colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in cerita pendek

cerpen e. supriyanto

Dharmawati menarik napas lega di halaman kantor pos. Akhirnya selesai juga urusannya mengirim wesel ke Lhokseumawe. Uang yang dikirim satu juta Rupiah dan untuk itu ia harus berkutat setengah jam lebih di kantor pos. Salahnya sendiri memang, karena datang bertepatan dengan jadwal pembayaran uang pensiun. Kantor pos dipenuhi orang-orang tua para pensiunan pegawai negeri dan militer.

Mungkin Rumiyati juga perlu disalahkan karena tidak memiliki rekening bank di kampungnya sana. Kalau lewat bank tentu bisa lebih cepat dan tidak perlu antre seperti di kantor pos. Bahkan juga tidak perlu repot-repot datang ke bank karena bisa lewat ATM. Dan tidak perlu harus pada jam kerja karena ATM buka nonstop dua puluh empat jam.

Tapi menyalahkan Rumiyati juga percuma karena dalam salah satu suratnya ia pernah menulis, Jangankan untuk menabung. Untuk makan sehari-hari saja susah.

Alasan itu terdengar klise, memang.

Tapi begitulah kenyatannya.

Dalam salah satu suratnya, Cut Nya’ – demikian Dharmawati menjuluki Rumiyati terutama karena kegigihannya berjuang melawan kehidupan – pernah bercerita bahwa sejak dua bulan terakhir ia membuka warung nasi agak di luar kota. Itu juga bukan pekerjaan tetapnya karena sebelumnya pernah buka rental komputer, agen koran, dan agen tiket bis luar kota.

Entah dengan kedai nasinya kali ini.

Mungkin bertahan lama, mungkin cuma sementara.

Hati kecil Dharmawati mengakui betapa Cut Nya’ memang ulet dan gigih. Ia tidak pernah ragu menggeluti pekerjaan yang kira-kira bisa menghidupi keluarganya. Sayangnya sampai saat ini tidak pernah tekun di satu bidang. Selalu saja berganti-ganti.

Kerja di sini harus pinter-pinter mencari celah. Selalu ada peluang tetapi juga selalu ada halangan. Rental komputer mula-mula rame, tapi sejak ribut-ribut otonomi daerah jadi sepi karena banyak mahasiwa yang memilih pulang ke kampung masing-masing.

Jadi agen koran sulit berkembang karena koran-koran terbitan jawa selalu telat. Sejak banyak gangguan GAM, bis-bis luar kota tinggal sedikit. Cuma bis milik pribumi saja yang masih berani beroperasi.

Setiap kali membaca surat Cut Nya’, Dharmawati selalu bersyukur karena kehidupannya jauh lebih baik. Tidak perlu pontang-panting cari makan. Tidak perlu jungkir balik cari uang. Perjalanan karirnya bisa dibilang mulus dan nyaris tanpa pergolakan. Datar-datar saja. Beberapa bulan setelah lulus langsung diterima sebagai pegawai negeri sipil. Dharmawati tinggal mengikuti saja aturan dan mekanisme yang sudah ada. Tidak perlu demo. Tidak perlu menuntut ini itu.

Aku tidak perlu memikirkan kredit rumah dan membayar asuransi karena semuanya sudah diatur oleh sistem. Yang perlu kulakukan hanya berdiri di tepi jalan setiap jam tujuh pagi. Lalu bis karyawan datang menjemput. Aku tinggal duduk di bangku yang tersedia dan kadang-kadang tertidur kembali. Begitu sampai di kantor aku tinggal duduk di meja kerjaku dan mengerjakan tugas-tugas yang diantar pesuruh. Setelah makan siang di kantin, aku kembali meneruskan pekerjaan. Jam empat sore aku sudah berdiri di depan kantor dan bis yang sama akan datang menjemput. Aku tinggal duduk menempati bangku yang tersedia dan selalu sambil tertidur sampai bis menurunkanku di tempat aku naik tadi pagi.

Dharmawati bisa membayangkan betapa iri Cut Nya’ saat membaca suratnya.

Betul-betul hanya bisa membayangkan karena pada kenyataannya mereka memang belum pernah bertemu. Semua komunikasi hanya lewat surat. Bahkan perkenalan pertama kali pun lewat rubrik sahabat pena di sebuah majalah anak-anak. Hanya pernah beberapa kali saling bertukar foto. Selebihnya adalah bertukar cerita mengenai perkembangan masing-masing.

Sampai sama-sama lulus SMA.

Sampai sama-sama sibuk mencari pekerjaan.

Sampai Cut Nya’ berterus terang tidak punya pilihan lain kecuali mengurusi dapur rumahnya yang terdiri dari seorang ibu dan dua adik yang masih sekolah. Bapak merantau ke Pidie tapi sampai sekarang tidak pulang-pulang. Ada yang bilang ikut bergabung bersama-sama GAM. Ada yang bilang sudah mati ditembak tentara.

Itu sebabnya Dharmawati mengirimkan wesel sebesar satu juta rupiah untuk Cut Nya’ sahabatnya. Walaupun Cut Nya’ tidak meminta, tapi dalam surat terakhirnya ia bercerita punya rencana membuka rental video game di samping warung nasinya yang berada tidak jauh dari sebuah kompleks sekolahan.

