik untuk disimak dan diresapi karena begitu mudahnya penyakit hati tumbuh berkembang di hati kita. Beratnya masalah tidak mempengaruhi kesehatan hati kalau kita bisa berlapang dada. Orang-orang yang sempit dada (hati), pasti akan merasakan hidup ini sumpek dan berat. Hati adalah hal yang paling penting dari diri manusia. Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, hati adalah raja, dan anggota tubuh lain prajuritnya. Bahkan diterima atau tidaknya amal seorang anak manusia, tergantung dari hatinya. Allah mengingatkan kita mengenai pentingnya mengelola hati dengan menyuruh kita untuk tidak bersu’udzon karena sebagian darinya adalah dusta. semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Seperti diposting oleh nina solvia pada Minggu 06 Juni 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2489

Empati

No comments

By: Andy F. Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan. Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa. Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan. Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.

Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun. Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran. Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.

Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar. Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu.

Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata “terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut. Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.

Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet. Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.

Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.

Seperti diposting oleh hayat pada Rabu 10 Feb 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2328

Selain di kantor, saya sering membina petani di pelosok ujung desa sana (desa dengan kategori miskin dan rawan pangan), jadi jangan bayangin ada bioskop di sana, pasar aja bukanya seminggu 2 x.
Suatu ketika setelah ngasih sedikit penyuluhan, kita mau ninjau ke lapangan. Jalan yang kita tempuh berbatu terjal dengan kiri kanan hutan pinus yang indah, namanya udah nyemplung kesana.. ya lebih baik sayakmati aja…

Walau lokasinya seperti itu, tapi yang menarik adalah penduduknya yang ramah dan rajin.
Setelah sampai di lokasi hujan turun deras banget, bingung… mau pulang, supir gak berani karena jalan licin, mau diterusin obyek kunjungan sulit dijangkau, akhirnya kita putuskan bernaung sejenak di salah satu rumah penduduk.
Sambutan tuan rumah sangat baik, selain diberi tikar untuk duduk, nyonya rumah juga langsung ke dapur kelihatan sibuk menyiapkan sesuatu. Ternyata penghuni rumah sangat..sangat…sederhana itu cukup ramai, selain tuan rumah dan nyonya beserta 2 anaknya, yang salah satunya juga sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak (1 anak kemudian baru diiketahui sesaat mau pamit), serta seorang embah yang walau umurnya sudah tua, masih terlihat kuat dan semangat.

Cerita ngalor ngidul, lama-lama kita mengharap juga nyonya rumah segera mengeluarkan masakannya yang dari tadi sudah disiapkan… lama ditunggu.. kok gak muncul-2, iseng saya nyelonong masuk dapurnya, niatnya sekalian mau ngobrol untuk gali potensi desa. Ternyata si mantu baru pulang dari kebun, bajunya basah kuyup setelah nyabut singkong.. sambil bantuin ngupas dan goreng singkong, saya lihat ke seputar ruangan… rumah yang gelap, dengan ventilasi minimal, gak ada kasur, hanya dipan yang ada di pojok ruangan. Dipan itu ditempati seorang anak usia 4 tahun, dia bermain kain yang digulung-gulung gak karuan, di sampingnya duduk neneknya.
Inget ama anak saya yang pertama, langsung saya dekati anak itu, awalnya dia takut, tapi karena kebetulan ada permen dan 1 bungkus biskuit, anak itu mulai berani saya dekati. Setelah duduk sama-sama di atas dipan tadi, samar-samar ada sesuatu yang bergerak di bawah tumpukan kain yang dimainkan anak tadi, penasaran saya buka kainnya….
MasyaAllah… gak kebayang kalau ada anak bayi di bawah kain tadi, karena terungkap, si nenek langsung menutupi tubuh bayi itu.
Saya coba tanya kenapa Ibu tutupi anak itu? Karena gak ngerti bahasa Jawa halus, nenek itu pun gak ngerti bahasa Indonesia, akhirnya komunikasi gak lancar. Didorong rasa penasaran dan kasihan, saya sedikit maksa menarik kain itu…. Terlihat seorang anak yang sudah sesak.. dan kesulitan untuk mengeluarkan suara. Pelan saya coba gendong, tapi terhalang oleh Ibu nya yang langsung datang dan mengambil bayi itu (umurnya kira-kira 2 tahun). Setelah digendong Ibu nya… tiba-tiba terlihat ada sesuatu yang jatuh tapi tertahan. Ternyata anak itu tidak dapat menegakkan kepalanya, lumpuh dan bisu!!! Dengan wajah ganteng, putih bersih… tatapannya seolah meminta tolong…

