Ketika mendapat pemberitahuan diterima di SPMA Negeri Bogor dan diwajibkan tinggal di asrama, rasanya saya sudah seperti anggota Lima Sekawan atau Sapta Siaga – tokoh dalam novel karya Enid Blyton terbitan Gramedia yang saat itu sedang digemari sebagian besar remaja.
Petualangan anggota Lima Sekawan atau cerita suka duka anggota Sapta Siaga dalam memecahkan suatu masalah menjadi obsesi ketika itu. Dalam perjalanan KRL Jabotabek dari Jakarta ke Bogor, sudah terbayangkan hal-hal menarik yang akan saya alami selama menjadi penghuni asrama. Tinggal bersama anak-anak dari daerah lain dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil seperti melompati pagar, menyembunyikan kaus kaki teman sekamar, atau keisengan-keisengan lainnya.
Kemudian memang terbukti – setelah tiga tahun menjalani kehidupan di asrama – tempat itu tidak hanya mengajarkan kita untuk melakukan kenakalan, tetapi juga membuat kita menjadi lebih mandiri dan lebih menghargai nilai-nilai persahabatan. Tidak bisa dipungkiri betapa hubungan emosional antara sesama penghuni asrama – apalagi teman sekamar – menjadi sangat erat dan tidak mudah terlupakan, bahkan setelah berpisah bertahun-tahun kemudian.
Berikut ini hanyalah sebagian kenangan di antaranya.
Kunci Lemari Bolong-Bolong
Asrama Dewi Sri terletak di Desa Pancasan. Berada di tempat yang agak tinggi sehingga dari halaman depan kita bisa melihat sebagian Kota Bogor. Saya sudah membayangkan betapa nikmatnya duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati pemandangan di bawahnya.
Tapi sialnya saya tidak kebagian di kamar, melainkan di zaal. Saat itu kamar-kamar hanya diperuntukkan bagi siswa kelas dua. Seluruh siswa baru ditempatkan di zaal – semacam aula yang diisi tempat tidur tingkat berjejer-jejer seperti di rumah sakit.
Zaal ada dua buah yang diberi nama Zaal A dan Zaal B. Terletak agak di belakang, dekat musholla dan ruang cuci sehingga musnah sudah harapan duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati pemandangan sore.
Satu Zaal ditempati hingga sekitar empat puluh siswa. Di dalamnya berjejer tempat tidur kayu bertingkat di sisi kiri dan kanan. Di tengah ruangan disediakan meja besar untuk belajar.
Tempat tidurnya bertingkat sehingga siapa yang datang lebih dulu bisa memilih apakah akan tidur di bawah atau di atas. Sebagian besar memilih di bawah karena tidak perlu naik turun dulu kalau mau tidur. Tapi yang datang belakangan – apa boleh buat – hanya bisa memilih tempat di atas.
“Awas jangan ngelindur,” kata teman yang kebagian tidur di bawah.
Memang kebayang juga sih apa jadinya kalau tidur di atas dan bermimpi jalan-jalan, misalnya. Kalau sampai walking in the sleep kan gawat, bisa ngedubrak ke bawah!
Di samping tempat tidur ada lemari kayu dua pintu berukuran sedang. Lemari itu untuk menyimpan barang-barang siswa seperti pakaian atau buku-buku. Lucunya, lemari itu tidak dilengkapi kunci. Padahal lubang kuncinya ada, tapi bolong blong!
Waktu ditanyakan kepada pengurus asrama yang saat itu ada, dia mengatakan bahwa dulu semua lemari ada kuncinya. Kalau sekarang bolong mungkin diambil kakak kelas yang pindah ke kamar.
“Kenapa, Mang?”
“Mungkin lemari yang di kamar juga bolong tidak ada kuncinya,” kata si Mamang.
“Padahal lemari yang di kamar tadinya juga berkunci kan, Mang?”
“Iya, tapi mungkin waktu siswanya pindah ke Dewi Sri II di sana kunci lemarinya juga sudah bolong-bolong.”
