colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in catatan perjalanan

Selama ini saya sering dengar berita orang dihipnotis/gendam di jalan atau di tempat tertentu dan diambil barang atau uangnya… saya pikir orang itu terlalu lemah sampai bisai dikelabui orang jahat. Dan sekarang …. saya mengalaminya !

Rupanya rasa dihipnotis itu seperti melayang, pijakan kaki itu mengambang sehingga setiap melangkah atau bahkan sedang diam pun badan serasa bergoyang pelan kiri kanan dan pikiran berada antara sadar dan tidak (kebetulan saya tidak sampai lebih jauh, mungkin bila keterusan menjadi pikiranan tidak sadar).

Kronologi kejadiannya, tanggal 5 Oktober 08 kemarin, hari terakhir saat saya dan keluarga travelling. Kami menginap di Park Royal on Kitchenery Road, persis samping Mustafa Center di daerah Little India. Kebetulan anak saya ingin jalan2 ke daerah Orchad, yg jaraknya 4 stop stasiun MRT/Kereta Bawah Tanah, kebetulan juga saya lagi cari baterry backup untuk kamera, maka jadilah kami ke sana (Orchad).

Ketika kami berada di Mall Paragon (seberang Takashimaya) hujan turun, sementara kami ingin pindah ke plaza sebelah (Lucky Plaza) yg jaraknya cuma 50 meter. Karena menunggu hujan reda lama, saat hujan tinggal rintik2 kami putuskan untuk lari2 kecil menerobos hujan. Pada saat itu suasana orang2 cukup ramai. Dua anak saya lari duluan di depan, kira2 10 meter di belakangnya, saya juga berlari dengan backpack kamera di punggung dan saputangan kecil di kepala. Terakhir Ibunya anak2 dengan kakak saya berada 20 meter di belakang saya.

Nah di sini lah kejadiannya. Pada saat saya sampai pinggiran Lucky Plaza, ada seseorang menepuk pundak saya yg membuat saya kaget dan menoleh dan memandang orang tersebut. Masih pada situasi ter-engah2 habis berlari dan kondisi kaget, dia berucap ‘where is public phone?’. Saya yg masih kaget belum bisa jawab, tapi saya mulai merasakan pijakan kaki saya seperti amblas dan mulailah rasa melayang, tapi pikiran saya masih jalan. Saya masih berpikir rasional: ah mungkin gula darah saya mungkin drop, karena tadi di hotel saya minum obat diabetes tapi makannya gak bener.

Saya masih terus merasa melayang…. saya coba pindah pandangan untuk cari anak saya di mana….

Sekilas saya lihat kedua anak saya ada 4-5 langkah di sebelah kiri belakang saya. Mereka kebetulan juga sedang memandang saya, karena mereka sedang menunggu dan ingin masuk ke Plaza bersama Ayah-Ibunya. Anak saya ini bukannya tidak berani masuk Mall/Plaza sendirian, tapi mereka lebih senang bila ada Ayah-Ibunya di dekatnya bila berada di pusat perbelanjaan. Alasannya cuma satu…. biar ada yg gampang ditodong untuk bayar !

Setelah yakin ada anak2 di sekitar saya, pandangan saya alihkan kembali ke si penanya tadi. Pada saat ini saya belum berpikiran kalau saya dihipnotis. Saya masih berpikir rasional kalau rasa melayang itu karena kadar gula darah saya.

Ketika saya beradu pandang dengan orang itu, dia kembali mengulang pertanyaan tadi ‘where is the public phone?!!!‘. Kali ini pertanyaan diajukan dengan nada yg lebih tinggi dan terkesan mengintimidasi. Pandangan matanya pun tajam menatap saya. Saya yg agak gugup pada saat pertanyaan pertama dan hanya bereaksi menjawab ‘Hah!‘, kali ini agak lebih tenang. Saya berusaha menguasai keadaan, jangan sampai rasa melayang ini membuat saya jatuh. Saya juga lebih tenang karena yakin anak saya melihat saya.

Setelah orang itu mengintimidasi dengan pertanyaan kedua tadi, rasa melayang itu semakin menjadi-jadi. Saya bahkan gamang untuk melangkah mendekati anak saya. Tatapan matanya pada saat beradu pandang tadi juga serasa menambah berat kepala untuk berpikir. Di tengah suasana kritis ini, tercuat juga pikiran…. ah jangan2 saya sedang dihipnotis seperti yg sering dialami orang lain.

Begitu pikiran tentang hipnotis ini muncul, secara reflek saya berusaha mengalihkan pandangan dari fokus matanya. Saya coba alihkan pandangan menyapu tubuhnya dari atas ke bawah. Agak susah memang. Tapi tekad saya untuk melawan ini ternyata membantu kemampuan otak untuk menggerakan mata dan kepala ke arah bawah. Sekilas saya perhatikan dia berambut pendek, memakai baju putih ‘off white’ yg lebih mengarah ke cream. Tangannya memegang semacam buku tebal ber-cover coklat dan terselip tulisan tangan di antara halamannya. Entah kitab apa itu. Dia juga menggunakan celana jeans kelabu terang dan bersepatu. Secara keseluruhan orang itu tampaknya seperti orang Melayu atau daerah sekitarnya.

Setelah mengalihkan pandangan, saya agak lebih tenang. Rasa melayang masih ada, tetapi saya mulai mudah berpikir rasional. Pikiran bahwa saya dihipnotis, akal sehat saya menerimanya. Rasionalitas kepala saya masih jalan. Saya pikir kenapa orang itu untuk menanyakan hanya masalah telepon umum harus kepada saya yg baru menyeberang dari gedung sebelah dan terlihat seperti pendatang pula. Kenapa tidak kepada orang2 di sekitarnya yg cukup ramai…? saya makin yakin bahwa saya sedang dalam upaya dihipnotis untuk diperdaya barang bawaan saya.

Keyakinan bahwa saya dalam usaha pengaruh hipnotis, menggerakan pikiran saya untuk mengerahkan segala daya untuk melawan. Usaha melawan yg pertama muncul dalam pikiran saya adalah: jangan ladeni orang ini ! …. hindari dia !
Secara reflek pula akhirnya mulut saya bisa bicara: ‘I don`t know…..gak tau!‘, sambil tetap membuang muka ke arah lain. Pandangan mata kembali saya arahkan ke anak saya. Walau dengan langkah gamang karena merasa pijakan bumi mengayun ke dalam setiap melangkah, saya paksakan mendekat ke anak kedua saya, Ino.

Melalui usaha susah payah, akhirnya berhasil juga saya mendekat ke Ino. Saya raih pundaknya untuk topangan berat badan saya. Anak kedua saya ini, walaupun perempuan ‘cukup kekar’ juga badannya dibandingkan si sulung kakaknya. Jadi saya cukup mantap ‘melendot’ (apa ya istilah yg tepatnya?) ke badannya. Sambil kemudian saya berbisik: “No, tolong pegangi Ayah… sepertinya Ayah mau pingsan…”. Dengan bantuan pundak Ino, saya ajak kedua anak saya melangkah ke pintu masuk Plaza. Ibunya anak2 dan kakak saya belum sampai juga. Mereka berdua jalan perlahan tidak lari.

Satu langkah sebelum pintu masuk, saya masih penasaran untuk melirik si penghipnotis tadi. Sekilas saya lihat dia sudah menepi ke sisi lain depan plaza dan terlihat berbincang dengan temannya, tapi sesekali dia masih berusaha melihat saya dengan pandangan yg sepertinya ‘mengancam’. Tersirat juga di wajahnya rasa dongkol karena gagal usahanya. Dia tidak meneruskan upaya hipnotisnya karena dia tidak menyangka saya bepergian bersama keluarga/rombongan. Mungkin saja kalau saya sendirian dia akan lebih berhasil mengintimidasi pikiran saya…..

Akhirnya setelah menunggu beberapa saat Ibunya anak2 dan kakak saya muncul dan kami sama2 masuk ke dalam Plaza. Perasaan melayang masih saya rasakan sekitar lima menitan sampai saya menemukan kursi di salah satu toko elektronik. Setelah rasa melayang agak reda barulah saya cerita ke semuanya tentang upaya hipnotis tadi. Sebelumnya keluarga saya tidak tahu kalau tadi saya masih dalam pengaruh ’setengah’ ter-hipnotis. Semua bersyukur saya masih mendapat perlindungan Yg Kuasa dengan diberikan kemampuan berpikir logis, sehingga terhindar dari kerugian yg lebih jauh. Saya juga bersyukur didampingi anak2 karena tanpa mereka mungkin saja saya berhasil dihipnotis orang tadi.

Banyak kenangan dan pelajaran saya peroleh dari peristiwa itu. Tapi paling tidak satu yg tetap melekat: Rasa dihipnotis/gendam itu lho…. agak2 aneh rasanya … dan backpack si Iteung saya juga turut selamat….

Seperti diposting oleh didiet pada Jumat 10 Okt 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1357

1.Ikan Cepa Rica-rica

Bahan utama ya ikan, cabe, bawang, tomat. Ikan Cepa kalo di kita biasa disebut ikan kuwe. Para pemancing bilang ikan GT (Giant Travelling). Masaknya, ikan dibakar atau digoreng trus diberi toppingnya yaitu tumisan cabe, tomat, bawang dll (soal bumbu dan cara masak, sumpe lo, saya gak peduli, yang puenting tinggal nyomot, mangap and aaammm.. hhmmm….pueedesss n nyammii…

2. Loka Ancoroi

Ini agak unik sesuai namanya (awalnya saya pikir ’pisang palubutung’ ternyata bukan), tapi tentu banyak juga yang sudah pernah mencicipi. Bayangkan, kolak pisang kepok dimakan sama nasi dan ikan. Tapi jangan salah, walaupun memang santannya kuenthel buanget, tapi tidak manis karena memang tidak pake gula. Pisang dipilih yang sudah tua tapi belum matang (ya pisang puber lah kira-kira). Jadi pisang itu lagi kuenceng-kuencengnya, bak gadis umur 3 esempean gitu. Soal rasa, ya itu tadi, rada kurang biasa buat kita yang makan kolak cuma pas buka puasa aja. Kebayang kan, makan nasi pake kolak pisang yang gak manis trus lauknya ikan pedes. Tapi kalo makannya pisang aja pake ikan aja..hmmm enak aja tuh…. Sungguh aja deh!! Coba aja!.

3. Ikan Tuna Masak Mandar

Nah ini juga khas. Ikan ditumis dengan menggunakan minyak khas mandar atau Minyak Mandar dengan berbagai bumbu. Di kita mah, minyak lentik atawa bahasa sekarang dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO). Memang minyak mandar berbeda dengan VCO karena dia diperoleh dari hasil pemanasan, VCO pan enggak. Ya minyak lentik lah yang pas. Wangi sekali aromanya, gurih..hhmm rada khas bau harum kelapa. Jadi ikan dihidangkan selagi hangat dan ikan harus segar. Kebayang kan uenaknya…pokoke ’you must try it!’ (jika berkesempatan ke Sulbar atawa Sulsel).

Seperti diposting oleh masduki pada Sabtu 30 Jan 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1903

Di antara rindangnya pohon-pohon hijau besar, 60 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, bersuka ria. Mereka tengah melakukan kegiatan luar ruang di tengah keindahan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Sabtu dua pekan lalu.

Para mahasiswa ini adalah bagian dari ribuan pengunjung yang setiap tahun memanfaatkan salah satu cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) itu sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan.
Memang, dengan beragam kepentingan pengunjung mendatangi kebun raya yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan, ini, dari penelitian hingga sekadar menikmati sejuknya embusan angin pegunungan. Bahkan, tak sedikit yang memadu kasih.

Terletak di tepi jalan raya utama yang menghubungkan Surabaya-Malang, tempat ini mudah dijangkau. Dari Surabaya hanya 65 kilometer ke arah selatan. Dari Malang terpaut jarak 24 kilometer ke arah utara. Sedangkan dari Pasuruan 30 kilometer ke arah barat daya.

Didirikan pada 30 Januari 61 tahun silam oleh Dr LGM Baas Becking, Kebun Raya Purwodadi merupakan Unit Pelaksana Teknis Konservasi Tumbuhan yang bernaung dan bertanggung jawab kepada Deputi Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati.
Tugas dan fungsinya adalah melakukan inventarisasi, eksplorasi, dan konservasi tumbuh-tumbuhan yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi, langka, serta dan endemik, terutama flora Indonesia dari dataran rendah kering. Di tempat ini tersedia fasilitas penelitian, pendidikan, dan pemanduan, khususnya di bidang botani. Juga, tentu saja, fasilitas rekreasi di alam terbuka.

Dalam keseharian, kebun raya ini lebih lekat sebagai tempat rekreasi. Sejumlah pasangan muda yang memadu kasih menjadi pemandangan yang bisa disaksikan di setiap sudut di area seluas 85 hektare ini. Tangan-tangan usil pun mengotori tempat itu dengan coretan-coretan bernada cinta di berbagai tempat.
Jamal, petugas loket penjualan tiket masuk, sudah mafhum. Ia tak menampik fakta, selain rombongan mahasiswa dan pelajar atau keluarga, jumlah pasangan muda-mudi memang tak kalah banyak. Tak jarang orang menyebut tempat ini sebagai “kebun jodoh”. “Ya, sebutan orang bermacam-macam. Mau diiyakan, gimana. Tidak diiyakan, faktanya begitu,” tuturnya kepada Tempo.

Berada pada ketinggian 300 meter dari permukaan laut dengan topografi datar sampai bergelombang, curah hujan di sana rata-rata 2.372 milimeter per tahun. Dengan suhu 22-23 derajat Celsius, tempat ini tergolong sejuk.
Semula, kebun raya ini dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan. Pada 1954 mulai diterapkan dasar-dasar perkebunrayaan, yaitu dengan dimulainya pembuatan petak-petak koleksi tanaman. Kemudian, sejak 1980, tanaman ditata menurut kelompok suku.