Gak tahan… saya keluar, menyendiri dan nangis……lama gak bisa ngomong….
Orang-orang jadi bingung, dikira marah, tersinggung dll. Setelah puas nangis… saya ajak teman yang pintar bhs Jawa buat nemui Ibu yang malang tadi. Saya coba jelaskan kenapa tiba-tiba nangis supaya mereka gak salah paham… Saya coba yakinkan mereka bahwa tidak ada yang salah pada anak itu, semua pemberian Allah yang patut disyukuri… titipan yang harus dijaga dan dirawat sampai Pemiliknya meminta kembali.

Semua itu mengingatkan saya pada kata-kata indah….
Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia beri aku kaktus berduri.
Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu.
Aku sedih, protes dan kecewa. Betapa tidak adilnya! Namun kemudian..
Kaktus itu berbunga begitu indah, dan….
ulat itupun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramat cantik.
Itulah jalan Allah… indah pada waktunya…
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Dia memberi apa yang kita perlukan.
Kadang kita sedih, kecewa, terluka tapi jauh di atas segalanya, Dia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang pandai bersyukur atas karunia Allah.
Amin ya Robbal alamin….

Seperti diposting oleh dini85 pada Selasa 14 Okt 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1364

Saya seorang Ibu di Jerman yang akan menyelesaikan kuliah. Kelas terakhir yang diambil adalah SOSIOLOGI. Sang Dosen sangat inspiratif, memberikan tugas terakhir yang diberi nama “Smiling”, seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumannya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.

Saya adalah seorang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang, jadi saya fikir tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb saya bergegas menemui suami dan anak bungsu yang menunggu di taman di halaman kampus untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya dingin dan kering, sewaktu suami akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami menyingkir dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Setelah berbalik itulah saya mencium suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua oranglelaki tunawisma yang sangat dekil. Saya bingung dan tidak mampu bergerak sama sekali. ketika saya menunduk tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan dia sedang “tersenyum” ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya yang tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ di tempat itu.

Ia menyapa “Good Day” sambil tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumannya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh Dosen saya.
Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba-tiba saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan, “Kopi saja, satu cangkir, Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran ini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua tindakan saya.

Saya baru tersadar setelah petugas counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bermata biru itu, sambil saya berucap, “Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah dan ber-kaca-kaca dan dia hanya mampu berkata, “Terima kasih banyak, Nyonya.” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya, saya berkata, “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, TUHAN juga berada di sekitar sini dan telah membisikan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak, saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata, “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-anakku. Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari bahwa hanya karena bisikanNYA lah kami telah mampu memanfaatkan kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Seperti diposting oleh taufik85 pada Sabtu 11 Okt 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1364

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.”
Ibu menjawab: “Mengapa?”
Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras. Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.”
Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?”
Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.”
Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.”
Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.”
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Seperti diposting oleh masduki pada Sabtu 06 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1164

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju. Seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak. Kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya. Lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya. Kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit. Dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet, tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang di dalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet. Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh di mejanya. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah. Kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami. Kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya. Katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil. Karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan, itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk, dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota akhirnya pindah kembali ke desa. Sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros. Dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri. Katanya jika ditaruh di tempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar. Saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? Dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa di mata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang, ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami
berikan kepada kakek tersebut. Tetapi di luar dugaan dia menolak pemberian kami. Dia hanya menghendaki bagiannya yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu. Tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai. Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai. Yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami. Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan. Hanya menyajikan minuman dan makanan. Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya di masa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Seperti diposting oleh masduki pada Sabtu 06 Sep 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1162

Tidak jauh dari pusat kota, terdapat taman bunga yang indah, yang ditumbuhi rumput hijau dan bunga warna-warni.
Pagi itu udara cerah, kumbang dan kupu-kupu beterbangan ke sana ke mari, burung berkicau dengan ceria. Di bawah pohon yang rindang duduklah seorang pemuda. Semenjak tadi ia memperhatikan seorang gadis cantik yang sedang berjalan-jalan di taman. Kecantikan gadis itu membuatnya jatuh hati.