Kemungkinan kunci lemari di Dewi Sri II juga dicopoti oleh kakak kelas tiga. Pertanyaannya kemudian adalah: untuk apa kakak kelas tiga yang sudah lulus mengambil kunci lemari?
Untuk souvenir, barangkali.
Nama-namanya Hampir Mirip
Hari pertama memasuki asrama, sore hari hampir semua penghuni sudah datang dan menempati tempatnya masing-masing. Sebagian besar datang diantar keluarganya. Mnejelang ashar, para pengantar pulang ke kotanya masing-masing, meninggalkan anak mereka untuk hidup mandiri di asrama.
Tidak ada yang pakai bertangis-tangisan. Hanya sekedar menyalami atau mencium pipi. Orangtua juga tak lupa memberikan pesan klise seperti: hati-hati di kampung orang, jangan lupa kirim surat, harus rajin-rajin belajar, jangan pacaran dulu, jangan sampai terlambat makan, jangan lupa sholat lima waktu, jangan berantem sama teman, dan petatah-petitih lainnya.
Setelah orangtua pulang, siswa duduk di tempat tidurnya, terbengong-bengong sambil melihat kiri-kanan seperti ayam yang baru dibeli dari pasar. Satu dua mulai memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan menanyakan kampung asal teman barunya.
Sebagai orang Jakarta, sore itu saya dipusingkan dengan begitu banyak nama yang terdengar mirip atau hampir sama satu sama lainnya. Begitu banyak yang nama depannya Asep, Abdul, atau Agus. Ada lagi Ace, Ece, Didin, Deden, Dayat, Yayat, Mamat, Maman, Yayan, Wawan, belum lagi teman-teman dari Brebes yang seperti fanatik dengan huruf C dan K. Selalu ada huruf K dan C dalam nama mereka. Nama-nama seperti Carmo, Caskim, Carmad, Carmun menjadi ciri khas mereka.
Saat itu saya mulai bisa menyimpulkan bahwa nama-nama Sunda memang cenderung mengalami pengulangan. Lihat saja nama-nama seperti Maman Suryaman, Maman Supratman, Mul Mulyawan, Dayat Hidayat, Yanto Herdiyanto, Yayan Sofyan, Herman Hermawan, Dedi Setiadi, Mamat Surahmat, atau Wawan Suryawan.
Jadi memang masuk akal kalau kemudian ada yang menggabungkan Cecep dengan Gorbachev, misalnya, walau hanya sekedar gurauan.
Maka sampai beberapa hari kemudian saya masih sulit membedakan yang mana Asep yang mana Cecep. Masih suka salah memanggil yang mana Dayat yang mana Yayat. Kalau mereka sedang berkumpul dan saya memanggil, “Sep!” bisa dipastikan Si Cecep ikut menoleh.
Tapi untunglah akhirnya ditemukan cara untuk menghindari salah panggil atau salah sebut. Nama-nama digabungkan dengan kota asalnya. Maka ada Asep Sukabumi ada Asep Bandung. Ada Maman Tasik ada Maman Garut.
Gunung Salak Sebagai Panduan
Waktu itu di Asrama Dewi Sri I ada duabelas kamar dan dua zaal. Jika tiap kamar berisi empat orang dan tiap zaal dihuni empat puluh siswa, maka total terdapat tidak kurang dari 128 siswa.
Jumlah ini memang tidak kelihatan kalau seluruhnya berada dalam kamar masing-masing. Tapi begitu tiba saatnya mandi, baru terasa betapa kamar mandi yang ada sangat kurang jumlahnya.
Di tengah asrama ada delapan kamar mandi. Di sudut depan asrama ada lagi empat kamar mandi. Di tengah-tengahnya ada delapan WC terpisah, berjejer seperti rangkaian gerbong keretaapi.
Maka antrian pun terjadi hampir di setiap acara mandi – terutama mandi pagi. Semua berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk melilit leher sambil memegang gayung berisi sikat gigi, odol, dan sabun.