“Kebun raya ini juga berfungsi memberikan pelayanan jasa ilmiah, pemasyarakatan ilmu pengetahuan dalam bidang konservasi tumbuhan, dan introduksi tumbuhan,” kata Fitria Rizki Wijaya, anggota staf Jasa Informasi Kebun Raya Purwodadi. Selain itu, kebun raya ini melakukan pendataan, pendokumentasian, serta pelayanan jasa dan informasi.

Dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh, tarif masuk ke tempat ini tergolong murah Rp 4.500 per orang. Tersedia kendaraan yang bisa membawa pengunjung mengelilingi kebun raya dengan tarif Rp 6.500 per mobil.
Bagi pelajar, mahasiswa, juga kunjungan dinas yang datang dengan rombongan, diberikan diskon 15 persen. Rombongan umum diberikan diskon 10 persen, sedangkan rombongan dari panti jompo, panti sosial, manusia lanjut usia, anak-anak usia taman kanak-kanak, anak yatim piatu, atau pasien rumah sakit jiwa diberi diskon 50-75 persen.

Rombongan yang akan berkunjung diminta memberitahukan terlebih dulu kepada pengelola agar disiapkan fasilitas yang dibutuhkan, seperti penyediaan material tumbuhan hingga jaga pemandu. Selain itu, disediakan area perkemahan, guest house, gedung konservasi, ruang seminar, dan kantin.
Sebagai tempat yang biasa dijadikan tempat riset, Kebun Raya Purwodadi memiliki perpustakaan yang berisi sekitar 4.000 bahan pustaka mengenai botani serta seluk-beluk kebun raya di Indonesia dan dunia.

Dari data yang diperoleh Tempo, jumlah pengunjung dari tahun ke tahun berfluktuasi, bahkan cenderung menurun. Angka tertinggi pernah dicapai pada 2001, yakni 186.440 orang. Tahun berikutnya menurun, yakni 118.933 orang. Jumlah pengunjung kembali membaik pada tahun berikutnya, meski angkanya hanya berkisar 155 ribu orang. Tahun ini, hingga Maret, sudah ada 51.076 pengunjung.

Kepala Kebun Raya Purwodadi Djauhari Asikin mengatakan jumlah pengunjung itu belum ideal. Pelanggan tetap masih didominasi pelajar dan mahasiswa. Sumber: www.korantempo.com (Jumat, 02 Mei 2008)

Seperti diposting oleh hayat pada Jumat 02 Mei 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=461

Pada awal Juni 2009, sekelompok alumni SPMA dari angkatan Legenda (1982) mengadakan kunjungan ke Malaysia. Acara yang disebut “Mini Reuni” ini merupakan bentuk silaturahmi antar alumni, dengan sesama alumni angkatan 1982 yang kebetulan berasal dari negeri jiran tersebut.
Seperti apa seru dan harunya acara yang diberi tajuk Friendship Forever itu?
Dwi Kania yang menjadi intruder dalam rombongan beranggotakan delapan orang tersebut, menuturkannya ringkasannya dalam catatan berikut ini….

Hari pertama - Selasa, 9 Juni 2009
Penerbangan QZ 7676 Airasia direncanakan pk. 17.10 wib. Jam 10 pagi semua anggota rombongan dari Bogor (mDiet, k aef, k novie, k nina, k mudiani, k nono, k ented dan satu intruder dari 84) kumpul di Pool DAMRI diantar oleh keluarga masing2…. Ajegile busyett…. kopernya banyaaak banget…8 koper, 6 handbag belum lagi handbag kecil yg dipegang masing2, tripod, tas kamera….hehehe…..

Penerbangan delay 45 menit….
Alhamdulilah perjalanan lancar, ya… grudug2 sedikit karena turbulensi rada2 menakutkan juga sih…. lewat jam 24 kami tiba di Kota Kinabalu…..
Keluar Bandara…..woow…… kota dengan lampu2nya yang cantik…. terus terang saya tidak menyangka bahwa KK adalah kota besar… saya pikir paling segede Bandung gitu…
Kami disediakan penginapan di Condominium di tepi laut china selatan, dengan 2 pulau di kejauhan….. kelip2 lampu yacht dan kapal2 kecil…. cuantikkkk…..

Hari kedua - Rabu, 10 Juni 2009
Pagi ini, kami diajak sarapan roti canai, nasi lemak, minum teh tarik di kedai h yusuf…. ternyata kuenyangg banget…. roti canai dicocol sama kuah kari ayam - kari daging….
jam 11-an kami diundang untuk makan siang di Tun Mustapha Tower Lt 18- resto yang bisa berputar 360 derajat.

Makanannya sea food yg cantik dan enak…. yang paling rugi, k nina… dia gak suka sea food….

di depan restoran Tun Mustapha

Setelah foto-foto di Tun Mustapha, kami diajak melihat2 Kampus Universitas Malaysia Sabah (UMS) kemudian ke Super Mall One Borneo… Terus ke Muzium Sabah…. Masa lalu, masa kini dan visi Sabah sebagai satu ‘provinsi’ tergambar lengkap.

Hari ketiga - Kamis 11 Juni 2009…
Pagi ini kami akan ke Maliau Basin…. 320 km dari KK ! Aiiihhhh…. setara Bogor-Cirebon katanya….
Jalan lebar dan sepi membuat perjalanan tidak terasa, apalagi dengan pemandangan yang indah…
jalan menanjak terus dan mulai dingin, setelah 2 jam ….singgah di Gunung Alab Resort… minum kopi dan ke tandas (toilet/wc) ….
Makan siang di kota kecil Keningau… 150 km dari KK….
Supaya gak terlalu malam, kami segera melanjutkan perjalanan… Sepanjang jalan pemandangan hutan bagus banget, sering sekali kami berpapasan dengan lori balak, truk besar pengangkut kayu gelondongan yang sangat super besar.

Jam 17.42 kami tiba di Gerbang Maliau Basin.

gerbang malianu basin

Capek dan berharap bisa segera meluruskan badan…..
Eeittt…tunggu masih 27 km untuk sampai ke lokasi resortnya…. haaaah? Dan jalannya itu… off road….
27 km jalannya juga masih sedang dikerjakan. Di beberapa lokasi malah masih diratakan, berlumpur… syeremmm tapi seru juga.. jangan kuatir, mobil2nya four wheels drive kecuali Rush-nya kak Rosley…
sampai di resort…. lelah, mobil2 belepotan lumpur, tapi semua gembira, kagum, rumah kayunya cantik katanya terbuat dari kayu balian yang akan semakin kuat kalau kena air.. kalau di bali biasanya kayu bangkirai dan kayu ulin, tapi gak tau deh..apa itu kayu yg sama?

Habis makan, bagi2 kamar.. terimakasih banget buat k ishak dan k reynard, k kadir, k linus, k rosley d k moh marzuki juga semuanya deh, yang sudah membawa kami ke tempat paling unik dan eksotik.
apalagi setelah melihat tayangan tentang maliau basin, yg ternyata adalah satu kawah purba 40 x 60 km2 dan sudah menjadi world heritage.

Hari ketiga - Kamis, 11 Juni 2009 : Maliau Basin
Setelah sarapan, perjalanan dimulai. Pohon2 tegak tinggiiii.. bener2 baru lihat hutan asli, suara burung2 hutan .. saat sarapan saya bagikan sejenis suling bambu kecil dengan tuas pengatur suara untuk memanggil burung buat anak2 - oleh2 khas indonesia (di bogor, yogya, solo ada).
Saat suling ditiup, banyak burung yang menjawab.. gak tau deh, entah benar atau memang mereka juga sedang saatnya berkicau..hehehe…

jembatan gantung di maliau basin

Whoww…pohon pertama adalah pohon merbau, mungkin diameternya 2 pelukan orang dewasa saking besarnya, tangga naik masih normal. Untuk ke pohon berikutnya, mulai ada tangga menanjak manjat 45 derajat. Rest area di pohon kedua - pohon balian, kalo gak salah…. Sebesar 3 pelukan orang dewasa, baru deh ada skybridge dari kayu - jembatan gantung.

Setelah ber’canopy walk’.. kita check out menuju Kundasang - dataran tinggi di kaki gunung Kinabalu - seperti ke puncak….

jpg

Istirahat untuk makan siang di hotel Juta di Keningau jam 3 sore… makanannya melimpah, enak banget, sup pembuka-nya aja sedapp…
Sampai di hotel Perkasa di Kundasang, hawanya segar seperti di Cisarua - Cibodas …. Malam itu ditutup dengan makan bersama tanpa bunda novie, yang meriang dan gak mau makan.


Hari keempat - Jum’at, 12 Juni 2009

Kamar saya menghadap ke gunung Kinabalu..keren deh… apalagi kamar k aef (chalet/bungalow), pandangannya lepas ke kaki gunung…subhanallah.. apalagi saat matahari baru terbit… berkas sinarnya menempus pohon2 pinus.

Sehabis sarapan, kita naik ke Mesilau resort untuk melihat gunung lebih dekat.. bunga2 dandelion kuning memenuhi sepanjang tepi jalan..cantiiikk….
Sungai2 disini jernih, beda banget dengan sungai ke arah Maliau Basin. Batu2 besar..
terus naik lagi ke Desa Cattle, dengan sapi FH

jpg

Ke Kinabalu national park, saya dan oom admin diantar k reynard d Celina sampai ke Base I Pendakian di ketinggian 1.960 m dpl !!!..
Perjalanan ke arah KK alamnya asri banget, bukit2 sambung menyambung, terasa banget kita ada di kaki kunung atau cekungan apa gitu…sebenarnya saya pengen turun motret, tapi hari udah sore banget, padahal cahaya sorenya baguuus…

Hari keenam - Minggu, 14 juni 2009

Sampai juga di GAYA STREET… kompleks ruko seperti di pasar baru, area parkir di depan toko2 tiap minggu jadi tempat jualan kaki lima.. ada sekelompok tunanetra yg dikoordinir dan dijajarkan di teras toko, mereka buka jasa pijit refleksi kaki….

... bukan TKI lho ...

Yang dijual disini lengkap banget, ada sayuran-bunga-pets-souvenir-jajanan - oleh2 - bahkan rotan! beneran buat mecut budak (anak2) diameter sekelingking sampe segede jempol kaki om admin. tshirt !! hehehe… yg kemarin beli di Kinabalu Park dengan menyesal melihat harga yg separuhnya…. apalagi k nina… serenceng gantungan kunci di kundasang disini bisa dapet 3 renceng…. begitulah…. gak denger bisikan oom kadir sih…hehehe….

Jam 11 ke Harvest Festival.
Satu kehormatan dari oom albert… kita audiensi juga sama pak menteri perladangan dan komoditi…mc beberapa kali menyebut Indonesia… dan kami tersenyum mengangguk…hehe… walaupun gak gitu ngerti apa yang disampaikan, karena pake bahasa kadazan…. diminta menari tradisional khas suku kadazan, .. disuguhi arak beras, kata k nono dan oom admin…persis kayak air tape ketan … cai peuyeum…. manis wangi..

Di Sabah ini, bener2 kita wisata kuliner… lagi2 kita disuguhi makan siang super enak di satu tempat seperti pujasera yang cozy banget… jalan lagi ke signal hill untuk melihat KK dari atas bukit, seperti victoria’s peak di hongkong…. terus lagi ditraktir k reynard makan es krim VEDA BLUE yang full susu segar, tapi gak berasa susu… terbukti k nina dengan nikmatnya makan es krim duren dengan sukses…. Terus ke pantai untuk lihat sunset dan ditutup dengan makan ikan-udang-cumi bakar di pasar malam….

 class='alignleft' /></p> <p>gilee, udangnya guede banget, baru makan 1/3nya lidah saya terasa kebal....<br /> ada yg unik ... rumput laut nya brindil2 seperti anggur mini dari plastik, saya kira hiasan... taunya bisa dimakan, rasanya asem-asin seger.. Oya, sea food dibakar begitu saja, dimakan dengan sambel : potongan cabe rawit + jeruk / lemon cuy + kecap manis (yg tetep asin).... </p> <p><b>Hari ketujuh, Senin, 15 Juni 2009 </b><br /> Hari ini ke rumah kak rosley di kota PAPAR.... 27 Km dari KK, kayak Bogor-Cisarua gitu... waktu di rumah kak rosley, datang keluarga k jiman ...ngobrol2, terus ke farmnya k rosley kebun buah dan nursery (stok tanaman buat usaha landscape-nya) juga ke peternakan kambing yg gak bau ... beneran gak bau lho, karena kandangnya juga dibuat dengan sungguh2...</p> <p><b>Hari kedelapan, selasa 16 juni 2009. </b><br /> Pagi ini semua sibuk... cantik-ganteng-wangi.. jam 7 pagi semua berangkat, karena setelah dijamu sarapan (di hotel le meridien, kk) acara registrasi jam 8 pagi....Siang pembukaan oleh Menteri </p> <p>Akhirnya beli ankle banded dan arak urut merknya sloan's..ditambah voltaren dari kemarin dan diurut si oom.. lumayan enak, bisa jalan dan nunggu si oom keliling Karamunsing - electronic centre di KK - beneran murah, dan dengan menyesal dia gak bisa beli apa2 karena bawaan udah banyak, dan saya pincang gak bisa bantu gotong2.... bisa lebih murah 40%... </p> <p>sebelum ke bandara, masih juga k rosley ngejamu makan sea food terutama buat yg kemarin malam gak ikut makan...</p> <p><img src=Luar biasa banget…. ketulusan, kesungguhan, keseriusan..dalam diam dan bahasa isyarat semua acara berjalan lancar, smooth…. hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat membalas semua ketulusan itu.. semoga kesuksesan, kelancaran usaha, kesehatan dan kebahagian selalu menyertai kakak semua.