Setiap bubaran sekolah, jalan di samping warung nasi kami penuh anak-anak mulai dari SD, SMP, sampai STM. Sorenya juga banyak yang ikut ekstrakulikuler. Saya pikir-pikir, kalau saja bisa membuka rental video game tentunya bakal rame. Tapi harga alatnya mahal juga, sementara uang kami sudah terpakai untuk modal warung nasi.

Dharmawati menghitung-hitung, untuk satu set video game butuh setidaknya satu setengah jutaan. Itupun tivinya yang bekas, ditambah dua atau tiga puluhan kaset permainan. Butuh sekitar dua jutaan. Kalau Dharmawati hanya mengirim satu juta, itu karena hanya sebatas itulah kemampuannya saat ini. Menurutnya satu juta cukup membantu. Setidaknya sudah bisa menjadi pemicu semangat Cut Nya’ untuk memulai rencananya.

Dilihatnya kalender di dinding. Dikira-kiranya lama pengiriman lewat kantor pos. Paling lambat minggu depan wesel itu sudah sampai di tangan Cut Nya’. Kalau cepat tanggap, dalam dua minggu ke depan vidoe gamenya sudah mulai beroperasi. Dan Dharmawati tinggal menunggu kabar baik berikutnya.

Sepuluh hari kemudian surat Cut Nya’ datang.

Dharmawati sahabatku,

Saya sudah terima weselmu. Aduh, saya terkejut. Kaget bukan main. Kamu hanya sahabat, itupun sahabat pena. Bukan saudara, bukan famili, tapi perhatianmu begitu besar. Saya tidak pernah mengira kamu akan mengirimiku uang sebesar itu. Sampai sekarang wesel itu masih saya simpan. Belum saya tukarkan ke kantor pos. Saya takut tidak bisa mengembalikan uangmu. Seumur hidup belum pernah saya meminjam uang sebesar itu dari orang lain. Kalau besok-besok saya mati mendadak ditembak GAM, siapa yang harus membayar hutang itu kepadamu?

Cepat balas surat ini, sahabatku. Supaya pikiran saya tenang.

Dharmawati tersenyum membaca surat sahabatnya.

Selalu saja Cut Nya’ punya perasaan bersalah terhadapnya. Memang baru sekali ini Dharmawati mengirimi uang, tapi sudah sering ia mengirimkan apa-apa yang bisa berguna bagi Cut Nya’. Majalah-majalah, kliping berita, kaset, buku bacaan, pakaian bekas layak pakai, atau sekedar makanan ringan. Dan semua itu dikirimkan tanpa maksud lain kecuali sebagai tanda persahabatan.

Tidak lebih tidak kurang.

Dan tidak menghalangi niat Dharmawati membalas surat sahabatnya.

Rumiyati sahabatku,

Kamu tidak perlu risau dengan kiriman uang itu. Saya mengirimkannya karena saya percaya akan berguna. Sekecil apapun jumlahnya akan tetap berguna. Dan saya tahu kamu akan memanfaatkannya baik-baik. Paling tidak bisa menjadi modal awal membuat rental video game seperti rencanamu.

Jangan pikirkan benar tentang pengembaliannya.

Saya mengirimkannya sebagai bantuan, bukan pinjaman. Segera uangkan wesel itu. Segera gunakan untuk mewujudkan rencanamu. Saya cuma ingin mendengar bahwa usahamu berhasil. Bahwa usahamu lancar.

Jangan pusingkan soal uang pinjaman. Kalau usahamu sudah berjalan dan untungnya lumayan, baru kamu boleh berhitung. Bisa mengembalikan uang itu akan saya terima. Dicicil juga bisa. Tapi kalaupun tidak dikembalikan juga tidak apa-apa. Saya tidak memikirkan betul. Bahkan seandainya kami mati setelah menguangkan wesel itu, saya anggap kiriman itu tidak pernah ada.

Surat balasan itu dikirimkan lewat kilat khusus.

Tinggal menunggu tiga empat hari, Cut Nya’ pasti akan menerimanya. Dharmawati berharap Cut Nya’ memahami maksudnya. Segera menguangkan wesel itu dan memulai usahanya. Bagi Dharmawati tidak ada kebahagiaan melebihi itu.

“Selamat berusaha, sahabatku. Semoga sukses selalu bersamamu,” doa Dharmawati bersungguh-sungguh.

Tuhan mendengar doa tulus Dharmawati. Kilat khusus itu diterima Cut Nya’ empat hari kemudian. Cut Nya’ bergegas menguangkan wesel itu ke kantor pos terdekat. Tapi harapan Dharmawati tidak sepenuhnya dikabulkan. Cut Nya’ terjebak kontak senjata yang mendadak pecah di jalan raya persis di depan kantor pos. Orang-orang berteriak gaduh sambil menyebutkan adanya serangan GAM terhadap truk tentara yang saat itu melintasi pasar. Cut Nya’ berusaha berlindung di balik tembok pagar. Dan sebelum menyadari di mana posisi GAM dan di mana posisi tentara, sebutir peluru telah menembus kepalanya.