Satu orang keluar, yang di luar segera masuk menggantikan. Antrian yang sama juga terlihat di depan WC. Yang menyenangkan dari ritual ini adalah: sambil menunggu giliran kita bisa ngobrol ngalor-ngidul. Jadi acara antri menjadi tidak membosankan.
Begitu itu terjadi hampir tiap pagi.
Kesibukan yang sama terjadi lagi pada saat siswa mencuci pakaian. Biasanya pada sabtu sore atau minggu pagi, kecuali minggu pertama – karena pada sabtu sore minggu pertama sebagian besar siswa pulang ke kampungnya masing-masing untuk mengambil jatah bulanan.
Untunglah di asrama disediakan tempat khusus untuk mencuci pakaian sehingga tidak perlu mencuci di kamar mandi yang dapat memperpanjang antrian.
Kebutuhan mencuci pakaian ini ternyata juga terjadi pada hari biasa kalau paginya ada praktek bercocok tanam. Lokasi prakteknya bisa di gudang atas, gudang tengah, atau di gudang bawah. Yang jelas apabila ada acara praktek, pagi-pagi sekali – sekitar jam enam – siswa harus sudah berkumpul di gudang yang ditentukan.
Praktek berlangsung sampai pukul delapan. Istirahat satu jam. Kemudian pukul sembilan harus sudah siap di kelas untuk menerima pelajaran. Selisih waktu satu jam dimanfaatkan untuk mencuci pakaian yang biasanya belepotan tanah dan lumpur. Setelah dicuci, pakaian dijemur di halaman asrama.
Bagaimana kalau nanti tiba-tiba turun hujan?
Tidak usah kuatir. Ada tukang masak yang biasanya berbaik hati mengangkat pakaian dari tiang jemuran.
Bagaimana kalau cuacanya tidak menentu sehingga tidak jelas apakah akan cerah atau mendadak hujan?
Juga tidak usah kuatir karena tukang masak dengan senang hati membagi pengalamannya.
“Lihat aja ke Gunung Salak. Kalau puncaknya tertutup awan, nanti siang pasti hujan. Jangan dijemur di luar. Jemur di gudang saja,” nasehat mereka.
Nasehat itu disampaikan berulang kali sehingga akhirnya siswa punya ritual baru. Setelah memeras cucian, sebelum membentangkan pada tali jemuran, dongakkan kepala ke arah Gunung Salak – yang dengan jelas terlihat di belakang asrama. Kalau puncaknya tertutup awan, cucian dijemur di gudang. Kalau puncaknya persih dari awan, aha, bakalan cerah ini! Maka cucian pun dibentangkan. Dan mereka berangkat ke sekolah dengan hati riang.
Manusia-Manusia Lonceng
Ritual lain yang terjadi setiap hari di asrama adalah makan bersama. Baik sarapan, makan siang, maupun makan malam dilakukan di ruang makan yang sama dan secara bersama-sama.
Sarapan disediakan menjelang berangkat sekolah. Makan siang setelah pulang sekolah. Dan makan malam setelah semua selesai mandi dan sudah rapi, yaaaa … sekitar ba’da Isya kurang lebih.
Raung makan berada dekat dapur. Meskipu jadwal makan sudah tertempel di dinding, dan sebagian siswa sudah hapal, tapi untuk memastikan hidangan sudah siap atau belum, harus mendengarkan suara lonceng dulu.
Kalau sudah terdengar lonceng, “Teng!… Teng!… Teng!…” Aha, berarti makanan sudah siap. Maka bergeraklah semua menuju ruang makan.
Jadi tidak usah senewen kalau para penghuni asrama dijuluki manusia lonceng, karena memang sensitif terhadap suara lonceng.
Lama kelamaan perihal lonceng ini menjadi gurauan tersendiri di kalangan penghuni asrama. Sering terjadi ketika kami masih enak-enakan rebahan sambil ngobrol di zaal, tiba-tiba terdengar suara lonceng.