Ketika gadis itu bersiap-siap meninggalkan taman, ia mengejar dan mendekatinya. Merasa ada orang yang mengikutinya gadis itu berhenti, membalikkan badannya lalu bertanya, “Kenapa anda mengikuti saya?”
“Perkenalkan nama saya A Gun,” jawab pemuda itu sambil mengulurkan tangan untuk menyalami gadis tersebut.
“Dari tadi saya memperhatikan Anda. Anda begitu anggun dan cantik tiada taranya. Saya kira, Anda telah merebut hati saya,” lanjut pemuda itu dengan rayuan gombalnya.
“Anda salah. Adik saya lebih muda dan lebih cantik dari saya. Itu dia, ada dibelakang Anda,” kata gadis itu menjebak.
Seketika pemuda itu memutar badannya, mencari-cari gadis yang disebutkan. Ternyata tidak ada siapa-siapa.
“Anda bohong ya! Mana adik anda?” ujar pemuda tersebut dengan nada sedikit kecewa.
“Anda yang membohongi saya. Anda mengatakan saya begitu anggun, begitu cantik tiada taranya, kenapa Anda masih melihat dan mencari gadis lain?” balas gadis itu.
Setelah mengakhiri kata-katanya, gadis itu pun pergi meninggalkan pemuda tersebut, yang berdiri seperti orang kebingungan dengan mulut ternganga dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Seperti diposting oleh deden nurdin pada Minggu 15 Juni 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=706

Kereta Api Taksaka yang saya tumpangi dari Yogyakarta perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, saya yang turun di Gambir masih duduk dengan tenang. Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta.
Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri, karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri di samping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya. Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek di sana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi.

“Ya?” tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi melihat orang-orang di luar kereta.
“Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.
“Tidak. Mau? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.

Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Keempat anak itu kemudian duduk melingkar di lantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing-masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing. Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah ‘harta karun’ yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas!
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi ‘harta karun’ temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang. Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas!

Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.
Cita-cita? Masa Depan? Lebih absurd lagi.
Saat kereta kembali berjalan meninggalkan Jatinegara, pikiran saya masih pada anak-anak tadi. Dimanakah para penyelenggara negara? Kok mereka sepertinya tidak tersentuh oleh pelayanan dan perlindungan negara?
Apakah anak-anak tersebut tidak berhak atas masa depan? Kemanakah pajak yang telah dipungut dan dibayar oleh rakyat? Apakah hanya untuk digunakan bagi kemewahan pejabat publik? Rumah dinas, baju dinas, mobil dinas, tunjangan kehormatan, pesangon (bagi anggota DPRD), dan…biaya studi banding!
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa saya harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.

Seperti diposting oleh piets pada Jumat 08 Ags 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=939

Saat kembali ke kota kelahiran, saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa kawan lama, di antaranya adalah dua bersaudara yang salah satunya berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses. Di antara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi bahan pergunjingan, mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang tua yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dapat menjadi sangat berbeda.

Kunjungan saya ke panti rehabilitasi di mana kawan saya itu berada cukup membuat dia terhibur. Dalam salah satu perbincangan dia menjawab pertanyaan klise saya, “Ya, semua ini gara-gara Ayah saya.”
Dengan lirih dia meneruskan ucapannya, “Ayah saya seorang pemabuk dan penjudi, keluarga saya bangkrut dan berantakan, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, sama sekali tak pernah memikirkan saya.”
Masih tertunduk lesu dan katanya lagi, “Apa yang bisa diharapkan dari saya hasil dari sebuah keluarga yang berantakan ini?”