Tidak jelas peluru siapa yang merenggut nyawa Cut Nya’. Bisa peluru tentara, bisa peluru GAM. Orang-orang tidak mempedulikan benar. Mereka hanya bisa menyaksikan tubuh kurus Cut Nya’ terkapar bersimbah darah di halaman kantor pos. Orang-orang hanya bisa menunggu sampai kontak senjata selesai. Bukan hanya untuk mengurus jenazah Cut Nya’ tapi juga untuk berebut mengambil sejuta rupiah yang berhamburan bercampur darah….

Sibolga, akhir Desember 1994

ceritera pendek e. supriyanto

 

 

 

         Ada berita yang menghebohkan di kampung kami: Antonius Marbun disunat!

Berita itu barangkali tidak akan begitu menghebohkan kalau sekiranya Antonius Marbun sunat karena alasan kesehatan. Tapi ini, Antonius Marbun yang Kristen, sunat karena ingin masuk Islam.

Maka kelompok Muslim berkata : “Alhamdullilah, kita kedatangan tambahan satu orang umat lagi.”

Sementara kelompok Nasrani secara sinis mencibir, “Ah, apa pula maunya Si Marbun itu. Macam tak ada saja orangtuanya.”

“Kudengar orangtuanya di Siantar sana memang tidak diberi tahu.”

“Tentu saja. Kalau diberi tahu mana mungkin diijinkan.”

Cerita pun berkembang dari mulut ke mulut. Kedua belah pihak – baik kelompok Muslim maupun kelompok Nasrani – saling membicarakan. Tindak tanduk Marbun yang baru saja disunat menjadi bahan pembicaraan di mesjid dan di gereja. Dan selalu saja ada yang menambahi sedikit-sedikit. Apalagi empat hari setelah sunat, Marbun masih harus bersarung ke mana-mana. Kata sumber yang selalu saja katanya bisa dipercaya, kemaluan Marbun terus mengeluarkan darah.

Maka kelompok Nasrani berkata, “Itulah kalau tidak menurut kata natua-tua. Tidak mendengarkan kata yang tua-tua. Sunatnya tidak sembuh-sembuh karena tak ada restu dari orangtua.”

Kelompok Muslim menghibur dengan berkata. “Sabarlah, Nak Marbun. Inilah salah satu bentuk cobaan dari Allah. Coba panggil lagi mantrinya. Suruh periksa kenapa kemaluannya tidak sembuh-sembuh.”

Maka mantri pun dipanggil. Setelah memberi obat yang katanya untuk mempercepat mengeringnya bekas luka, Pak Mantri berkata, “Coba untuk sementara jangan dekat-dekat pacarmu dulu.”

Yuniwati yang saat itu berada di situ kontan memerah wajahnya. Selama ini memang terdengar kabar bahwa Antonius Marbun berpacaran dengan Yuniwati. Tapi katanya pula orangtua Yuni kurang setuju karena perbedaan agama di antara keduanya.

Maka perbincangan pun meluas. Headline terbaru menyebutkan bahwa Antonius Marbun masuk Islam supaya bisa menikahi Yuniwati. Dan karena pernyataan ini tidak dibantah – baik oleh Marbun maupun oleh Yuniwati – maka gosip pun semakin ramai.

Kelompok Muslim mengangguk setuju ketika salah seorang tokohnya berkata. “Kita harus memberikan dukungan moral kepada Marbun. Ia rela meninggalkan akar budayanya untuk bergabung dengan kita. Coba bayangkan betapa berat beban yang harus ditanggung. Keluarganya akan mengucilkan. Kerabatnya akan mencemooh. Ia bahkan mungkin akan kehilangan hak atas warisan yang menjadi bagiannya.”

Sementara yang Nasrani makin berapi-api. “Pindah agama hanya untuk kawin? Apa artinya itu?  Kalau mau pindah agama ya pindah saja. Pindah karena keyakinan  kita. Jangan pindah agama karena wanita. Berapa lama tahannya itu? Coba saja lihat nanti. Kalau ada pertengkaran sedikit, pasti soal itu diungkit-ungkit. Ya kalau di agamanya yang baru dia bisa buktikan keseriusannya. Kalau hangat-hangat tahi ayam, cuma akan jadi cemoohan orang!”

“Apa yang dilakukan Marbun memang mengandung resiko. Kalau ia bisa menjadi Muslim yang taat,  maka orang akan kagum. Apalagi selama ini Marbun dikenal suka judi dan mabuk-mabukkan.  Tapi kalau tidak, artinya Islamnya hanya tempelan saja, kemudian kembali main judi atau mabuk-mabukan lagi, maka yang Muslim akan malu, sementara yang Nasrani akan semakin mencemooh.”

“Tapi kita tidak bisa menyalahkan Marbun begitu saja. Yang sejak lahir mengaku Islam pun tidak keruan sholatnya. Apalagi yang baru masuk.”

Sebagian menggerutu sebagian mengiyakan. Sebagian lagi merasa tersindir.