Seperti diposting oleh nonon pada Kamis 18 Juni 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1989


…. sunset di marine scout….

Ini teh tarik di kedai H. Yusuf belakang Hotel Marina Court

Ada minuman khas yang ada di Malaysia tapi tidak ada di Indonesia, yaitu Teh Tarik. Saya tidak tahu persis kenapa disebut teh tarik. Karena buatnya bukan di tarik-tarik, justru malah dikucur-kucur, dipindah dari gelas satu ke gelas lain, dikucurkan dari atas ke bawah (soalnya ga bisa dikucurkan dari bawah ke atas).

jpg

Teh Tarik sebetulnya teh biasa (teh tubruk) yang dicampur susu sapi , konon susunya juga dibuat khusus untuk campuran teh tarik, sebab tidak seperti susu kental yang rasanya manis atau susu murni yang rasanya tidak manis.
Teh tarik disajikan sepanjang waktu, baik pagi, siang maupun malam hari. Bagi saya paling enak teh tarik diminum di pagi hari atau malam hari ketika cuaca terasa dingin.

Teh yang sudah diseduh dicampur susu dengan komposisi tertentu (saya ga nanya berapa perbandingan susu dan tehnya), lalu diaduk dengan sendok, setelah itu campuran tersebut dikucurkan bolak balik dari gelas satu ke gelas lain. Mengucurkan teh tarik dari gelas satu ke gelas lain secara bolak balik, dugaan saya untuk mendapatkan efek pencampuran yang merata antara susu dan teh, serta mendapat efek ‘blending’ dengan menggunakan tangan agar mendapatkan sensasi rasa yang khas.

jpg

Hasilnya adalah minuman teh bercampur susu, rasa tehnya sangat nyata, sedikit sepet diiringi rasa susu yang gurih, tidak manis. Bagi kita yang terbiasa minum teh tawar atau teh manis, rasanya memang agak tidak lazim. Tapi setelah beberapa kali mencobanya rasanya memang khas dan ada sensasi sendiri dibanding teh tawar atau teh manis yang biasa kita minum, apalagi dinikmati dengan diselingi roti canai dan bumbu karinya atau penganan khas malaysia lainnya.

Seperti diposting oleh saefoel pada Senin 22 Juni 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1993

sebuah catatan Eko Supriyanto

Ketika mendapat pemberitahuan diterima di SPMA Negeri Bogor dan diwajibkan tinggal di asrama, rasanya saya sudah seperti anggota Lima Sekawan atau Sapta Siaga – tokoh dalam novel karya Enid Blyton terbitan Gramedia yang saat itu sedang digemari sebagian besar remaja.

Petualangan anggota Lima Sekawan atau cerita suka duka anggota Sapta Siaga dalam memecahkan suatu masalah menjadi obsesi ketika itu. Dalam perjalanan KRL Jabotabek dari Jakarta ke Bogor, sudah terbayangkan hal-hal menarik yang akan saya alami selama menjadi penghuni asrama. Tinggal bersama anak-anak dari daerah lain dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil seperti melompati pagar, menyembunyikan kaus kaki teman sekamar, atau keisengan-keisengan lainnya.

Kemudian memang terbukti – setelah tiga tahun menjalani kehidupan di asrama – tempat itu tidak hanya mengajarkan kita untuk melakukan kenakalan, tetapi juga membuat kita menjadi lebih mandiri dan lebih menghargai nilai-nilai persahabatan. Tidak bisa dipungkiri betapa hubungan emosional antara sesama penghuni asrama – apalagi teman sekamar – menjadi sangat erat dan tidak mudah terlupakan, bahkan setelah berpisah bertahun-tahun kemudian.

Berikut ini hanyalah sebagian kenangan di antaranya.

Kunci Lemari Bolong-Bolong

Asrama Dewi Sri terletak di Desa Pancasan. Berada di tempat yang agak tinggi sehingga dari halaman depan kita bisa melihat sebagian Kota Bogor. Saya sudah membayangkan betapa nikmatnya duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati pemandangan di bawahnya.

Tapi sialnya saya tidak kebagian di kamar, melainkan di zaal. Saat itu kamar-kamar hanya diperuntukkan bagi siswa kelas dua. Seluruh siswa baru ditempatkan di zaal – semacam aula yang diisi tempat tidur tingkat berjejer-jejer seperti di rumah sakit.

Zaal ada dua buah yang diberi nama Zaal A dan Zaal B. Terletak agak di belakang, dekat musholla dan ruang cuci sehingga musnah sudah harapan duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati pemandangan sore.

Satu Zaal ditempati hingga sekitar empat puluh siswa. Di dalamnya berjejer tempat tidur kayu bertingkat di sisi kiri dan kanan. Di tengah ruangan disediakan meja besar untuk belajar.

Tempat tidurnya bertingkat sehingga siapa yang datang lebih dulu bisa memilih apakah akan tidur di bawah atau di atas. Sebagian besar memilih di bawah karena tidak perlu naik turun dulu kalau mau tidur. Tapi yang datang belakangan – apa boleh buat – hanya bisa memilih tempat di atas.

“Awas jangan ngelindur,” kata teman yang kebagian tidur di bawah.

Memang kebayang juga sih apa jadinya kalau tidur di atas dan bermimpi jalan-jalan, misalnya. Kalau sampai walking in the sleep kan gawat, bisa ngedubrak ke bawah!

Di samping tempat tidur ada lemari kayu dua pintu berukuran sedang. Lemari itu untuk menyimpan barang-barang siswa seperti pakaian atau buku-buku. Lucunya, lemari itu tidak dilengkapi kunci. Padahal lubang kuncinya ada, tapi bolong blong!

Waktu ditanyakan kepada pengurus asrama yang saat itu ada, dia mengatakan bahwa dulu semua lemari ada kuncinya. Kalau sekarang bolong mungkin diambil kakak kelas yang pindah ke kamar.

“Kenapa, Mang?”

“Mungkin lemari yang di kamar juga bolong tidak ada kuncinya,” kata si Mamang.

“Padahal lemari yang di kamar tadinya juga berkunci kan, Mang?”

“Iya, tapi mungkin waktu siswanya pindah ke Dewi Sri II di sana kunci lemarinya juga sudah bolong-bolong.”

Kemungkinan kunci lemari di Dewi Sri II juga dicopoti oleh kakak kelas tiga. Pertanyaannya kemudian adalah: untuk apa kakak kelas tiga yang sudah lulus mengambil kunci lemari?

Untuk souvenir, barangkali.

Nama-namanya Hampir Mirip

Hari pertama memasuki asrama, sore hari hampir semua penghuni sudah datang dan menempati tempatnya masing-masing. Sebagian besar datang diantar keluarganya. Mnejelang ashar, para pengantar pulang ke kotanya masing-masing, meninggalkan anak mereka untuk hidup mandiri di asrama.

Tidak ada yang pakai bertangis-tangisan. Hanya sekedar menyalami atau mencium pipi. Orangtua juga tak lupa memberikan pesan klise seperti: hati-hati di kampung orang, jangan lupa kirim surat, harus rajin-rajin belajar, jangan pacaran dulu, jangan sampai terlambat makan, jangan lupa sholat lima waktu, jangan berantem sama teman, dan petatah-petitih lainnya.

Setelah orangtua pulang, siswa duduk di tempat tidurnya, terbengong-bengong sambil melihat kiri-kanan seperti ayam yang baru dibeli dari pasar. Satu dua mulai memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan menanyakan kampung asal teman barunya.

Sebagai orang Jakarta, sore itu saya dipusingkan dengan begitu banyak nama yang terdengar mirip atau hampir sama satu sama lainnya. Begitu banyak yang nama depannya Asep, Abdul, atau Agus. Ada lagi Ace, Ece, Didin, Deden, Dayat, Yayat, Mamat, Maman, Yayan, Wawan, belum lagi teman-teman dari Brebes yang seperti fanatik dengan huruf C dan K. Selalu ada huruf K dan C dalam nama mereka. Nama-nama seperti Carmo, Caskim, Carmad, Carmun menjadi ciri khas mereka.

Saat itu saya mulai bisa menyimpulkan bahwa nama-nama Sunda memang cenderung mengalami pengulangan. Lihat saja nama-nama seperti Maman Suryaman, Maman Supratman, Mul Mulyawan, Dayat Hidayat, Yanto Herdiyanto, Yayan Sofyan, Herman Hermawan, Dedi Setiadi, Mamat Surahmat, atau Wawan Suryawan.

Jadi memang masuk akal kalau kemudian ada yang menggabungkan Cecep dengan Gorbachev, misalnya, walau hanya sekedar gurauan.

Maka sampai beberapa hari kemudian saya masih sulit membedakan yang mana Asep yang mana Cecep. Masih suka salah memanggil yang mana Dayat yang mana Yayat. Kalau mereka sedang berkumpul dan saya memanggil, “Sep!” bisa dipastikan Si Cecep ikut menoleh.

Tapi untunglah akhirnya ditemukan cara untuk menghindari salah panggil atau salah sebut. Nama-nama digabungkan dengan kota asalnya. Maka ada Asep Sukabumi ada Asep Bandung. Ada Maman Tasik ada Maman Garut.

Gunung Salak Sebagai Panduan

Waktu itu di Asrama Dewi Sri I ada duabelas kamar dan dua zaal. Jika tiap kamar berisi empat orang dan tiap zaal dihuni empat puluh siswa, maka total terdapat tidak kurang dari 128 siswa.

Jumlah ini memang tidak kelihatan kalau seluruhnya berada dalam kamar masing-masing. Tapi begitu tiba saatnya mandi, baru terasa betapa kamar mandi yang ada sangat kurang jumlahnya.

Di tengah asrama ada delapan kamar mandi. Di sudut depan asrama ada lagi empat kamar mandi. Di tengah-tengahnya ada delapan WC terpisah, berjejer seperti rangkaian gerbong keretaapi.

Maka antrian pun terjadi hampir di setiap acara mandi – terutama mandi pagi. Semua berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk melilit leher sambil memegang gayung berisi sikat gigi, odol, dan sabun.

Satu orang keluar, yang di luar segera masuk menggantikan. Antrian yang sama juga terlihat di depan WC. Yang menyenangkan dari ritual ini adalah: sambil menunggu giliran kita bisa ngobrol ngalor-ngidul. Jadi acara antri menjadi tidak membosankan.

Begitu itu terjadi hampir tiap pagi.

Kesibukan yang sama terjadi lagi pada saat siswa mencuci pakaian. Biasanya pada sabtu sore atau minggu pagi, kecuali minggu pertama – karena pada sabtu sore minggu pertama sebagian besar siswa pulang ke kampungnya masing-masing untuk mengambil jatah bulanan.

Untunglah di asrama disediakan tempat khusus untuk mencuci pakaian sehingga tidak perlu mencuci di kamar mandi yang dapat memperpanjang antrian.

Kebutuhan mencuci pakaian ini ternyata juga terjadi pada hari biasa kalau paginya ada praktek bercocok tanam. Lokasi prakteknya bisa di gudang atas, gudang tengah, atau di gudang bawah. Yang jelas apabila ada acara praktek, pagi-pagi sekali – sekitar jam enam – siswa harus sudah berkumpul di gudang yang ditentukan.

Praktek berlangsung sampai pukul delapan. Istirahat satu jam. Kemudian pukul sembilan harus sudah siap di kelas untuk menerima pelajaran. Selisih waktu satu jam dimanfaatkan untuk mencuci pakaian yang biasanya belepotan tanah dan lumpur. Setelah dicuci, pakaian dijemur di halaman asrama.

Bagaimana kalau nanti tiba-tiba turun hujan?

Tidak usah kuatir. Ada tukang masak yang biasanya berbaik hati mengangkat pakaian dari tiang jemuran.

Bagaimana kalau cuacanya tidak menentu sehingga tidak jelas apakah akan cerah atau mendadak hujan?

Juga tidak usah kuatir karena tukang masak dengan senang hati membagi pengalamannya.

“Lihat aja ke Gunung Salak. Kalau puncaknya tertutup awan, nanti siang pasti hujan. Jangan dijemur di luar. Jemur di gudang saja,” nasehat mereka.

Nasehat itu disampaikan berulang kali sehingga akhirnya siswa punya ritual baru. Setelah memeras cucian, sebelum membentangkan pada tali jemuran, dongakkan kepala ke arah Gunung Salak – yang dengan jelas terlihat di belakang asrama. Kalau puncaknya tertutup awan, cucian dijemur di gudang. Kalau puncaknya persih dari awan, aha, bakalan cerah ini! Maka cucian pun dibentangkan. Dan mereka berangkat ke sekolah dengan hati riang.

Manusia-Manusia Lonceng

Ritual lain yang terjadi setiap hari di asrama adalah makan bersama. Baik sarapan, makan siang, maupun makan malam dilakukan di ruang makan yang sama dan secara bersama-sama.

Sarapan disediakan menjelang berangkat sekolah. Makan siang setelah pulang sekolah. Dan makan malam setelah semua selesai mandi dan sudah rapi, yaaaa … sekitar ba’da Isya kurang lebih.

Raung makan berada dekat dapur. Meskipu jadwal makan sudah tertempel di dinding, dan sebagian siswa sudah hapal, tapi untuk memastikan hidangan sudah siap atau belum, harus mendengarkan suara lonceng dulu.

Kalau sudah terdengar lonceng, “Teng!… Teng!… Teng!…” Aha, berarti makanan sudah siap. Maka bergeraklah semua menuju ruang makan.