Teng!… Teng!… Teng!…
Maka bergegaslah kami mengganti sarung dan berebut mencari sendal untuk segera berduyun-duyun ke ruang makan.
Eh, ternyata masakan belum siap. Dan teman yang tadi iseng memukul lonceng – barangkali memang karena sudah tidak kuat menahan lapar – tertawa cengegesan melihat teman-temannya kecewa.
Perkara lapar memang tidak bisa ditunda. Padahal kalaupun hidangan sudah siap, acara makan belum bisa dimulai sebelum semuanya berkumpul.
Setelah berkumpul pun tidak bisa segera menyantap hidangan yang ada karena harus membaca doa lebih dulu. Yang membaca doa adalah kakak kelas dua. Sang kakak kelas berdiri, mengucapkan pembukaan yang kira-kira seperti ini, “Teman-teman, mari sebelum makan kita berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Berdoa, mulai….”
Semua menundukkan kepala.
Awalnya semua patuh. Tidak ada yang mengangkat kepala sebelum terdengar kata, “Selesai!” dari sang pemimpin doa.
Lama kelamaan acara rutin itu mulai disisipi gurauan. Pada saat semua menunduk membaca doa, terdengar kata, “Selesai!” dan semuanya mengangkat kepala. Eh, ternyata sang pemimpin doa masih menunduk!
Rupanya lain yang mengatakan, “Berdoa mulai!”, lain lagi yang mengatakan “Selesai!” Mungkin karena sudah tidak kuat menahan lapar dan menganggap tidak perlu lama-lama berdoa kalau perut sudah tidak bisa kompromi lagi.
Sang pemimpin doa yang melihat semuanya sudah mulai makan Cuma bisa nyegir tanda maklum dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Pisangnya Paling Lembek
Ruang makan merupakan aula semacam zaal juga yang dilengkapi meja panjang dan bangku di sisi kiri kanannya. Hidangan ditaruh di depan setiap bangku. Penghuni asrama bebas memilih mau duduk di mana karena menunya toh sama saja.
Paket hidangan terdiri dari semangkuk sayur dan sepiring kecil lauk pauk serta sepotong buah. Piring ditelungkupkan di susunan paling bawah.
Nasi disediakan dalam tempat nasi tersendiri di tengah meja. Penghuni asrama bebas mengambil nasi seberapa banyaknya selama persediaan masih ada. Sayur biasanya sayur asem, sayur bayam bersantan, atau sayur bening daun katuk. Lauk pauknya bisa sepotong daging goreng, atau telur sambal balado, tempe goreng, atau malah telur mata sapi. Buahnya kadang-kadang sepotong semangga, seiris nanas, atau sebiji pisang ukuran kecil.
Menu asrama rasanya tidak pernah ada daging ayam. Hal ini pernah menjadi pertanyaan tersendiri, dan pernah saya tanyakan kepada tukang masak, kenapa tidak pernah ada daging ayam.
“Susah membaginya, Mas. Kalau daging sapi kan tinggal dipotong kotak-kotak. Gampang ngitungnya dan gampang mengatur besar kecilnya. Kalau ayam kan bentuknya tidak seragam. Nanti ada yang dapet paham ada yang dapet sayap, ada yang dapet punggung. Kan repot….”
Mungkin maksudnya repot karena belum tentu yang kebagian sayap senang makan sayap dan yang kebagian daging bagian paha belum tentu menyukai bagian paha.
Tapi kan bisa ditukar?
Pertanyaan itu tidak pernah saya ajukan karena kuatir nanti bakal seperti kasus tukar menukar pisang. Yang datang pertama kali ke ruamg makan biasanya suka memilih-milih pisang. Kalau merasa pisangnya kecil, ia akan menukarkan dengan pisang di sebelahnya yang kelihatan lebih besar.