Kemudian terdengar kabar Marbun akan menikahi Yuni. Acara pernikahan dipersiapkan. Kelompok Muslim membantu sepenuhnya, sementara kelompok Nasrani hanya menonton sambil menceritakan bahwa bekas sunatnya belum sembuh betul. Meskipun Marbun sudah memakai celana panjang, tapi dari jalannya kelihatan sekali ia menahan sakit.

“Marbun, apakah tidak sebaiknya pernikahan ini ditunda sampai sakitmu betul-betul sembuh?” tanya Pak Uztad.

“Tidak usah, Pak Uztad. Saya sudah siap.”

“Saya tidak bisa menjamin sakitmu segera sembuh kalau kamu memaksakan untuk tetap menikah,” sambung Pak Mantri.

“Tidak apa-apa, Pak Mantri. Nanti pasti sembuh.”

Pernikahan pun dilangsungkan secara sederhana karena pihak mempelai pria menolak untuk hadir. Pak Uztad menjadi wali. Dan sampai acara pernikahan selesai tidak ada satu pun undangan dari pihak mempelai pria yang datang atau sekedar menitipkan ucapan selamat.

Selama prosesi pernikahan berlangsung, segenap undangan yang hadir dapat melihat bahwa Antonius Marbun memang belum sepenuhnya sembuh. Jalannya masih tertatih-tatih. Waktu duduk bersila mengucapkan akad nikah pun kelihatan sekali sambil menahan sakit.

Ijab kabul diulang sampai tiga kali.

Sebagian undangan menahan tawa sampai beberapa kali.

“Wah, malam pengantinnya tertunda nih.”

Mempelai wanita pura-pura tak mendengar.

Meskipun malam itu keduanya tidur dalam satu kamar, orang-orang tahu bahwa malam pertama tak mungkin terlaksana. Apalagi sekitar pukul tiga pagi terdengar rintihan dari kamar pengantin. Bukan Yuni yang merintih tapi Marbun! Dan merintih bukan karena malam pertama melainkan karena lukanya kambuh lagi.

Sampai subuh suara rintihan masih terdengar, diselingi suara pengantin wanita menghibur agar bersabar. Agar jangan terlalu banyak bergerak supaya lukanya cepat sembuh. Mungkin juga sambil dikipasi karena terdengar suara kertas dikibas-kibaskan.

“Kalau kumpul terus kapan bisa sembuh,” terdengar sindiran nyinyir entah dari mana. “Setiap ketemu pasti tegang. Begitu tegang lukanya pasti kambuh lagi.”

Terdengar tawa riuh menimpali.

”Itulah kalau tidak mau mendengar nasehat orangtua. Disuruh menunda dulu tidak mau. Kalau sudah begini, apa gunanya kawin?”

“Anak jaman sekarang memang susah diatur. Semuanya sudah terbalik. Dulu orangtua mengatur anak. Sekarang anak yang mengatur orangtua.”

Yang mendengar mengangguk-angguk membenarkan.

“Tidak usah didengarkan. Jalani saja rumah tangga kalian sebaik-baiknya. Orang biasa bergunjing. Biasa membicarakan kejelekan orang lain tapi tidak sadar akan kejelekannya sendiri. Tidak perlu dipikirkan betul. Kalau kalian baik-baik, orang akhirnya akan mengerti.”

Pasangan pengantin baru itu mengangguk hampir bersamaan.

Maka hari-hari berlalu seperti biasanya. Kelompok Muslim tetap membimbing agar Marbun menjadi Muslim yang baik. Tiap sore mengajak datang ke mesjid untuk belajar sholat dan mengaji.

“Biasa, masih baru, masih rajin,” sindir kelompok lain.

Yuni juga membiasakan tak peduli dengan omongan orang. Tiap tiga hari sekali terlihat mandi keramas. Dan pada saat mengeringkan rambut sengaja di depan rumah agar terlihat orang-orang yang lewat.

“Keramas lagi, keramas lagi….” kata remaja-remaja yang lewat menirukan salah satu iklan shampo di tivi.

“Iya, habis suka sih….” Yuni balas menimpali.

Lalu remaja-remaja itu tertawa.

Yuni pura-pura tertawa meskipun sebenarnya sedih karena acara keramas itu cuma kamuflase saja. Cuma akal-akalan. Agar orang-orang mengira bahwa kehidupan rumah tangga mereka normal. Agar mereka tidak menyindir-nyindir lagi. 

Toh akhirnya orang-orang tahu bahwa itu semua cuma sandiwara. Kalau malam Marbun masih meringis kesakitan, dan setiap beberapa malam sekali Pak Mantri masih dipanggil. Dirahasiakan bagaimana pun cerita miring selalu lebih gampang tersebar. Entah dari Pak mantri sendiri, entah dari orang yang menemani Pak Mantri, entah dari angin yang berbisik di antara alang-alang, cerita merambat dari mulut ke mulut. Bukan hanya merambat, tapi juga bertambah di sana-sini.

“Kemaluannya melepuh sebesar kepalan tangan!”

“Dari ujungnya keluar nanah!”

“Mungkin infeksi waktu disunat dulu.”

“Bukan! Itu bawaan dari penyakit kotor!”

“Astagfirrullah!”