Jadi tidak usah senewen kalau para penghuni asrama dijuluki manusia lonceng, karena memang sensitif terhadap suara lonceng.

Lama kelamaan perihal lonceng ini menjadi gurauan tersendiri di kalangan penghuni asrama. Sering terjadi ketika kami masih enak-enakan rebahan sambil ngobrol di zaal, tiba-tiba terdengar suara lonceng.

Teng!… Teng!… Teng!…

Maka bergegaslah kami mengganti sarung dan berebut mencari sendal untuk segera berduyun-duyun ke ruang makan.

Eh, ternyata masakan belum siap. Dan teman yang tadi iseng memukul lonceng – barangkali memang karena sudah tidak kuat menahan lapar – tertawa cengegesan melihat teman-temannya kecewa.

Perkara lapar memang tidak bisa ditunda. Padahal kalaupun hidangan sudah siap, acara makan belum bisa dimulai sebelum semuanya berkumpul.

Setelah berkumpul pun tidak bisa segera menyantap hidangan yang ada karena harus membaca doa lebih dulu. Yang membaca doa adalah kakak kelas dua. Sang kakak kelas berdiri, mengucapkan pembukaan yang kira-kira seperti ini, “Teman-teman, mari sebelum makan kita berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Berdoa, mulai….”

Semua menundukkan kepala.

Awalnya semua patuh. Tidak ada yang mengangkat kepala sebelum terdengar kata, “Selesai!” dari sang pemimpin doa.

Lama kelamaan acara rutin itu mulai disisipi gurauan. Pada saat semua menunduk membaca doa, terdengar kata, “Selesai!” dan semuanya mengangkat kepala. Eh, ternyata sang pemimpin doa masih menunduk!

Rupanya lain yang mengatakan, “Berdoa mulai!”, lain lagi yang mengatakan “Selesai!” Mungkin karena sudah tidak kuat menahan lapar dan menganggap tidak perlu lama-lama berdoa kalau perut sudah tidak bisa kompromi lagi.

Sang pemimpin doa yang melihat semuanya sudah mulai makan Cuma bisa nyegir tanda maklum dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pisangnya Paling Lembek

Ruang makan merupakan aula semacam zaal juga yang dilengkapi meja panjang dan bangku di sisi kiri kanannya. Hidangan ditaruh di depan setiap bangku. Penghuni asrama bebas memilih mau duduk di mana karena menunya toh sama saja.

Paket hidangan terdiri dari semangkuk sayur dan sepiring kecil lauk pauk serta sepotong buah. Piring ditelungkupkan di susunan paling bawah.

Nasi disediakan dalam tempat nasi tersendiri di tengah meja. Penghuni asrama bebas mengambil nasi seberapa banyaknya selama persediaan masih ada. Sayur biasanya sayur asem, sayur bayam bersantan, atau sayur bening daun katuk. Lauk pauknya bisa sepotong daging goreng, atau telur sambal balado, tempe goreng, atau malah telur mata sapi. Buahnya kadang-kadang sepotong semangga, seiris nanas, atau sebiji pisang ukuran kecil.

Menu asrama rasanya tidak pernah ada daging ayam. Hal ini pernah menjadi pertanyaan tersendiri, dan pernah saya tanyakan kepada tukang masak, kenapa tidak pernah ada daging ayam.

“Susah membaginya, Mas. Kalau daging sapi kan tinggal dipotong kotak-kotak. Gampang ngitungnya dan gampang mengatur besar kecilnya. Kalau ayam kan bentuknya tidak seragam. Nanti ada yang dapet paham ada yang dapet sayap, ada yang dapet punggung. Kan repot….”

Mungkin maksudnya repot karena belum tentu yang kebagian sayap senang makan sayap dan yang kebagian daging bagian paha belum tentu menyukai bagian paha.

Tapi kan bisa ditukar?

Pertanyaan itu tidak pernah saya ajukan karena kuatir nanti bakal seperti kasus tukar menukar pisang. Yang datang pertama kali ke ruamg makan biasanya suka memilih-milih pisang. Kalau merasa pisangnya kecil, ia akan menukarkan dengan pisang di sebelahnya yang kelihatan lebih besar.

Yang datang kemudian akan melakukan hal yang sama, menukar pisang kecilnya dengan pisang sebelah yang lebih besar. Alhasil yang datang paling belakang kebagian pisang yang bukan hanya paling kecil tapi juga paling lembek karena sudah berpindah-pindah sekian puluh tangan!

Jatah Makan Berlebih

Urusan makan memakan ini memang menjadi rutinitas sehari-hari. Kadang saya membayangkan repotnya menggoreng telur mata sapi untuk seratusan orang sekaligus. Atau menanak nasi dalam dandang sebesar drum minyak yang tentu memerlukan ketrampilan tersendiri agar bisa masak secara sempurna – tidak mentah sebagian.

Pemahaman inilah yang membuat kami tidak banyak protes dengan menu yang tersaji di atas meja. Meskipun tiap hari hidangannya berbeda tapi lama kelamaan jadi hapal juga kalau senin telur sambal balado, kalau selasa tempe goreng, rabu capcai plus telur mata sapi, kamis teri main bola, jum’at soto dengan potongan lobak yang luar biasa segarnya, dan sabtu mujaer goreng atau daging rendang ukuran ekonomis.

“Yang penting jam makannya jangan telat,” kata anak-anak.

Ya, memang. Kalau telat bisa ada acara pukul-pukul meja.

Pilihan menu tambahan bisa saja terjadi kalau ada yang mendapat kiriman dendeng atau abon sapi atau kerupuk udang dari orangtuanya. Bisa dikirim lewat paket bisa juga diambil saat pulang ke kampung.

Biasanya setiap sabtu minggu pertama sebagian besar penghuni asrama memang pulang kampung mengambil jatah bulanan. Kalau sudah begini asrama rasanya sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang kebetulan kampungnya jauh dan jatah bulanan dikirim lewat wesel.

Pada bulan-bulan pertama tinggal di asrama, menjelang sabtu semacam itu suka ada petugas yang mengabsen siapa yang pulang dan siapa yang tidak pulang. Ini untuk menyesuaikan jumlah menu yang harus dihidangkan supaya jangan berlebih.

Tapi lama kelamaan penghuni kamar tidak mengabari kalau teman seruangannya pulang. Ini disengaja supaya jatah makannya tetap hadir di meja makan. Dengan cara begitu setiap orang bisa makan dobel. Kadang-kadang saking berlebihnya, kelebihan jatah yang ada dibawa ke kamar dan disimpan untuk persediaan kalau-kalau tengah malam terasa lapar lagi.

Pilihan menu lain adalah memanfaatkan tukang bakso yang kadang-kadang lewat di belakang asrama. Atau kalau malam hari pergi ke warung bubur kacang hijau yang mangkal di pertigaan Pancasan. Yang terakhir tadi juga dimanfaatkan untuk merokok karena di asrama ada larangan merokok.

Di warung bubur kacang ijo bisa sampai jam sebelas malam. Sambil merokok sambil cerita ngalor ngidul sambil mendengar siaran radio dari transistor tukang bubur yang suaranya gemeresek. Pulang ke asrama seringkali menjelang tengah malam dan pagar depan sudah dikunci.

Memanggil penjaga asrama?

Buat apa? Nanti malah panjang ceritanya. Jadi kami satu persatu melompati pagar besi setinggi sekitar dua meteran itu. Betul-betul sudah seperti anggota Sapta Siaga, batin saya waktu itu.

Aneka Ria Safari Vs Apel

Kehidupan di asrama memang identik dengan disiplin. Tidak berbeda dengan di asrama tentara misalnya, peraturan dan serangkaian tata tertib menjadi pedoman sehari-hari.

Jadwal makan teratur. Tidak diperkenankan makan sebelum lonceng tanda makan dimulai. Mau nekat ke ruang makan sebelum lonceng juga percuma karena hidangannya belum disajikan. Jam mandi pagi dan mandi sore otomatis teratur karena jumlah yang membutuhkan lebih banyak daripada kamar mandi yang tersedia.

Begitu juga di malam hari. Ada jam belajar dan ada jam malam. Pada saat jam belajar – antara pukul tujuh sampai pukul sembilan malam – tidak boleh ada penghuni asrama yang berkeliaran tanpa alasan jelas. Tivi di ruang depan pun tidak boleh dinyalakan.

Kadang-kadang memang ada yang iseng menurunkan handel listrik sehingga satu asrama gelap semua. Teriakan membahana dari sana-sini. Tapi biasanya tidak lama karena kemudian ada saja yang berinisiatif menaikkan kembali handel listrik.

Siapa yang iseng menurunkan handel listrik?

Pasti yang kamarnya berdekatan dengan kotak handel listrik. Yang kamarnya jauh tidak mungkin repot-repot melakukan itu hanya untuk kesenangan semata.

Siapa yang berinisiatif menaikkan kembali handel listrik?

Tentu juga yang kamarnya paling dekat dengan kotak handel listrik. Yang kamarnya jauh paling-paling cuma berteriak saja. Yang punya inisiatif tadi tentunya dari siswa baik-baik yang sadar perlunya belajar.

Setelah lampu menyala kembali semua meneruskan proses belajar di kamar atau zaal masing-masing. Tidak ada yang mempertanyakan atau bertanya-tanya siapa tadi yang mematikan listrik dan siapa tadi yang menyalakan kembali. Percuma. Tidak bakalan ada yang mengaku. Kalaupun ada yang mengaku, belum tentu besok tidak ada pemadaman lokal lagi.

Pada pukul sembilan malam wajib belajar berakhir. Tivi di ruang tengah boleh dinyalakan untuk menonton siaran Dunia Dalam Berita di TVRI. Jadwal ini penting supaya penghuni asrama tidak ketinggalan informasi. Jangan sampai tahunya Cuma perkembangan di Gudang Tengah saja.

Setelah nonton berita acara bebas?

Belum!

Ada acara apel malam. Tempatnya ya di ruang tengah juga yang ada tivinya itu. Ditandai dengan lonceng, semua penghuni asrama wajib berkumpul dan membentuk barisan berdasarkan kamarnya masing-masing. Yang memimpin apel adalah kakak kelas atau yang kebagian jaga sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Apel malam hanya semacam pemeriksaan saja. Tiap kamar melaporkan apakah teman sekamarnya komplit berada di asrama, atau ada yang ijin keluar, atau barangkali ada yang sakit.

Setelah diabsen, barisan dibubarkan dan boleh memilih acara masing-masing. Ada yang meneruskan nonton tivi, ada yang meneruskan belajar, ada yang jalan-jalan sekedar membeli sabun atau makanan ringan di warung seberang jalan.

Kadang-kadang hadir juga pengawas asrama menjelang apel malam. Kalau itu terjadi, biasanya pak pengawas memimpin apel dan sekaligus memberi wejangan sekedarnya.

Sebetulnya sah-sah saja kalau pak pengawas memberikan sekedar nasehat. Masalahnya muncul kalau kebetulan malam itu ada acara tivi yang bagus. Misalnya Aneka Ria Safari. Apalagi kalau pada malam-malam sebelumnya sudah dipromosikan bahwa malam itu Itje Tresnawati akan hadir.

Waduh, kebayang sudah kegelisahan para penghuni asrama. Sudah lewat seperempat jam nasehatnya belum ada tanda-tanda akan selesai. Semakin panjang sepatah dua patah katanya, barisan apel semakin bengkak-bengkok. Takut kalau Itje tresnawati sudah terlewat.

Makanya begitu nasehat pak pengawas selesai, belum sampai pimpinan membubarkan barisan, wuuusss!…. semua berebut mengambil posisi di depan tivi.

Kenangan Yang Tertinggal

Kewajiban tinggal di asrama hanya bagi siswa kelas satu saja. Setelah naik ke kelas dua mereka bebas memilih apakah akan terus tinggal di asrama atau tidak. Bagi yang asli orang Bogor dan sekitarnya, tentu lebih murah kalau tinggal di rumah sendiri. Bagi yang kampungnya jauh, ada dua pilihan: tetap tinggal di asrama atau menyewa rumah kost yang banyak tersedia di sekitar sekolah.

Sebagian ada yang memilih terus di asrama – di antaranya saya – sebagian lagi ada yang memilih kost. Yang memilih kost biasanya karena ingin lebih bebas dan lebih bervariasi terutama dalam soal menu makanan. Yang terus di asrama barangkali karena merasa sudah cocok, tidak perlu repot membeli parabotan, dan ingin hidup lebih disiplin.

Siswa kelas dua mendapat kesempatan pindah ke kamar, sementara zaal dipakai oleh siswa baru. Meskipun menempati kamar yang berisikan empat orang, aturan lain seperti jadwal makan dan apel malam tetap berlaku.

Siswa kelas tiga yang masih ingin terus tinggal di asrama disediakan Asrama Dewi Sri II yang letaknya terpisah. Khusus hanya untuk siswa kelas tiga. Katanya supaya dapat lebih konsentrasi saat belajar. Kamarnya memang lebih besar meski tetap untuk empat orang dan dilengkapi dengan ruang belajar tersendiri. Tapi meski kamarnya lebih luas, jatah makannya tetap sama. Tetap saja sambal balado tiap senin dan teri main bola setiap hari kamis.

Dibandingkan Asrama Dewi Sri I, suasana di Asrama Dewi Sri II memang lebih lengang. Bangunannya besar dan penghuninya sedikit. Suasana sepi ini semakin menjadi saat memasuki minggu tenang menjelang ujian akhir. Rasanya dimana-mana belajar. Bahkan suara tivi pun menjadi semakin jarang.