Yang datang kemudian akan melakukan hal yang sama, menukar pisang kecilnya dengan pisang sebelah yang lebih besar. Alhasil yang datang paling belakang kebagian pisang yang bukan hanya paling kecil tapi juga paling lembek karena sudah berpindah-pindah sekian puluh tangan!
Jatah Makan Berlebih
Urusan makan memakan ini memang menjadi rutinitas sehari-hari. Kadang saya membayangkan repotnya menggoreng telur mata sapi untuk seratusan orang sekaligus. Atau menanak nasi dalam dandang sebesar drum minyak yang tentu memerlukan ketrampilan tersendiri agar bisa masak secara sempurna – tidak mentah sebagian.
Pemahaman inilah yang membuat kami tidak banyak protes dengan menu yang tersaji di atas meja. Meskipun tiap hari hidangannya berbeda tapi lama kelamaan jadi hapal juga kalau senin telur sambal balado, kalau selasa tempe goreng, rabu capcai plus telur mata sapi, kamis teri main bola, jum’at soto dengan potongan lobak yang luar biasa segarnya, dan sabtu mujaer goreng atau daging rendang ukuran ekonomis.
“Yang penting jam makannya jangan telat,” kata anak-anak.
Ya, memang. Kalau telat bisa ada acara pukul-pukul meja.
Pilihan menu tambahan bisa saja terjadi kalau ada yang mendapat kiriman dendeng atau abon sapi atau kerupuk udang dari orangtuanya. Bisa dikirim lewat paket bisa juga diambil saat pulang ke kampung.
Biasanya setiap sabtu minggu pertama sebagian besar penghuni asrama memang pulang kampung mengambil jatah bulanan. Kalau sudah begini asrama rasanya sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang kebetulan kampungnya jauh dan jatah bulanan dikirim lewat wesel.
Pada bulan-bulan pertama tinggal di asrama, menjelang sabtu semacam itu suka ada petugas yang mengabsen siapa yang pulang dan siapa yang tidak pulang. Ini untuk menyesuaikan jumlah menu yang harus dihidangkan supaya jangan berlebih.
Tapi lama kelamaan penghuni kamar tidak mengabari kalau teman seruangannya pulang. Ini disengaja supaya jatah makannya tetap hadir di meja makan. Dengan cara begitu setiap orang bisa makan dobel. Kadang-kadang saking berlebihnya, kelebihan jatah yang ada dibawa ke kamar dan disimpan untuk persediaan kalau-kalau tengah malam terasa lapar lagi.
Pilihan menu lain adalah memanfaatkan tukang bakso yang kadang-kadang lewat di belakang asrama. Atau kalau malam hari pergi ke warung bubur kacang hijau yang mangkal di pertigaan Pancasan. Yang terakhir tadi juga dimanfaatkan untuk merokok karena di asrama ada larangan merokok.
Di warung bubur kacang ijo bisa sampai jam sebelas malam. Sambil merokok sambil cerita ngalor ngidul sambil mendengar siaran radio dari transistor tukang bubur yang suaranya gemeresek. Pulang ke asrama seringkali menjelang tengah malam dan pagar depan sudah dikunci.
Memanggil penjaga asrama?
Buat apa? Nanti malah panjang ceritanya. Jadi kami satu persatu melompati pagar besi setinggi sekitar dua meteran itu. Betul-betul sudah seperti anggota Sapta Siaga, batin saya waktu itu.
Aneka Ria Safari Vs Apel
Kehidupan di asrama memang identik dengan disiplin. Tidak berbeda dengan di asrama tentara misalnya, peraturan dan serangkaian tata tertib menjadi pedoman sehari-hari.
Jadwal makan teratur. Tidak diperkenankan makan sebelum lonceng tanda makan dimulai. Mau nekat ke ruang makan sebelum lonceng juga percuma karena hidangannya belum disajikan. Jam mandi pagi dan mandi sore otomatis teratur karena jumlah yang membutuhkan lebih banyak daripada kamar mandi yang tersedia.