Marbun terus-terusan meringis, sementara tiap malam Yuni terus-terusan menangis. Kelompok Muslim terus-terusan berdoa, sementara kelompok Nasrani terus-terusan mencela. Akhirnya tidak bisa lagi dibedakan siapa yang meringis dan siapa yang menangis. Doa dan cela masih bisa dibedakan seiring dengan makin memburuknya kondisi Marbun. Badannya mulai diserang demam tinggi. Omongannya mulai tidak karuan.

“Pasti kena santet dia!”

“Bukan santet, itu kualat namanya.”

“Panggil Pak Mantri!”

Pak Mantri datang tergopoh-gopoh diikuti beberapa orang kelompok Pak Uztad. Beberapa orang yang lain menunggu di warung terdekat, berkumpul seperti menunggu hasil akhir pertandingan sepakbola.

Helaan napas Pak Mantri mengubah segala doa menjadi tangis. Marbun tidak meringis lagi. Tubuhnya terbaring kaku. Panas badannya lenyap, berganti menjadi dingin membeku seperti es. Raungan Yuni membangunkan seisi kampung. Tidak bisa lagi dibedakan mana yang Muslim dan mana yang Nasrani, mana yang berdoa dan mana yang mencela. Semuanya sama-sama menangis. Sama-sama meratapi kepergian Marbun.

Menjelang tengah hari tangisan meledak lagi ketika Yuni juga ditemukan terbujur kaku di kamarnya. Mulutnya berbusa, cairan pembasmi serangga tinggal setengahnya. Orang-orang seperti tidak percaya. Sebagian melanjutkan berdoa, sebagian berdiri saja. Sebagian berdoa sambil berdiri. Sebagian lagi berdiri tanpa melakukan apa-apa.

Ketika sore itu jasad keduanya dikubur berdampingan, hampir semuanya mengucapkan doa. Tidak ada lagi terdengar yang mencela. Bahkan hampir tidak terdengar lagi suara tangis. Barangkali persediaan tangis penduduk kampung itu sudah habis….

 

Pangkalan Bun, Februari 2009

cerita pendek dwika

 

 

jpeg

  

Gedung tua itu masih saja membuatku berdebar.

Menara tinggi menjulang dengan ceruk lonceng berbentuk seperti topi penyihir – bentuk yang tidak lazim – bentuk menara yang tidak ditemukan di gedung tua lainnya di kota Bogor.
Melalui pintu depan berkanopi, perlahan aku menuju selasar memanjang dengan kolom-kolom besar berbalut pahatan batu kali hitam, tinggi, kokoh, dan masih saja membuat darahku mendesir. “Biasanya dia bergerombol di sana dengan teman-temannya dan aku berusaha melihatnya dari sini”, dari sisi kiri arah pintu lengkung ke taman bougenville. Aku akan selalu menunggunya, setiap pagi selalu berusaha melihatnya untuk bekal hari itu. Tak sulit untuk bersembunyi di sudut ini, jika tiba-tiba dia berbalik dan menangkapku dengan pandangannya. Atau kalaupun harus bergegas masuk, kelasku dekat sekali, kelas Ic memang sejajar pintu lengkung.

Masih lekat dalam ingatanku, satu kali, satu kali saja tanganku ditarik dan dituntunnya menuju taman bougenville. Ke arah delapan bangku batu berlapis granit kasar warna kelabu memanjang yang dinaungi rimbunan bougenville warna-warni. Lantainya juga granit kasar tapi indah, membuat suasana menjadi jauh lebih indah. Saat itu banyak mata yang memandang ke arah taman bougenville, maka dimintanya aku duduk berselonjor dibawah jendela kelas IIIc yang tertutup. Dan habislah sisa hari itu dalam celotehan panjang tentang segala yang kualami hari-hari lalu. Biasanya dia hanya memandangiku dan sekali-kali bertanya ini dan itu.

Seingatku, saat aku masih menjadi salah satu murid di sekolah ini, lonceng itu masih dibunyikan saat masuk kelas dan saat pulang. Suaranya indah sekali, bergema, menghantarkan keriangan juga kesedihan, serta beribu perasaan yang setiap saat berganti-ganti memenuhi sanubari.

Setelah pagi di selasar, biasanya aku akan berjalan malas sambil menggerutu. Menyesali mengapa lonceng cepat sekali berbunyi atau menyesali mengapa dia terlambat datang hingga tak sempat aku melihatnya. Namun rasanya cukuplah untuk hari itu, bahan untuk mengisi lamunan saat kantuk menyerang tapi mata tak boleh terpejam. Dengan susunan kursi bertingkat-tingkat di kelasku, semua guru dengan mudahnya menembakmu dengan kapur jika tampak olehnya kita tertidur.

Banyak hari berlalu tanpa ritual pagi yang selalu kunantikan, dia seringkali terpilih mengikuti lomba ini dan lomba itu. Kadang berminggu-minggu dia tidak masuk sekolah, tinggallah aku kesal menunggu. Padahal sisa harinya di sekolah hanya berbilang hari saja, ujian akhirnya akan tiba dan kami akan berpisah.