Seusai ujian akhir, suasana menjadi lebih sepi lagi. Meski belum ada pengumuman kelulusan ujian, sebagian penghuni asrama Dewi Sri II sudah berkemas-kemas. Besoknya malah sudah pamit pulang lebih dulu. Mereka menunggu di rumah masing-masing untuk kemudian datang ke kampus SPMA pada hari pengumuman.

Tapi masih ada sebagian kecil yang bertahan tinggal di asrama meski jatah makan sudah tidak diberikan lagi. Mereka ini biasanya karena kampungnya di luar Jawa Barat. Ada yang dari Lampung, dari Jawa Tengah, Jawa Timur, atau bahkan Timor Timur.

Kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi dari warung-warung di sekitar asrama. Kalau malam semua berkumpul di ruang tengah, menonton tivi sambil berpandang-pandangan seperti pasangan kekasih yang akan berpisah. Saya meskipun tinggal di Jakarta tapi termasuk kelompok kecil ini.

Pada suatu malam kami mengeluaran semua barang-barang yang tidak diperlukan lagi. Kursi reot, potongan kayu, kertas-kertas segala ukuran – mungkin di antaranya juga ada surat-surat cinta, pakaian kumal, semua ditumpuk di tengah lapangan dan dibakar.

Asap hitam membumbung ke angkasa. Bara api memercik kemana-mana. Kami berdiri mengelilingi sambil memandang dengan perasaan sedih. Rasanya seperti ada yang hilang. Rasanya seperti ada yang ikut terbang bersama serpihan-serpihan yang membumbung ke atas.

Ketika kemudian dinyatakan lulus, kesedihan itu semakin menjadi-jadi. Rasanya aneh ketika kami harus meninggalkan asrama yang sudah sejak tiga tahun kami tempati. Rasanya aneh, ketika di rumah kami tidak lagi melihat wajah-wajah yang selama tiga tahun ini terasa akrab. Rasanya aneh, ketika kami tidak lagi harus antri saat mandi atau menunggu lonceng untuk makan bersama.

Dalam perjalanan pulang, saya tidak pernah melepaskan pandangan dari bangunan asrama yang semakin menjauh. Yang semakin mengecil. Yang semakin memburam dalam pandangan mata saya yang mungkin saja berair.

Bertahun-tahun kemudian saya tidak pernah lupa menoleh ke arah asrama setiap kali melewati Jalan Cibalagung. Tidak pernah lupa untuk melihat bahkan ketika sedang melintas di pertigaan Empang. Barangkali karena saya sadar sebagian masa lalu saya tertinggal di sana. Barangkali karena saya sadar kenangan-kenangan itu tidak mudah dilupakan, dan keinginan untuk menyusuri ruang-ruang di dalam asrama menjadi semacam keinginan yang tidak bisa ditahan.

Kinginan itu selalu ada. Selalu menganggu pikiran. Bahkan sampai belasan tahun kemudian keinginan itu tidak juga menghilang.

Sampai sekarang….

*) Eko Supriyanto, alumni SPP-SPMA Negeri Bogor tahun 1984,

Redaksi Majalah Dinding Colocasia tahun 1982-1983, Sekretaris Osis tahun 1983, dan selama tiga tahun tinggal di asrama.

Kini praktisi di bidang kehutanan dan sejak akhir 2006 bekerja di Kalimantan Tengah

Tulisan ini sudah dipublikasikan dalam Buku Kenangan Reuni SPMAN Bogor tanggal 9-10 Agustus 2008 lalu. Sengaja direlease ulang sekedar untuk dokumentasi pribadi, dan memberi kesempatan membaca bagi yang tidak hadir dalam acara reuni tersebut, atau yang tidak kebagian bukunya, atau khalayak umum yang ingin tahu tentang SPMAN Bogor.

sebuah catatan Eko Supriyanto

jpg

Ketika pada hari kamis – tanggal 18 Desember 2003 – datang ke Gedung SPMA dalam rangka undangan reuni 100 tahun pendidikan pertanian di Bogor, yang pertama kali saya lakukan adalah melihat menara.

Menara?

Ya. Kedengarannya mungkin aneh, tapi itulah kenyataannya.

Salah satu bagian dari gedung SPMA yang selalu membuat saya kangen adalah menara itu, yang tegak menjulang seperti menusuk langit. Ujungnya yang runcing agak bengkok. Mungkin terkena petir, mungkin karena memang sudah tua, dan itu tidak menjadi masalah benar. Duapuluh tahun lalu – sekali lagi, DUAPULUH TAHUN YANG LALU – pada saat saya masih aktif bersekolah di situ, menara itu merupakan salah satu kebanggaan yang ada. Dan itu tidak berubah sampai sekarang.

Bentuknya mengingatkan saya pada menara gereja. Malah saat pertama kali datang ke SPMA malah saya kira memang gereja. Atau setidaknya bekas gereja. Pilar-pilar persegi berukuran besar, lorong ruangan (koridor) yang dikombinasikan dengan banyak jendela untuk sirkulasi udara, dan ornamen batu kali yang sangat menonjol. Semuanya masih tampak sama seperti duapuluh tahun sebelumnya. Barangkali masih tampak sama sejak berdiri seratus tahun lalu.

Menara itu, dulunya mungkin dilengkapi dengan lonceng kalau mengingat adanya lubang semacam cerobong asap di bawahnya. Meskipun selama saya di sana tidak pernah terdengar bunyi lonceng dari menara, hal itu tidak pernah saya pertanyakan benar.

Saya senang dengan bentuknya.

Sering menara itu saya pandangi lama-lama. Keberadaannya memiliki daya magis yang kuat. Seperti memiliki daya tarik yang membuat kita selalu menoleh ke sana setiap kali melewatinya. Begitu kuatnya pesona menara itu sehingga saya tak pernah ragu membuat sketsanya di kiri atas amplop, di halaman belakang buku pelajaran, atau di mana saja saya punya alasan untuk menggambarkannya.

Pada saat aktif mengurusi majalah dinding (antara tahun 1982-1983), sketsa menara tak pernah bisa dipisahkan dari lembar editorial. Selalu terpampang di sudut paling kiri atas. Selalu merebut perhatian di antara gambar atau artikel lainnya. Kadang saya berpendapat menara SPMA merupakan landmark di kawasan Cibalagung. Sama seperti Tugu Kujang di pertigaan Jalan Otista. Sama seperti Tugu Monas di Jakarta.

Bertahun-tahun setelah lulus dari SPMA, saya tetap tidak pernah bisa melupakannya. Kalau kebetulan sedang melintasi Ramayana – pusat sayur mayur dan buah-buahan yang kini menjadi Bogor Trade Mall itu – saya akan menyempatkan naik ke lantai paling atas hanya untuk berdiri mengagumi menara SPMA yang bersaing dengan kemegahan Gunung Salak. Kalau sedang berkendaraan melintasi Jalan Paledang, saya tak akan lupa untuk melihat ke arah kiri, berusaha menemukan menara itu berdiri gagah di antara pemukiman yang kain hari kian padat.

Kehadiran menara itu sangat jelas terlihat apabila kita berdiri atau duduk-duduk di Taman Bougenville. Itu sebutan untuk halaman luas di samping ruang belajar yang tidak ditanami rumput tapi ditutup dengan ubin teraso berukuran besar. Di sisi yang berseberangan terdapat bangku-bangku panjang – juga dari teraso. Di sisi tiap bangku ada pot besar yang ditanami pohon bougenville. Dahannya menjalar di semacam rangka besi yang menaungi bangku, membuat bangku menjadi terlindungi.

Taman Bougenville, begitu saya menyebutnya.

Bunganya yang berwarna-warni – merah, oranye, putih – menjadi pemandangan indah pada saat mekar. Jika kita datang pagi-pagi sekali – harus lebih dulu sebelum tukang sapu – guguran bunga yang berserakan di atas taman mengingatkan pada central park di luar negeri. Mengingatkan pada gambar-gambar indah pada kalender.

Kita bisa duduk-duduk di Taman Bougenville sambil memandang menara yang gagah menjulang di latar belakang.

Betapa romantisnya.

Taman Bougenville barangkali merupakan tempat favorit bagi siswa-siswa SPMA. Tempat duduk-duduk sebelum pelajaran dimulai. Tempat mengisi jam istirahat siang dengan mengobrol atau bercanda. Tempat menghapal ulang pada saat menghadapi ujian. Tempat tidur siang bagi yang malas pulang. Dan – hmm, ini yang paling populer – tempat berpacaran pada sore hari.

Rasanya tak ada pasangan yang tidak pernah berpacaran di Taman Bougenville.

Rasanya tak ada yang tidak bisa dikenang dari Taman Bougenville.

Sering saya duduk-duduk di bangku taman sambil menatap menara dan bertanya kepada diri sendiri, “Apa saja yang sudah disaksikan menara itu di sini?”

Menara itu diam saja.

Seperti tidak tertarik untuk menceritakan kesaksiannya kepada orang lain. Padahal selama seratus tahun berdiri di depan Taman Bougenville, dia telah banyak menyaksikan keceriaan dan senda gurau siswa-siswa SPMA. Dia menjadi saksi bisu kenakalan-kenakalan, pertemuan-pertemuan rahasia, pertengkaran dan tukar pendapat, pembicaraan politik, diskusi ilmiah, atau kemesraan khas remaja. Kalaupun bisa berbicara, barangkali dia hanya akan tersenyum. Senyumnya pun mungkin malu-malu saat mengenang kembali hal-hal manis yang pernah dilihatnya di Taman Bougenville.

Menara SPMA dan Taman Bougenville.

Sampai sekarang saya tidak pernah bisa melupakan keduanya. Melihat keduanya seperti menelusuri kembali potongan-potongan masa lalu yang tercecer. Seperti mengaduk-aduk kembali suka dan duka selama bersekolah di SPMA. Seperti mencampur kembali rasa bangga dan rasa haru yang pernah ada.

Kalau nanti ada kesempatan ke SPMA lagi, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat apakah menaranya masih gagah dan Taman Bougenvillenya masih romantis. Saya tetap akan melakukan walau sedikitpun tak ada keraguan bahwa menara SPMA akan selalu tampak gagah dan Taman Bougenville akan selalu tampak romantis.

Saya tidak pernah malu untuk mengakuinya. Barangkali karena setelah keluar dari SPMA saya tidak pernah menemukan menara yang lebih gagah dan taman yang lebih romantis. Itulah sebabnya saya akan selalu merindukan keduanya. Sampai kapan pun.

However and forever ….

*) Eko Supriyanto, alumni SPP-SPMA Negeri Bogor tahun 1984,

Redaksi Majalah Dinding Colocasia tahun 1982-1983 dan Sekretaris Osis tahun 1983,

kini praktisi di bidang kehutanan dan sejak akhir 2006 bekerja di Kalimantan Tengah

Tulisan ini sudah dipublikasikan dalam situs forum.spmabogor.net beberapa waktu lalu. Sengaja direlease ulang sekedar untuk dokumentasi pribadi, dan memberi kesempatan membaca bagi yang belum sempat membuka atau tidak mau repot membongkar arsip-arsip lama.

catatan perjalanan eko supriyanto

JPG

“Hentikan penebangan liar demi kelangsungan hidup kita bersama!”

Begitu kata Emil Salim dalam satu iklan layanan masyarakat di layar tivi beberapa waktu lalu. Tayangan yang diselenggarakan oleh Perum Perhutani itu tentu saja dalam rangka mengurangi aksi-aksi penebangan liar yang marak di hutan-hutan Indonesia. Tapi agaknya Emil Salim lupa bahwa penebangan liar itu sendiri juga terjadi untuk kelangsungan hidup, yaitu kelangsungan hidup masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Masalahnya kemudian, kelompok masyarakat itu akhirnya tidak kebagian apa-apa kecuali sekedar kekayaan sesaat. Keuntungan terbesar justru dinikmati oleh kelompok lain, yang memiliki modal kuat, yang mengiming-imingi masyarakat untuk ramai-ramai menjarah hutan. Setelah kayunya habis, pemilik modal hengkang, masyarakat tinggal menikmati hutan yang sudah compang-camping. Ketika kemudian hujan tiba, longsor dan banjir pun datang tanpa diundang.

Ke mana si pemilik modal?

Mungkin sedang mengiming-imingi masyarakat desa di hutan yang lain!

Satu Kampung Ke Hutan Semua

Penebangan liar sebetulnya sudah sejak lama terjadi di pelosok-pelosok pedesaan yang dekat dengan hutan. Hanya saja skalanya sangat kecil. Masyarakat desa membuka sekedar satu dua hektar, dengan peralatan sederhana seperti parang dan cangkul, untuk mengusahakan tanah pertanian atau kebun.

Penjarahan besar-besaran terjadi setelah krisis moneter yang kemudian disusul dengan reformasi, dan semakin menjadi-jadi setelah adanya otonomi daerah. Hutan yang tadinya memiliki nilai sakral, tiba-tiba menjadi seperti harta karun yang boleh direbut ramai-ramai. Mereka menganggap hutan sebagai warisan untuk mereka, bukan warisan untuk cucu mereka. Ini barangkali setelah orang kampung sadar bahwa sebatang pohon ternyata bernilai dua sampai tiga juta rupiah!

Berita tentang pencurian kayu bukan hanya terhadap hutan jati di Pulau Jawa, tetapi juga terhadap hutan alam di Kalimantan dan Sumatera. Dilakukan bukan hanya pada hutan tanaman yang dikelola Perum Perhutani, tapi juga pada hutan yang hak tebangnya dimiliki perusahaan HPH. Bukan hanya pada hutan yang terletak di pinggir jalan propinsi, tapi juga pada hutan perawan yang kondisinya berbukit-bukit.