Begitu juga di malam hari. Ada jam belajar dan ada jam malam. Pada saat jam belajar – antara pukul tujuh sampai pukul sembilan malam – tidak boleh ada penghuni asrama yang berkeliaran tanpa alasan jelas. Tivi di ruang depan pun tidak boleh dinyalakan.
Kadang-kadang memang ada yang iseng menurunkan handel listrik sehingga satu asrama gelap semua. Teriakan membahana dari sana-sini. Tapi biasanya tidak lama karena kemudian ada saja yang berinisiatif menaikkan kembali handel listrik.
Siapa yang iseng menurunkan handel listrik?
Pasti yang kamarnya berdekatan dengan kotak handel listrik. Yang kamarnya jauh tidak mungkin repot-repot melakukan itu hanya untuk kesenangan semata.
Siapa yang berinisiatif menaikkan kembali handel listrik?
Tentu juga yang kamarnya paling dekat dengan kotak handel listrik. Yang kamarnya jauh paling-paling cuma berteriak saja. Yang punya inisiatif tadi tentunya dari siswa baik-baik yang sadar perlunya belajar.
Setelah lampu menyala kembali semua meneruskan proses belajar di kamar atau zaal masing-masing. Tidak ada yang mempertanyakan atau bertanya-tanya siapa tadi yang mematikan listrik dan siapa tadi yang menyalakan kembali. Percuma. Tidak bakalan ada yang mengaku. Kalaupun ada yang mengaku, belum tentu besok tidak ada pemadaman lokal lagi.
Pada pukul sembilan malam wajib belajar berakhir. Tivi di ruang tengah boleh dinyalakan untuk menonton siaran Dunia Dalam Berita di TVRI. Jadwal ini penting supaya penghuni asrama tidak ketinggalan informasi. Jangan sampai tahunya Cuma perkembangan di Gudang Tengah saja.
Setelah nonton berita acara bebas?
Belum!
Ada acara apel malam. Tempatnya ya di ruang tengah juga yang ada tivinya itu. Ditandai dengan lonceng, semua penghuni asrama wajib berkumpul dan membentuk barisan berdasarkan kamarnya masing-masing. Yang memimpin apel adalah kakak kelas atau yang kebagian jaga sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
Apel malam hanya semacam pemeriksaan saja. Tiap kamar melaporkan apakah teman sekamarnya komplit berada di asrama, atau ada yang ijin keluar, atau barangkali ada yang sakit.
Setelah diabsen, barisan dibubarkan dan boleh memilih acara masing-masing. Ada yang meneruskan nonton tivi, ada yang meneruskan belajar, ada yang jalan-jalan sekedar membeli sabun atau makanan ringan di warung seberang jalan.
Kadang-kadang hadir juga pengawas asrama menjelang apel malam. Kalau itu terjadi, biasanya pak pengawas memimpin apel dan sekaligus memberi wejangan sekedarnya.
Sebetulnya sah-sah saja kalau pak pengawas memberikan sekedar nasehat. Masalahnya muncul kalau kebetulan malam itu ada acara tivi yang bagus. Misalnya Aneka Ria Safari. Apalagi kalau pada malam-malam sebelumnya sudah dipromosikan bahwa malam itu Itje Tresnawati akan hadir.
Waduh, kebayang sudah kegelisahan para penghuni asrama. Sudah lewat seperempat jam nasehatnya belum ada tanda-tanda akan selesai. Semakin panjang sepatah dua patah katanya, barisan apel semakin bengkak-bengkok. Takut kalau Itje tresnawati sudah terlewat.
Makanya begitu nasehat pak pengawas selesai, belum sampai pimpinan membubarkan barisan, wuuusss!…. semua berebut mengambil posisi di depan tivi.