 

jpeg

 

 

 Hari ini aku duduk termenung memikirkan mengapa masih saja kenangan itu melekat, erat, tak bisa terhapus. Kenangan yang telah berlalu lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Kenangan ritual pagi yang mulanya hanya saling melempar pandang kini mejadi bertukar kisah. Aku selalu bercerita lengkap sejak meninggalkan taman bougenville kemarin pagi, sepanjang siang, sore dan malam. Hanya dalam sepuluh menit, dia akan tahu apa saja yang kualami kemarin. Setelah aku bercerita, ganti dia menceritakan kenakalan apa saja yang terjadi di kelasnya dan di asrama, dan seperti biasanya aku akan terkagum-kagum dengan kenakalan mereka. Mataku indah katanya jika membesar berbinar menyimpan tawa yang ditahan. Baginya, cantik sekali. Kemudian saat aku menengok jam tangan kecil bertali kulit imitasi warna hitam yang sudah usang, jam tangan satu-satunya pemberian guru yang kusayangi, sambil mengingatkan sebentar lagi lonceng berbunyi, maka dia akan memintaku mengangguk mengiyakan pernyataan yang sama, “Berjanjilah, kalau kakak lulus nanti, bukan berarti ini berakhir.”

Dan dengan senyum lebar aku akan menggeleng, “Kita lihat nanti, apakah kakak juga bisa berlaku sama.”

Dan sambil berlari aku meninggalkannya.

 

jpeg 

 

Aku biarkan kenangan itu memenuhi perasaanku. Kenangan kecil ini bagaikan oase, yang memberikan kesegaran kecil, menyalakan keremajaan. Semakin aku mengingat masa itu, semakin aku menyadari betapa bersyukurnya aku telah mengalaminya. Dan telah setia memenuhi permintaannya.

Di pintu lengkung dua gadis cantik berceloteh ramai. Di belakang mereka tampak pria setengah baya yang tertawa lebar bangga dan bahagia. Mereka anak-anakku dan ayahnya. Dia melambaikan tangannya menyuruhku mendekat. Aku menggeleng dan mereka yang datang menghampiriku. Perlahan mereka mengusap tanganku yang layu, kemudian dia memelukku erat.

“Terimakasih, telah setia menemaniku, memberiku kebahagian dan memberiku anak-anak yang luar biasa,” bisiknya sambil memandangiku dalam-dalam.

Bau segar air dari kolam di bawah taman bougenville terbawa angin, bercampur aroma hidangan. Gelak tawa berderai bercampur air mata haru di banyak pasang mata. Betapa indahnya pertemuan. Betapa indahnya kenangan ini, beribu kisah ada di taman bougenville.

Lonceng boleh berbunyi lagi khusus untuk hari ini. Aku terhanyut.

Jika sampai saatnya nanti, aku tak akan menyesal meninggalkan sebegitu banyak kebaikan dan keindahan yang kualami.

 

 

 

seperti yang pernah dipublikasikan di http://forum.spmabogor.net/ pada tanggal 01 Juni 2008 pukul 10.53.

selengkapnya dapat dilihat di http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=633&sid=a0d467e5276af51e83d2c1edbe68f546

 

jpeg

cerpen oleh e. supriyanto

 

 

Kabar bahwa Pakde Prawiro menolak berpartisipasi dalam perayaan tujuhbelasan sudah lama terdengar. Dua minggu lalu, dalam acara pengajian rutin, secara samar-samar Pakde Prawiro sudah mengatakannya.

“Tujuhbelasan ya tujuhbelasan. Memang kenapa?” ujar laki-laki berumur sekitar tujuh puluhan itu ketika seseorang yang lebih muda mengingatkan bahwa saat itu sudah masuk bulan Agustus.

“Acara tahunan, Pakde. Pesta rakyat….”

“Hidup masih susah kok mau pesta.”

“Setahun sekali, Pakde.”

Pakde menggeleng. Dan gelengan itu berlanjut ketika besoknya diundang rapat di rumah Ketua RT untuk membahas rencana perayaan tujuhbelasan di lingkungan mereka.

“Rapat, rapat,” gerutu Pakde. “Paling-paling juga ditarik iuran.”

“Namanya juga partisipasi, Pakde. Kan nantinya untuk kita-kita juga.”

“Saya tahu,” Pakde menyulut rokoknya. “Tapi masak kita yang kuli ini iurannya sama dengan yang direktur? Kalau yang namanya pesta, kita-kita ini mustinya tidak usah bayar. Tinggal menikmati saja. Mereka-mereka itu yang mustinya bayar. Karena cuma mereka-mereka itu yang sudah menikmati kemerdekaan.”

Beberapa orang yang berada dekat Pakde terkejut. Tidak mengira Pakde akan bicara sesengak itu.

Mereka-mereka yang dimaksudkan Pakde tak lain adalah beberapa warga di lingkungan itu juga. Beberapa warga yang termasuk hidup berkecukupan – tiga di antaranya malah bisa dikatakan mewah. Penilaian ini bisa dilihat dari rumah mereka yang lebih megah, pagar depan yang lebih tinggi, mobil berjejer lebih dari satu, dan pakaian yang selalu kelihatan lebih baru daripada yang dipakai warga lainnya. Masalahnya kemudian adalah, mereka-mereka itu juga yang tidak pernah hadir dalam rapat RT, tidak pernah ikut kerja bakti, bahkan kabarnya juga ada yang menunggak iuran sampah.