Harian Kompas pernah memberitakan adanya pencurian kayu besar-besaran di Taman Nasional Gunung Leuser. Sedemikian ‘besar-besarannya’ sehingga camp penebang liar itu diceritakan menyerupai satu perkampungan tersendiri. Puluhan rumah kayu berpenghuni ratusan penduduk yang meninggalkan kebun dan sawah mereka untuk mengadu nasib menjadi pencuri kayu. Puluhan chainsaw (gergaji mesin) disediakan untuk itu. Untuk menciptakan suasana nyaman, genset, televisi, dan parabola dihidupkan tiap malam. Belum lagi minuman keras dan kartu-kartu judi.

Itu bukan omong kosong dan bukan hanya terjadi di Gunung Leuser saja. Pada saat bersamaan penjarahan kayu terjadi hampir di setiap jengkal hutan yang ada. Semua dilakukan secara sistematis dan terorganisir sehingga setiap hari ratusan kubik kayu berpindah dari hutan alam ke kilang-kilang penggergajian.

Memanfaatkan Sarana HPH

Penebangan liar di pedalaman Sumatera banyak memanfaatkan HPH yang ada di sana. Mereka mendompleng sarana yang dibuat perusahaan untuk mengeluarkan kayu-kayunya. Caranya dengan memasuki blok-blok tebang yang sudah ditinggalkan perusahaan. Sebab perusahaan HPH bekerja berdasarkan blok tebang yang berpindah tiap tahun. Setelah menyelesaikan satu blok tebang, mereka akan pindah ke blok tebang tahun berikutnya. Pohon yang boleh ditebang pun dibatasi hanya terhadap pohon yang berdiameter di atas setengah meter.

Peluang itulah yang dimanfaatkan para penebang liar. Mereka masuk ke lokasi yang sudah ditinggalkan perusahaan, kemudian menghabiskan sisa pohon yang tidak ditebang, yaitu yang berdiameter di bawah setengah meter. Bagi penebang liar, pohon bergaris tengah 20 Cm sudah bisa diolah menjadi kayu balok. Maka habis tumpaslah pohon-pohon berdiameter 20-49 Cm yang memang tidak ditebang HPH. Padahal dalam ketentuan kehutanan, pohon-pohon tersebut (biasanya disebut pohon inti) memang wajib ditinggalkan untuk rotasi tebang berikutnya!

Satu kelompok penebang liar biasanya terdiri dari enam orang. Satu orang operator chainsaw, satu orang tukang masak, dan empat orang penarik balok. Dan meskipun tidak menggunakan buldozer atau log loader, kemampuan mereka untuk menghabiskan isi hutan termasuk menakjubkan.

Pohon yang sudah ditebang langsung dipotong-potong sepanjang tiga meter. Kemudian dibelah-belah berukuran 20 Cm, atau 30 Cm, atau 40 Cm, tergantung ukuran diameter pohonnya. Hasil akhirnya berupa balok kotak-kotak berukuran 20×20 Cm, atau 30×30 Cm, atau 40×40 Cm, masing-masing sepanjang tiga meter.

Balok-balok itu selanjutnya diangkat ke pinggir jalan HPH untuk kemudian dinaikkan ke colt diesel. Kalau kebetulan kendaraan perusahaan melintas, mereka minta tolong untuk diangkut sampai tempat pemuatan. Jadi mencuri kayu milik perusahaan, diangkut lewat jalan perusahaan, dengan bantuan kendaraan milik perusahaan HPH itu pula!

Ditarik Pakai Sabun

Pohon yang diincar penebang liar biasanya pohon kapur (Dryobalanops aromatica) karena harga jualnya tinggi. Di toko-toko material, kayu pohon kapur yang disebut kayu kamper ini tergolong kayu mahal. Harga selembar papannya saja bisa mencapai 30 ribu Rupiah. Ini karena kayunya memang keras, kuat, dan tahan rayap. Di dunia kehutanan, kayu yang keras dan kuat juga identik dengan berat. Karena itu bisa dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan penebang liar untuk memindahkan balok-balok kayu kapur itu ke pinggir jalan.

Kalau lokasi penebangan lebih tinggi dari jalan angkutan, gampang, baloknya tinggal diluncurkan ke bawah. Baloknya memang betul-betul meluncur karena gaya beratnya sendiri. Bekas luncurannya menjadi alur-alur kosong di tengah hutan. Semakin panjang alurnya berarti semakin banyak anakan atau semai yang mati sia-sia. Tapi penebang liar memang tidak peduli soal anakan atau pelestarian.

Lantas bagaimana kalau posisi baloknya sejajar atau lebih rendah daripada jalan angkutan?

Kalau digotong butuh sedikitnya empat orang. Itupun harus memeras tenaga apabila jalannya menanjak. Maka dibangunlah serangkaian rel-rel dari kayu bulat sebesar lengan. Sebagai gerbongnya dibuat rangka kayu berbentuk sampan dari kayu yang sama kerasnya. Kemudian baloknya diletakkan di atas rangka sampan tadi.

Dua orang di bagian depan bertugas mendorong sambil mengatur arah luncuran, sementara dua lainnya mendorong di belakang. Untuk memperlancar peluncuran, di sepanjang rel kayu diolesi sabun cuci batangan agar menjadi licin. Dengan cara begitu balok bisa meluncur cepat menuju tempat pengumpulan di tepi jalan. Itu pula sebabnya di Sumatera Utara ada istilah balok sabun. Maksudnya ya itu tadi, balok yang diluncurkan dengan bantuan sabun batangan.

Jadi kalau suatu saat Anda jalan-jalan di suatu hutan entah di mana, kemudian menemukan bekas rel malang melintang, jangan buru-buru mengira di daerah situ pernah ada lintasan kereta api. Kemungkinan besar itu adalah bekas penebang liar mengangkuti kayu hasil curiannya.

Bongkar Muat Berkali-kali

Sampai di pinggir jalan angkutan, balok-balok tadi masih harus dimuat ke atas colt diesel. Caranya seratus persen manual. Sepasang kayu kaso dipasang sejajar ke bibir bak kendaraan, kemudian balok didorong ramai-ramai oleh enam sampai delapan orang. Satu kolt diesel bisa memuat sampai dua meter kubik balok sabun. Setara dengan 16 batang balok ukuran 20×20 Cm, atau 5 balok ukuran 40×40 Cm.

Balok-balok itu masih harus diantar ke tepi sungai di mana boat-boat sudah menunggu. Untuk itu proses bongkar muat kembali terjadi. Setelah dibongkar dari colt diesel – tidak terlalu berat karena tinggal diluncurkan ke bawah – kemudian dimuat lagi ke atas boat. Untuk memuat ke dalam boat digunakan sepasang tali sebagai pengganti kaso. Balok diangkat seperti orang menggulung tirai bambu.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk bongkar muat yang berkali-kali itu termasuk besar. Itu sebabnya mereka sering kasak-kusuk dengan pekerja HPH yang mengoperasikan alat-alat berat. Dengan log loader – alat muat kayu gelondongan yang bentuknya seperti kepiting – pekerjaan memuat balok menjadi lebih cepat dan lebih murah. Apalagi kalau bisa minta tolong dumptruk, lebih enak lagi karena saat mnenurunkan muatan tinggal dituang saja.

Karena pekerja bongkar muat jadi tidak kebagian order, maka biasanya pemilik balok menghibur dengan membelikan mereka rokok atau mengajak minum-minum. Operator alat berat yang dicarter biasanya juga ikut minum-minum. Mereka senang-senang saja dimintai tolong karena dapat tambahan penghasilan. Tentu saja harus sembunyi-sembunyi karena pimpinan perusahaan tidak mungkin merestui. Soalnya balok-balok itu sebetulnya milik perusahaan juga.

Uangnya Habis Untuk Minum

Setelah balok diturunkan di tepi sungai, urusan dengan penebang selesai. Artinya pemilik balok harus membayar upah penebang saat itu juga. Besar uang yang diterima bisa mencapai dua sampai tiga juta Rupiah. Kelihatannya besar untuk pekerjaan yang hanya memakan waktu seminggu saja. Tapi sebetulnya tidak karena uang itu masih harus dibagi-bagi lagi kepada anggota-anggota yang terlibat.

Pada waktu harga kayu kamper di pasaran mencapai Rp. 650.000,- per meter kubik, kelompok penebang hanya menerima sekitar Rp. 200.000,- saja. Operator Chainsaw kebagian Rp. 80.000,-, tukang dorong balok di rel dapat Rp. 60.000,-, tukang bongkar muat dapat Rp.10.000,- per kubik setiap kali memuat atau membongkar balok. Selebihnya untuk membayar utang beras, ikan asin, rokok, sabun, dan belanja lain di warung desa setempat. Sisanya untuk biaya-biaya lain.

Karena tidak terbiasa memegang uang dalam jumlah besar, para pekerja yang kebanyakan anak-anak muda itu berubah jadi royal. Habis terima uang bagian kerjanya masing-masing, kemudian minum-minum sampai mabuk. Apalagi setelah transaksi biasanya mereka tidak langsung pulang ke kampung masing-masing. Kebanyakan malah menunggu order berikutnya di tempat yang sama.

Kadang-kadang mereka menghabiskan uang di tempat berutang belanja selama kerja di hutan. Yang kemudian terjadi adalah lingkaran setan. Sebelum berangkat ke hutan mereka meminjam perbelanjaan dari warung, setelah ‘gajian’ uangnya dipakai untuk membayar hutang. Uang sisanya dihabiskan di warung yang sama. Nanti, kalau order ke hutan belum dapat, mereka berutang makan dan rokok di warung itu juga. Begitu seterusnya sehingga praktis sebetulnya mereka tidak mendapat hasil apa-apa.

Banyak Oknum Terlibat

Keuntungan terbesar justru dinikmati juragan pemilik balok yang menjualnya Rp. 300.000,- per kubik ke kilang-kilang pengolahan kayu. Karena ongkos boat cuma Rp. 50.000,- per kubik, sementara ongkos muatnya Rp. 10.000,-. Selebihnya adalah biaya-biaya ‘salam tempel’ kepada oknum-oknum yang menunggu di sepanjang perjalanan. Mulai dari aparat desa, polisi desa, babinsa, preman, syahbandar, anggota polsek, koramil, sampai angkatan laut. Semuanya kebagian walaupun sekedar salam tempel saja.

Kalau kayunya diangkut lewat darat, salamannya makin banyak. Maklum kalau lewat jalan raya kendaraan sulit menghindar dari pos-pos yang berdiri di sepanjang jalan. Jumlah pos-nya – baik resmi maupun setengah resmi – bisa mencapai puluhan. Semua harus kebagian, jangan sampai ada yang terlewat.

Bahkan aparat kehutanan yang mustinya mengamankan hutan malah ikut-ikutan menjadi petugas pajak. Mereka tutup mata saja melihat kenyataan yang ada. Apalagi kalau mau bergerilya keluar masuk hutan, wah, pajak yang dikumpulkan bisa lebih banyak. Memang dari satu kelompok penebang liar dia paling-paling cuma dapat sepuluh atau duapuluh ribu saja. Tapi kalau dalam satu kawasan hutan ada lebih dari 20 kelompok penebang liar, bisa dikira-kira berapa tambahan gajinya tiap minggu.

Itulah sebabnya penebangan liar sulit diberantas. Yang terlibat terlalu banyak sehingga jaringannya semakin panjang. Kalau ada yang tertangkap proses hukumnya juga lambat dan berlarut-larut. Hal itu memang disengaja karena kalau kasusnya mencuat ke permukaan, dari bawahan sampai atasan bisa terseret ke pengadilan.

Otak pelaku penebangan liar tahu kelemahan-kelemahan itu sehingga mereka tidak ragu-ragu mengeluarkan uang dalam jumlah besar agar semuanya berjalan lancar. Salah satu tak tik yang digunakan adalah dengan memberangkatkan boat-boat berisi balok kayu secara serentak pada malam hari. Bisa sampai sepuluh boat diberangkatkan pada malam yang sama.

Setelah berangkat serentak, boat-boat itu meluncur menuju titik-titik pendaratan yang berbeda. Kalaupun ada pemeriksaan, paling hanya dua yang tertahan. Selebihnya lolos sampai tujuan. Biaya pengurusan dua boat yang tertangkap bisa diambil secara subsidi silang dari keuntungan delapan boat yang lain.

Karena itu jangan terlalu bangga kalau ada berita aparat menangkap boat pembawa kayu ilegal. Mungkin saja ada tiga boat yang berhasil ditangkap, sementara pada saat bersamaan ada tigapuluh boat berhasil lolos memasuki pantai tujuannya.

Disusul Perambahan Hutan

Proses penebangan liar selesai manakala kayunya sudah naik ke boat. Tapi proses kerusakan hutan masih berlanjut. Bekas lokasi penebangan liar yang sudah porak poranda itu biasanya akan dibersihkan untuk dibuka sebagai ladang atau kebun.

Karena pohon-pohon besarnya sudah habis, maka yang tersisa tinggal tiang-tiang berdiameter di bawah 19 Cm. Untuk membersihkannya cukup dengan parang atau kampak. Setelah semua tiang bertumbangan, ditunggu dulu seminggu atau dua minggu sampai semua batang dan daun mengering. Lalu ketika kemarau mencapai puncaknya, areal tadi dibakar

Dalam sekejap ribuan hektar hutan berubah menjadi ladang asap. Dalam dua tiga hari hutan yang tadinya hijau menjadi hitam. Setelah turun hujan, benih padi pun disemaikan. Seminggu kemudian hutan alam sudah menjadi ladang padi. Proses penggundulan hutan pun selesai dengan sempurna.

Siapa yang bisa disalahkan?