Sehari sebelum kembali ke Jakarta, saya masih sempat menemui saudaranya yang siang itu berada di show-room-nya yang cukup besar dengan aneka mobil terpajang.
Di tengah kegembiraan karena lama tidak berjumpa, salah satu pembicaraan kami adalah tentang saudaranya yang ada di panti rehabilitasi narkoba. Pertanyaan spontan pun mengalir dari bibir saya, “Apa yang membuat kamu berbeda dengan saudaramu dan bisa sukses seperti sekarang ini?”
Nampak dia menghela nafas kemudian dia berkata, “Sudah terlalu banyak penderitaan dalam kehidupan saya dan keluarga kami, saya hanya bertekad untuk mengakhirinya. Saya benar-benar tidak ingin bernasib seperti Ayah saya dan ingin membahagiakan Ibuku, itulah tekad saya selama ini.”

Keduanya mendapatkan kekuatan dan motivasi dari sumber yang sama, bedanya adalah yang seorang memanfaatkannya secara positif, dan seorang lainnya menggunakannya secara negatif.
“Mereka yang positif tak peduli segelap apapun keadaannya, kepalanya selalu tegak serta menengadah melihat semua kemungkinan dan semua itu ada di hadapannya.”

Seperti diposting oleh marensi pada Senin 02 Nov 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2210

Suatu hari aku dan ketiga temanku sepakat untuk coba-coba mempraktekkan sebuah pemikiran baru dari sebuah buku yang kami baca. Di buku itu ditulis, kalau kita dengan yakin, secara bersama-sama mempengaruhi seseorang tentang suatu hal, sekalipun itu adalah hal negatif, maka orang itu akan mempercayainya dengan sendirinya.
Dan orang pertama yang terbersit dalam pikiran kami adalah Joko. Ia adalah seorang primadona kampus. Ganteng, pintar, kaya dan begitu populer. Kebetulan Joko sedang lewat di depan perpustakaan.

Aku menghampirinya dan pura-pura memperhatikan wajahnya. Tiba-tiba aku bilang, “Kok hari ini kamu kelihatan pucat, seperti mau sakit deh.”
Joko agak terkejut. Namun ia dengan yakin mengatakan, “Aku baik-baik saja kok. Kamu ini ada-ada saja.”
Orang kedua pun menghampirinya di dalam kamar mandi. Ia juga mengatakan hal yang sama. Kali ini Joko mulai menanggapinya dengan serius. Ia langsung memperhatikan wajahnya di cermin.
Orang ketiga membicarakan hal yang sama kepada Joko di kantin. Joko mulai terlihat was-was. Ia memesan juice jeruk dan meminum sebutir vitamin C yang diyakininya bisa memulihkan kondisinya. Joko benar-benar mulai menanggapi perkataan kami.
Orang keempat pun melakukan hal yang sama ketika bertemu dengan Joko di tempat parkir. Ia melakukannya dengan sangat baik pada bagian, “Vitamin C itu untuk mencegah, bukan mengobati. Sebaiknya kamu periksa deh.”
Joko benar-benar menjadi kuatir.

Apa yang terjadi berikutnya?
Keesokan harinya Joko tidak masuk dua hari. Ketika masuk, kami menanyakan kabarnya. Joko menjawab dengan yakin, “Kemarin aku benar-benar sakit. Terima kasih ya atas perhatiannya.”
Kami tidak bisa menahan tawa. Lalu aku menjelaskan apa yang yang sebenarnya terjadi. Jawaban Joko benar-benar mengejutkan kami. “Lho, kalian ini bagaimana sih? Aku itu benar-benar sakit. Kemarin aku ke dokter dan di opname satu hari. Lalu hari ini saja aku paksakan masuk, padahal kondisinya masih belum sehat betul.”

Perkataan orang-orang disekitar kita bisa membuat kita gagal. Cara mereka berbicara, intensitas dan topiknya, bisa membuatmu meragukan kebenaran. Kita harus berhati-hati dalam mendengar setiap masukan mereka.

Seperti diposting oleh marensi pada Senin 14 Sept 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2140