Kalimat sengak Pakde membuat orang-orang perlahan membubarkan diri. Mereka mencoba maklum dengan suasana hati laki-laki tua yang hidup dari hasil menjual jasa kepada warga di sekitarnya. Kadang-kadang membersihkan halaman, menjadi kenek tukang batu, memasang instalasi listrik, menebang pohon tua, atau sekedar membersihkan got yang mampet.

Apa yang dikerjakan Pakde terlihat wajar bagi warga perumahan, tapi menyakitkan bagi Pakde sendiri. Setidak-tidaknya ini kalau mengingat sekembalinya laki-laki itu dari Sumatera. Setelah lebih dua puluh lima tahun merantau – dan katanya sempat menjadi mandor perkebunan sawit – tiba-tiba pada awal abad milenium Pakde kembali sebagai orang yang kalah.

Pakaiannya lusuh. Tasnya diikat tali plastik.

Sanak familinya menyambut haru. Tetangga kiri kanan berkumpul sambil mendengarkan cerita yang diulang-ulang tanpa putus.

“Perusahaan kami dibakar orang kampung. Rumah saya dijarah. Kebun, tanah, ternak, entah siapa yang menguasai sekarang,” suara Pakde ditelan getaran pelipisnya sendiri.

Cerita pedih itu berlanjut karena pesangon yang katanya akan ditransfer lewat bank, ternyata tidak kunjung datang. Nomor telepon perusahaan di Pematangsiantar hanya menyuarakan tulilut-tulalit. Persoalan bertambah karena Jaminan Hari Tua tidak bisa dicairkan di kantor Jamsostek setempat karena kata petugasnya, “Ada perbedaan data antara kartu dan catatan  di kantor asal.”

Untung anak-anak Pakde yang bekerja di kota sesekali menyambangi orangtua mereka. Sedikit modal pun diberikan kepada Bude Prawiro untuk berjualan lontong sayur di depan rumah. Cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Pakde pun menyadari tidak ada gunanya mempermasalahkan apa yang sudah terjadi. Apalagi kalau harus kembali ke Sumatera untuk memperjuangkan sisa gaji dan pesangon yang menjadi haknya.

“Tidak. Terimakasih,” katanya suatu kali. “Saya sudah trauma.”

“Tapi kan sayang duitnya, Pakde.”

“Duit bisa dicari lagi. Sakit hati ini yang tidak bisa diganti.”

“Pakde sakit hati sama siapa?”

“Sama orang kampung yang membakar bedeng-bedeng kami. Padahal mereka itu orang-orang yang kami kenal. Teman kami ngobrol dan minum kopi. Malahan sering menumpang mobil kami kalau mau pergi ke kecamatan. Tapi pada hari itu semua berubah menjadi monster. Berteriak-teriak. Mencaci-maki. Dan membakari bedeng seperti tidak pernah kenal kami sebelumnya.”

“Kok bisa begitu, Pakde?”

“Begitulah….” terdengar Pakde mengeluh. “Semua itu atas nama reformasi. Atas nama otonomi daerah….”

“Ada provokatornya mungkin, Pakde.”

“Memang ada. Itulah yang membuat saya sedih. Ada cukong, anak anggota DPRD, yang mengincar areal perkebunan kami untuk diambil alih. Kasihan teman-teman kami. Tapi lebih kasihan lagi orang-orang kampung itu.”

“Kok begitu, Pakde?”

“Mereka cuma diperalat. Kalaupun di situ didirikan pabrik uang, mereka tetap akan menjadi budak di kampungnya sendiri.”

Kisah sedih itu barangkali sudah dihapal oleh sebagian warga. Dalam setiap kesempatan berkumpul, hanya cerita itu yang sering disampaikan. Warga pun maklum. Dan segera melupakan. Apalagi karena banyak berita baru yang muncul susul menyusul di televisi. Mulai dari teror bom, tanah longsor, sandera GAM, banjir, gunung meletus, kampanye calon bupati, pengangguran bertambah, tawuran antar warga, demo-demo, gusur-gusuran, waria dikejar-kejar, harga minyak tanah naik, harga cabe naik, flu burung, pejabat korupsi dibebaskan, illegal logging, sampai pungutan anak sekolah yang tidak habis-habis.

Semua memaklumi, kecuali sikap Pakde Prawiro yang tetap menolak untuk berpartisipasi dalam perayaan tujuhbelasan. Padahal selama ini Pakde termasuk aktif dalam kegiatan warga. Rapat RT selalu dihadiri, kerja bakti selalu diikuti, acara-acara keagamaan tidak pernah absen, bahkan hampir tiap malam ikut ronda meskipun bukan gilirannya.

“Pokoknya untuk tujuhbelasan kali ini, saya tidak ikut,” tegas Pakde.

“Apa salahnya, Pakde? Kan cuma memeriahkan saja. Pakde tidak jadi panitia kok. Cuma kita minta bantuan untuk menyiapkan lapangan upacara, mendirikan pinang, menghias gapura, itupun bersama warga yang lain.’