Yang kemudian terjadi adalah saling tuding, saling menyalahkan. Berputar-putar sehingga kasus demi kasus penebangan liar tidak pernah ketemu ujungnya. Persis seperti lingkaran setan di warung-warung di tepi sungai tadi….

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Gema Suaka edisi 02/II Bulan Juni 2006

Catatan Perjalanan E. Supriyanto

Jangan salah dulu!

Ini bukan nama kelompok pencinta alam di kalangan karyawan suatu kantor atau perusahaan tertentu. Ini cuma gurauan di antara sesama karyawan yang bekerja di perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan), dan kebetulan ditempatkan di proyek. Ada yang ditugaskan di base camp selama beberapa bulan kemudian ditarik ke kantor cabang, ada yang setelah beberapa tahun akhirnya dimutasikan ke kantor pusat, ada juga yang puluhan tahun – dari lajang sampai ubanan – tidak pernah beranjak dari base camp.

Untuk yang terakhir tadi tentu saja banyak pengalaman menarik yang bisa diceritakan karena kehidupan di camp memang berbeda dengan kehidupan di pemukiman ramai. Begitu berbedanya sehingga seorang rekan yang akan cuti ke Pulau Jawa berpamitan dengan rekan kerjanya dengan berkata, “Mari Pak, saya pulang ke peradaban dulu.”

Lho, memangnya kehidupan di proyek tidak beradab?

Naik Pesawat James Bond

Sebagai lulusan fakultas kehutanan, bekerja di hutan adalah salah satu pilihan yang paling mungkin. Apalagi gambaran hutan waktu itu sangat indah. Hijau, sinar matahari menyusup di antara dedaunan, banyak burung warna warni, binatang buas sesekali melintas, dan masyarakatnya hidup dalam suasana alam yang murni dan eksotis. Karena semasa kuliah aktif sebagai anggota pencinta alam, maka ketika awal 1989 mendapat tugas ke pedalaman Kalimantan, saya sudah membayangkan menjadi pemeran utama dalam film Born Free atau Bring ‘m Back Alive yang ditayangkan TVRI kala itu.

Bersama beberapa rekan kami berangkat ke Pontianak. Perjalanan dengan pesawat besar tidak begitu istimewa. Setelah menginap semalam dan membereskan administrasi di kantor cabang, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil milik perusahaan DAS (Dirgantara Air Service). Pesawatnya cuma memuat delapan orang. Sedemikian kecilnya sehingga kita bisa dengan jelas melihat roda pesawat ditarik masuk saat lepas landas. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat kota dan sungai di bawah sana. Sungainya berwarna coklat dengan potongan balok-balok kayu berserak teratur di sepanjang tepiannya. Ada juga yang sedang ditarik oleh boat-boat penarik.

Dari tempat duduk kita bisa ikut mendengarkan pembicaraan pilot. Handel pintunya bahkan bisa kita buka kalau mau. “Kayak James Bond saja,” kata teman saya. Mungkin dia membayangkan jadi Roger Moore si agen 007 yang suka berkelahi sambil bergelantungan di sayap pesawat

Waktu itu saya baru tahu bahwa pesawat akan ‘bergejolak’ kalau menabrak gugusan awan. Sama seperti kalau kita naik mobil di jalanan yang rusak. Bedanya, kalau awan ya ditabrak saja, tidak usah belok-belok mencari jalan yang lebih rata.

Di kota kabupaten kami dijemput dengan hardtop – persis seperti dalam film-film perang dunia kedua. Menginap semalam di hotel yang lebih sederhana, kemudian besoknya melanjutkan perjalanan dengan speed boat. Rumah-rumah terapung di sepanjang tepian sungai menjadi pemandangan tersendiri. Kampung, pasar, warung, dan rumah tinggal – semuanya dibangun di atas air. Di sela-sela atap rumah menyembul antena parabola. Penduduknya mandi, mencuci, dan buang air besar di tepian yang sama.

Makin lama sungainya makin kecil. Rumah-rumah terapung makin jarang, airnya makin bersih, tapi batu-batunya makin banyak. Perjalanan selama sekitar empat jam itu berakhir di sebuah dermaga kayu yang disebut logpond. Selain sebagai tempat pendaratan pertama, logpond juga berfungsi sebagai tempat bongkar muat kayu gelondongan dari darat ke air. Suara log loader yang sedang sibuk memindah-mindahkan kayu menderu-deru di antara kepulan debu.

Karyawan yang ditugaskan menjemput menyongsong kami yang belum terbiasa berjalan di atas bangunan terapung. Sambil menyalami dia berkata, “Bapak-Bapak tunggu sebentar, mersinya sedang menuju ke sini.”

Wah, kami kaget sekali. Di tengah hutan ada mercy?

Kejutan itu berakhir ketika setengah jam kemudian mercy yang ditunggu-tunggu datang. Bukan sedan Mercedes Bens seperti yang dibayangkan, melainkan logging truck – kendaraan besar untuk memuat kayu gelondongan (biasa disebut log) – dengan lambang segitiga mercedes di atas radiatornya.

Dari Mercy Sampai Levi’s

Dengan kendaraan itulah kami diantar ke base camp yang letaknya delapan belas kilometer dari logpond. Karena ada beberapa istri karyawan yang ikut, jadilah kami bertengger di bagian belakang.

Sejak itu saya sadar bahwa gambaran mengenai hutan yang katanya hijau lestari itu ternyata salah. Sepanjang perjalanan yang terlihat cuma padang alang-alang. Sesekali melewati ladang padi dan singkong yang ditanam di antara tunggul-tunggul kayu. Di satu tempat, truk berhenti karena serombongan orang menyetop minta ikut.

“Itu orang-orang Dayak,” bisik penjemput kami.

Mereka berlompatan naik, berdesakan bersama kami. Dan sekali lagi gambaran mengenai orang Dayak yang mengenakan pakaian dari kulit kayu ternyata juga sudah berubah. Sebagian dari mereka memang tidak memakai baju, tapi juga tidak memakai cawat, melainkan celana panjang jeans yang birunya masih terang dengan tulisan Levi’s di saku belakang. Tentu saja itu produk tiruan, seperti juga topi bertuliskan Polo Ralph Lauren yang dipakai temannya.

Rumahnya Ditarik-tarik

Dalam struktur perusahaan HPH – khususnya di lapangan – base camp merupakan pusat kegiatan. Di base camp terdapat kantor, bengkel, kantin, gudang, perumahan karyawan, dan sarana-sarana penting lainnya. Itu sebabnya pada saat akan mengambil hasil hutan, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah: di mana letak base camp-nya?

Lokasi base camp biasanya ditentukan berdasarkan ketersediaan air bersih. Tentu saja karena air sangat vital dalam kehidupan. Pekerja-pekerja tidak akan nyaman kalau air sulit diperoleh. Paling enak kalau ketemu air terjun. Air tinggal dialirkan ke base camp dengan pipa, dan akan mengalir nonstop siang malam. Kalau ternyata letak sungai lebih rendah daripada camp, apa boleh buat, terpaksa menggunakan pompa yang tentu saja menambah biaya operasional.

Dekat logpond memang enak, tapi biasanya logpond merupakan pusat bongkar muat kayu gelondongan sehingga kurang nyaman untuk tempat tinggal. Selain logpond, adalagi yang namanya logyard. Ini juga tempat bongkar muat tapi bukan di pinggir sungai, melainkan di lapangan terbuka.

Logyard biasanya dibuat kalau jarak antara hutan tempat mengambil kayu dengan logpond terlalu jauh. Supaya beban kendaraan tidak terlalu berat, perjalanan log dibagi dua, pertama-tama dari tepi hutan ke logyard, kemudian dari logyard ke logpond.

Jauh di dalam hutan, ada lagi rumah-rumah pekerja yang disebut camp tarik. Di situ biasanya tinggal kelompok pekerja yang berhubungan langsung dengan pemungutan hasil hutan. Mulai dari operator chainsaw – gergaji mesin – yang bertugas menebang pohon, kemudian operator buldoser yang bertugas menarik potongan-potongan log ke tempat pengumpulan, dan tukang kupas yang kerjanya mengupas kulit kayu. Masing-masing dibantu satu atau dua orang helper.

Karena lokasi penebangan berpindah-pindah, maka rumah mereka tidak dibuat permanen seperti di base camp. Rumahnya dibangun di atas dua potong log sejajar, sehingga kalau lokasi penebangan pindah, rumahnya tinggal ditarik menggunakan buldoser. Itu sebabnya disebut camp tarik.

Dari Lintah Sampai Kutu Monyet

Camp tarik merupakan perumahan pekerja yang berada di ujung jalan angkutan. Tapi bukan berarti yang paling ujung. Jauh di dalam hutan, ada kelompok pekerja yang disebut regu survey. Mereka tidak dibuatkan rumah – baik permanen maupun semi permanen – tapi diberi terpal untuk tenda. Tempat kerjanya di tengah hutan sehingga mirip orang kemping.

Satu regu survey terdiri dari sepuluh sampai duabelas orang. Tugasnya membuat batas areal penebangan dan mendata potensi kayu yang ada. Sekali masuk hutan mereka langsung membawa perlengkapan dan bekal makanan selama sebulan. Diantar sampai ujung jalan, selebihnya jalan kaki.

Kalau lokasi surveynya cuma beberapa kilometer, jalan kakinya cuma setengah hari. Tapi saya pernah mengalami lokasi survey sampai duapuluh kilometer. Wah, untuk melangsir perbekalan saja butuh lima hari. Untungnya anggota regu survey diambil dari masyarakat setempat yang sudah tidak asing dengan suasana hutan. Mereka bahkan sanggup mengangkut beban lebih dari 30 kg dengan kecepatan normal, tanpa alas kaki lagi!

Di lokasi survey, yang pertama kali dilakukan adalah mendirikan tenda. Dan tempatnya lagi-lagi harus dekat air. Paling untung kalau ketemu sungai besar, karena nantinya bisa memancing ikan untuk variasi menu makanan sehari-hari. Soalnya bekal yang disediakan perusahaan biasanya cuma indomie, sarden, dan ikan asin.

Kalau sungainya kecil sebetulnya tidak masalah karena airnya malah lebih bersih, mirip air mineral kemasan. Cuma untuk mencari ikan harus pergi agak jauh. Tapi itu juga tidak masalah karena kita bisa memasang perangkap di sekeliling tenda. Lumayan kalau dapat kancil, burung kuau, atau bahkan kijang!

Yang jadi masalah justru serangga pengganggu yang seperti tidak ada habisnya. Dalam perjalanan ke tengah belantara, lintah-lintah kecil yang disebut pacet sudah menunggu di ujung-ujung dedaunan. Waktu menempel di kaki seringkali tidak terasa. Begitu kembali ke tenda dan mengganti celana panjang, baru ketahuan darah mengucur di betis atau paha.

Nyamuk mungkin sudah tidak asing lagi karena di kota juga banyak. Tapi agas – serangga lembut sebesar butiran pasir – sangat mengganggu karena menimbulkan gatal di kulit. Ada yang menyarankan untuk merokok untuk menghindari serangan agas. Tapi kalau agasnya datang tanpa henti apa iya kita juga harus merokok terus-terusan?

“Nggak kena agas tapi nanti malah kena TBC,” komentar saya.

Ada lagi yang namanya pitak. Ini bukan luka kecil di kepala melainkan nama sejenis lalat besar yang memiliki jarum di ujung mulutnya. Kalau sudah menggigit, sakitnya minta ampun. Menepuknya juga sulit karena mata facetnya bisa melihat ke segala arah.

Paling menjengkelkan dari semua tadi adalah kutu monyet. Serangga sejenis kutu ayam (gurem – kata orang Jawa) ini suka bersembunyi di antara ranting dan dedaunan kering. Begitu terinjak, puluhan dari mereka serentak menyerang kaki. Gatalnya minta ampun. Kalau digaruk malah tambah perih.

Kalau sudah kena serangan kutu monyet, kaki harus segera dibasuh dengan minyak tanah. (Tapi sialnya tidak selalu tersedia minyak tanah – untuk bahan bakar perusahaan menggunakan solar). Pakaian yang terkena pun sebaiknya dibakar saja, atau direndam air panas – kalau masih bagus. Kemudian kutunya dicari satu-satu – sebab biasanya mereka masih menempel di pori-pori – lalu diangkat dengan benda tajam semacam silet atau pisau cutter.

Dua hari kemudian pada bekas gigitan kutu monyet akan muncul bintik-bintik berisi cairan kuning seperti nanah. Setelah pecah biasanya timbul bercak-bercak hitam. Tapi tak usah kuatir, bercak hitam itu akan hilang seiring dengan waktu.

Seorang teman bercerita bahwa diserang kutu monyet itu bukan sakitnya yang jadi masalah, tapi malunya. “Masak kutu-kutu itu tidak bisa membedakan kita dengan monyet!”

Menu Sehari-hari, Hujan Berhari-hari

Persoalan utama yang dihadapi pekerja di hutan adalah menu sehari-hari. Rasanya bosan banget kalau tiap hari yang disajikan cuma indomie rebus, ikan asin bakar, atau sambal sarden. Karena itu perlu dicari menu alternatif untuk menghindari rasa bosan.

Kalau lokasi kerjanya dekat kampung (di sana jarak dua atau tiga kilometer dianggap dekat) kita bisa minta daun singkong atau membeli ayam. Tapi kalau pun letak kampung terlalu jauh, itu juga bukan persoalan karena anggota survey biasanya adalah pemburu yang handal.

Mereka terampil menyelam untuk menombak ikan atau memasang jerat. Mereka juga tahu sungai mana yang banyak ikannya dan jalur mana yang sering dilintasi hewan buruan. Masalahnya kemudian, bagi Orang Dayak semua hewan bisa dimakan. Tak ada istilah haram atau halal, apalagi makruh. Kalau dapat kijang atau burung kuau, tanpa ragu kami para perantau dari Jawa ikut memakannya. Tapi kalau dapat trenggiling atau burung yang aneh-aneh wujudnya, apa boleh buat, kami memilih indomie saja.