Pakde tetap menggeleng.

“Atau Pakde minta bayaran?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

“Pokoknya untuk yang satu ini saya tidak ikut. Kalau perayaan yang lain, oke.”

Pertanyaan berikutnya seperti kenapa, apa masalahnya, apa ada ucapan atau tindakan warga yang menyinggung perasaan Pakde, dijawab dengan gelengan yang sama. Warga akhirnya melupakan karena banyak yang harus diurus. Semua sibuk bergotong royong menyambut tujuhbelasan. Ibu-ibu menghimpun dana. Remaja putra menyusun jadwal pertandingan. Remaja putri menyiapkan hadiah. Bapak-bapak mulai bertanding gaple, catur, dan remi. Semua tenggelam dalam keceriaan memperingati kemerdekaan bangsa. Begitu cerianya sampai tidak ada yang tahu kalau malam itu Pak RT bertamu ke rumah Pakde.

Rumah yang masih saja berdinding batako tanpa plesteran dan berlantai ubin. Rumah yang mustinya sudah ditembok dan berlantai keramik seandainya harta Pakde tidak ludes dilalap api di perantauan. Rumah yang hanya dihuni Pakde dan Bude Prawiro karena keempat anak mereka bekerja di ibukota. Rumah yang sempurna kesederhanaannya karena Pakde menerima kedatangan Pak RT sambil terbatuk-batuk.

“Maafkan saya, Pak RT,” suara Pakde ditelan uhuk-uhuknya sendiri. “Sudah tiga hari ini saya batuk.”

“Jadi itu sebabnya Pakde tidak ikut gaple?”

“Tidak, Pak RT. Batuk ini soal yang lain lagi. Ini bawaan sejak masih di Sumatera dulu. Kalau soal tujuhbelasan saya memang tidak ikut merayakan.”

“Kenapa, Pakde?”

“Saya merasa belum merdeka, Pak RT.”

Pak RT memandang tidak mengerti.

“Kita sudah merdeka sejak Tujuh Belas Agustus tahun Empat Lima. Itu sebabnya kita merayakan tiap tahun.”

“Indonesia memang sudah merdeka, Pak RT. Tapi saya belum.”

“Maksud Pakde?”

“Negara kita memang sudah merdeka dari penjajahan secara militer, tapi belum merdeka dari penjajahan lainnya. Saya, misalnya, Pak RT. Saya belum merdeka dari kemiskinan. Belum merdeka dari teror. Belum merdeka dari rasa takut menghadapi masa depan anak-anak saya.”

Pak RT urung meneguk tehnya.

“Hampir tiap hari saya merasa dijajah, Pak RT. Dijajah oleh rasa was-was kalau-kalau besok ada bom lagi. Dijajah rasa takut kalau-kalau rumah anak saya kena gusur. Dijajah rasa ragu apakah besok istri saya dapat uang atau tidak. Dijajah rasa tidak pasti apakah kelak cucu-cucu saya sanggup menghadapi tuntutan  jaman… .”

Pakde beruhuk-uhuk lagi.

“Saya merasa belum merdeka, Pak RT. Itulah masalahnya. Kalau warga yang sudah merdeka mau merayakan, ya silakan. Kalau warga yang sudah menikmati kemerdekaan mau merayakan ya monggo, silakan… .”

Pak RT tertegun. Tapi segara menyadari bahwa apa yang dikatakan Pakde Prawiro ada benarnya. Ia setuju tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kapasitasnya sebagai Ketua RT tidak memungkinkannya untuk berpendapat yang neko-neko.

Pak RT memilih untuk melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Acara perayaan tujuhbelasan harus tetap berjalan, dengan atau tanpa kehadiran Pakde Prawiro. Keceriaan warga tidak boleh diusik, dan ini ditandai dengan sorak sorai peserta pertandingan gaple pada malam tujuh belas. Berarti juara gaple tahun ini sudah diketahui.

Berarti besok – pada panggung malam gembira – hadiah-hadiah sudah bisa dibagikan.

Berarti tinggal menyiapkan upacara besok pagi dan lomba untuk anak-anak. Semua sudah dipersiapkan. Tinggal menjalankan saja. Tinggal mengikuti schedule yang sudah ditetapkan panitia. Semua pasti berjalan lancar, kalau saja menjelang subuh tidak terdengar kabar Pakde Prawiro meninggal dunia. Pengumuman yang disampaikan lewat corong mushola seperti berita bom yang meledak di Bali. Membuat warga yang mendengar tertegun antara percaya dan setengah tidak percaya.

Rumah yang sudah sempit itu semakin sumpek dipenuhi warga. Tetangga kiri kanan silih berganti datang melayat. Pak RT yang agak telat – seusai melaksanakan sholat jenazah – terlihat menepuk-nepuk pundak Bude Prawiro.

“Bersyukurlah, Bude,” kata Pak RT lirih. “Bersyukurlah… .”

Tangis Bude tenggelam di antara alunan ayat-ayat suci.

“Pakde sekarang sudah merdeka,” suara Pak RT tambah lirih. “Pakde sudah merdeka….”

 

 

Pangkalan Bun, awal Juli 2008