Dibelah Hidup-Hidup

Binatang buruan yang jadi favorit adalah kura-kura, labi-labi, dan baning. Ketiganya hampir sejenis. Sama-sama keluarga kura-kura yang membawa-bawa tempurung di punggungnya. Hanya saja kalau labi-labi adalah amphibi yang hidup di dua alam, kura-kura dan baning hidup di darat. Labi-labi bentuknya seperti bulus, tempurungnya lebar menyerupai penggorengan dengan warna kusam abu-abu. Tempurung kura-kura dan baning (Tetsuda emys) lebih menggelembung menyerupai helm tentara. Bedanya lagi, tempurung baning punya corak lebih indah.

Labi-labi – seperti halnya katak – masih bisa dipertanyakan halal atau makruhnya. Tapi kalau baning jelas-jelas halal karena hidup di darat dan hanya memakan kulit kayu dan jamur. Dagingnya pun enak. Yang tidak enak adalah cara menyembelihnya. Baning atau kura-kura atau labi-labi selalu dibantai hidup-hidup!

Enaknya itu mereka gampang ditangkap. Kalau sudah kelihatan merayap di lantai hutan, tinggal diangkat dan dibawa pulang ke tenda. Labi-labi bisa bergerak cepat – lebih-lebih kalau sedang berada di dalam air – dan memiliki daging kenyal-kenyal empuk. Sementara daging baning berwarna merah seperti daging kerbau.

Tempurungnya dibelah berkeliling dari samping kemudian dibuka seperti orang membuka kulit durian. Pada saat itu kempat kakinya masih bergerak-gerak.

Adegan itulah yang sering membuat miris. Tapi kata mereka itu cara paling cepat dan praktis. “Kalau mau disembelih, di mana motongnya, Om? Lehernya keluar masuk terus, susah megangnya.”

Liburnya kalau Hujan

Setelah kira-kira sebulan berkemah di hutan, regu survey kembali ke base camp. Perjalanan pulang lebih ringan karena beban perbekalan sudah habis. Besoknya ketua regu menyerahkan hasil kerjanya kepada manager camp. Hasil itu berupa potensi kayu yang ada meliputi jenis kayu, jumlah kayu, diameter batang, tinggi pohon, jumlah atau kubikasi rata-rata per hektar, peta yang menggambarkan letak pohon, posisi sungai, keadaan topografi, dan rencana jalan angkutan yang kelak bisa dibuat untuk memudahkan pengambilan kayunya.

Dari laporan itulah manager camp mengatur pekerjaan selanjutnya. Yang dilakukan pertama kali adalah mengirim laporan tadi ke instansi departemen kehutanan terkait untuk memperoleh ijin tebang. Kalau ijin tebang sudah diperoleh, maka tim PWH (Pembukaan Wilayah Hutan) menyiapkan jalan angkutan. Peta rencana jalan yang sebelumnya sudah dibuat tim survey diterabas menggunakan buldoser. Jika perlu penimbunan, dikerahkan dumptruk dan excavator – alat berat yang berfungsi untuk mengeruk tanah. Jika perlu membuat jembatan, ada alat berat bernama Crane yang bisa difungsikan untuk menyusun kayu gelondongan sebagai badan jembatan.

Apabila jalan angkutan sudah selesai, barulah regu penebang dipindahkan lengkap bersama-sama camp tariknya. Kalau kayu hasil penebangan sudah terkumpul di tempat penimbunan kayu (biasa disebut TPn) mulailah logging truck hilir mudik mengangkuti log-log tersebut ke logyard atau langsung ke logppond.

Jika jarak antara TPn dengan logpond di bawah 40 km, logging truck bisa empat lima kali bolak-balik dalam sehari – biasanya sampai pukul sembilan malam. Tapi tentu saja dengan catatan: kalau hari terang. Sebab sebagian besar jalan angkutan menuju ke blok-blok penebangan memang hanya berupa jalan tanah saja, sehingga kalau turun hujan praktis tidak bisa digunakan. Kalau hujannya sehari penuh, bisa-bisa besoknya dua hari berturut-turut tidak ada kegiatan pengangkutan.

Itu sebabnya di sepanjang jalan angkutan, duapuluh meter kiri kanannya wajib dibersihkan dari pohon dan semak belukar. Kegiatan yang disebut tebang bayang ini bertujuan untuk membebaskan permukaan jalan dari bayang-bayang pohon. Maksudnya agar sinar matahari bisa leluasa menyinari jalan sehingga jalan cepat kering setelah turun hujan.

Lantas kalau hujannya sampai berhari-hari, bagaimana?

“O, itu berarti libur nasional!” kata supir truk sambil tertawa. Sepanjang hujan turun mereka bisa dikatakan libur total. Hari-hari diisi dengan main kartu, ngobrol, atau nonton tivi. Meskipun kelihatannya menyenangkan, mereka resah juga kalau hujannya tak kunjung berhenti. Soalnya gaji mereka dihitung dari kubikasi log yang diangkut tiap bulannya. Semakin besar kubikasinya berarti semakin tinggi penghasilannya.

Tidak heran kalau pada hari minggu mereka tetap bekerja untuk mengejar hasil sebanyak mungkin. Tanggal merah pun seringkali dianggap tidak ada. Hari libur resmi mereka dalam setahun hanya empat kali, yaitu pada saat Tahun baru, Tujuh Belas Agustus, Natal, dan Idul Fitri. Hari libur selebihnya ya pada saat turun hujan tadi.

Seperti Pencatat Meteran Listrik

Setelah menebang, perusahaan pemilik HPH wajib melaksanakan pembinaan hutan. Artinya hutan bekas tebangan harus ditanami lagi agar hutan tetap lestari. Tahapan pertama yang dikerjakan adalah Inventarisasi Tegakan Tinggal – atau biasa disingkat ITT.

Dalam kegiatan ITT, regu-regu survey masuk lagi ke dalam blok bekas tebangan untuk menginventarisasi pohon-pohon yang tersisa, yang tidak ditebang, lengkap bersama anakan yang ada. Sebab dalam HPH ada ketentuan hanya pohon-pohon berdiameter di atas 50 Cm saja yang boleh ditebang. Di bawah batas itu harus ditinggalkan untuk cadangan rotasi tebang berikutnya.

Pohon-pohon tersebut – yang berdiameter antara 20 sampai 49 Cm – disebut Pohon Inti. Kalau jumlahnya lebih dari 25 batang dalam satu hektar, maka petak tersebut tidak perlu ditanami lagi. Tapi kalau kurang dari itu, harus dilihat anakan yang masuk kelompok Tiang, yaitu yang berdiameter antara 10 – 19 Cm. Kalau tiangnya minimal ada 200 batang berarti areal tersebut tidak perlu ditanami.

Kalau tiangnya kurang dari standar, lihat dulu kelompok Pancang (tinggi di atas 1 meter tapi diameter di bawah 9 Cm). Kalau jumlah pancangnya di atas 400 batang per hektar, maka – lagi-lagi – tidak perlu ditanami. Masih kurang juga? Masih ada satu kelompok lagi yang bisa dijadikan acuan, yaitu tingkat Semai – anakan yang tingginya di bawah satu meter. Jumlah di atas 800 batang per hektar sudah cukup dijadikan alasan untuk tidak perlu menanami petak bekas tebangan tersebut.

Itung-itungannya memang rumit begitu sehingga banyak petugas survey ITT yang akhirnya bekerja seperti pencatat meteran listrik. Asal tulis saja. Lagipula anakan di tengah hutan memang sedemikian banyaknya sehingga rasanya tidak mungkin petak tersebut kosong dari tiang, atau pancang, atau semai. Kalaupun mau ditanami paling-paling di tempat yang betul-betul terbuka, misalnya di kiri-kanan jalan angkutan atau di sekitar lokasi penumpukan kayu. Yang di dalam hutan diabaikan saja.

Dianggap sudah ada anakan yang bakal tumbuh menjadi pohon. Lagipula, “Hutan akan sembuh dengan sendirinya asal tidak dimasuki orang kampung,” kata si pencatat meteran eh, surveyor tadi.

Asumsi tadi boleh jadi betul, meskipun tetap tidak bisa dijadikan pembetulan. Penanaman kembali – istilahnya rehabilitasi hutan – harus dilakukan untuk menjamin agar hutan kita tetap lestari. Perkara nanti dimasuki orang kampung itu soal lain. Tapi sialnya, sejak ribut-ribut reformasi dan otonomi daerah, masyarakat menganggap hutan sebagai harta karun yang boleh dijarah beramai-ramai.

Begitu pemegang HPH meninggalkan blok tebangan, masyarakat yang punya modal segera masuk untuk menghabiskan Pohon Inti yang sengaja ditinggalkan. Dengan gergaji tangan bermesin – atau resminya disebut Chainsaw – mereka menebang, memotong, dan membelah-belah kayu yang tersisa untuk dijual sebagai kayu olahan.

Sebulan dua bulan kemudian, masyarakat lain yang kebetulan tidak punya banyak modal, mulai membersihkan areal tersebut untuk dijadikan ladang. Tiang dan pancang dipotongi, semai dibabat, kemudian dibakar. Asapnya menjalar ke mana-mana, bahkan sampai negara tetangga. Yang modalnya kuat melanjutkan dengan menanam karet atau kelapa sawit. Yang modalnya kurang kuat, cukuplah dengan menanam padi atau kacang tanah.

Itu sebabnya mengapa penanganan kelestarian hutan cuma terdengar teorinya saja. Hutan yang tadinya hijau-rindang akhirnya menjadi kuning-gersang. Pemilik HPH yang melaksanakan rehabilitasi sekedarnya saja, dan masyarakat yang gencar menjarah hasil hutan dengan alasan ekonomi, ditambah aparat instansi terkait yang seperti tidak berdaya menegakkan peraturan yang sebetulnya sudah ada, akhirnya menjadikan hutan seperti layangan yang boleh direbut beramai-ramai.

Makanya tidak usah heran kalau setelah sekian puluh tahun undang-undang kehutanan diberlakukan, hutan bukannya terbina kelestariannya tapi malah terbinasakan dengan efisien untuk keuntungan berbagai pihak.

Pelengkap Penderita

Dunia kehutanan mengalami masa-masa jaya pada era tahun 1990-an. Waktu itu ada peraturan Menteri Kehutanan yang mewajibkan pengusaha HPH mem-pekerjakan tenaga teknis lulusan sekolah kehutanan. Maka laris manislah lulusan SKMA (Sekolah Kehutanan Menengah Atas) dan para alumni Fakultas Kehutanan dari akademi maupun perguruan tinggi negeri.

Insinyur Kehutanan dari IPB merupakan favorit, disusul UGM dan Universitas Mulawarman. Alumni dari perguruan tinggi lain sangat jarang terdengar kehadirannya di HPH. Tapi untuk tingkat akademi, hanya ada satu pilihan yaitu dari Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) di Bandung. Kalau terdengar di satu HPH ada sarjana muda kehutanan, aha, pasti dari AIK dia!

Banyak teman-teman dari AIK yang sudah dipesan bahkan sebelum mereka lulus. Ada yang ditempatkan di Kalimantan Selatan, dan kebetulan posisinya menguntungkan sehingga lupa untuk menyelesaikan tujuan akhir. “Untuk apa?” katanya waktu ditanya. “Tanpa lulus pun saya sudah Camp Manager, untuk apa lagi ujian?”

Teman itu beruntung karena kebagian perusahaan yang menghargai eksistensinya sebagai tenaga teknis. Sebagian besar yang lain akhirnya cuma jadi pelengkap penderita saja. Sebab pengusaha HPH memakai Mereka dipekerjakan tak lebih sebagai figuran, hanya supaya kelihatan bahwa perusahaannya memiliki tenaga teknis kehutanan.

Masih untung kalau ditempatkan di kantor pusat atau kantor cabang – biasanya di kota propinsi atau kabupaten. Yang ditempatkan di camp – kalau tidak pandai-pandai mencari aktifitas pengisi kesunyian – bisa dipastikan tidak akan betah. Ada yang hanya tahan sampai masa percobaan, ada yang sehabis cuti tahunan tidak kembali lagi, ada juga yang berhenti dengan alasan akan menikah atau ikut test jadi pegawai negeri.

Akhirnya masa kejayaan kehutanan pun pudar seiring dengan datangnya Orde Reformasi, kemudian disusul dengan Otonomi Daerah yang diwujudkan secara salah kaprah.

Masyarakat menganggap hutan sebagai warisan nenek moyang yang boleh dirayah ramai-ramai. Penebangan liar, demontrasi anti HPH, kebakaran hutan, penjarahan aset-aset kehutanan, penyerobotan lahan, dan penyelundupan kayu merajalela di mana-mana.

Kalau dulu mahasiswa kehutanan pada akhir tahun ajaran tinggal menebak-nebak, “Wah, nanti ditempatkan di Kalimantan atau Irian ya?” Maka sekarang barangkali mereka ketar-ketir sambil bertanya-tanya, “Waduh, hutannya sudah pada habis, nanti saya kerja apa ya?”

*) E. Supriyanto

Alumni SPMAN Bogor tahun 1984, melanjutkan ke Akademi Ilmu Kehutanan (Bandung)

dan kenudian bekerja sebagai tenaga teknis kehutanan,

berpindah-pindah sejak dari Kalimantan Barat (1988-1990),

Sumatera Utara (1991-2002), dan Irian Jaya Barat (2004-2006).

Sejak 2007 bekerja di Kalimantan Tengah