Kenangan Yang Tertinggal
Kewajiban tinggal di asrama hanya bagi siswa kelas satu saja. Setelah naik ke kelas dua mereka bebas memilih apakah akan terus tinggal di asrama atau tidak. Bagi yang asli orang Bogor dan sekitarnya, tentu lebih murah kalau tinggal di rumah sendiri. Bagi yang kampungnya jauh, ada dua pilihan: tetap tinggal di asrama atau menyewa rumah kost yang banyak tersedia di sekitar sekolah.
Sebagian ada yang memilih terus di asrama – di antaranya saya – sebagian lagi ada yang memilih kost. Yang memilih kost biasanya karena ingin lebih bebas dan lebih bervariasi terutama dalam soal menu makanan. Yang terus di asrama barangkali karena merasa sudah cocok, tidak perlu repot membeli parabotan, dan ingin hidup lebih disiplin.
Siswa kelas dua mendapat kesempatan pindah ke kamar, sementara zaal dipakai oleh siswa baru. Meskipun menempati kamar yang berisikan empat orang, aturan lain seperti jadwal makan dan apel malam tetap berlaku.
Siswa kelas tiga yang masih ingin terus tinggal di asrama disediakan Asrama Dewi Sri II yang letaknya terpisah. Khusus hanya untuk siswa kelas tiga. Katanya supaya dapat lebih konsentrasi saat belajar. Kamarnya memang lebih besar meski tetap untuk empat orang dan dilengkapi dengan ruang belajar tersendiri. Tapi meski kamarnya lebih luas, jatah makannya tetap sama. Tetap saja sambal balado tiap senin dan teri main bola setiap hari kamis.
Dibandingkan Asrama Dewi Sri I, suasana di Asrama Dewi Sri II memang lebih lengang. Bangunannya besar dan penghuninya sedikit. Suasana sepi ini semakin menjadi saat memasuki minggu tenang menjelang ujian akhir. Rasanya dimana-mana belajar. Bahkan suara tivi pun menjadi semakin jarang.
Seusai ujian akhir, suasana menjadi lebih sepi lagi. Meski belum ada pengumuman kelulusan ujian, sebagian penghuni asrama Dewi Sri II sudah berkemas-kemas. Besoknya malah sudah pamit pulang lebih dulu. Mereka menunggu di rumah masing-masing untuk kemudian datang ke kampus SPMA pada hari pengumuman.
Tapi masih ada sebagian kecil yang bertahan tinggal di asrama meski jatah makan sudah tidak diberikan lagi. Mereka ini biasanya karena kampungnya di luar Jawa Barat. Ada yang dari Lampung, dari Jawa Tengah, Jawa Timur, atau bahkan Timor Timur.
Kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi dari warung-warung di sekitar asrama. Kalau malam semua berkumpul di ruang tengah, menonton tivi sambil berpandang-pandangan seperti pasangan kekasih yang akan berpisah. Saya meskipun tinggal di Jakarta tapi termasuk kelompok kecil ini.
Pada suatu malam kami mengeluaran semua barang-barang yang tidak diperlukan lagi. Kursi reot, potongan kayu, kertas-kertas segala ukuran – mungkin di antaranya juga ada surat-surat cinta, pakaian kumal, semua ditumpuk di tengah lapangan dan dibakar.
Asap hitam membumbung ke angkasa. Bara api memercik kemana-mana. Kami berdiri mengelilingi sambil memandang dengan perasaan sedih. Rasanya seperti ada yang hilang. Rasanya seperti ada yang ikut terbang bersama serpihan-serpihan yang membumbung ke atas.
Ketika kemudian dinyatakan lulus, kesedihan itu semakin menjadi-jadi. Rasanya aneh ketika kami harus meninggalkan asrama yang sudah sejak tiga tahun kami tempati. Rasanya aneh, ketika di rumah kami tidak lagi melihat wajah-wajah yang selama tiga tahun ini terasa akrab. Rasanya aneh, ketika kami tidak lagi harus antri saat mandi atau menunggu lonceng untuk makan bersama.
Dalam perjalanan pulang, saya tidak pernah melepaskan pandangan dari bangunan asrama yang semakin menjauh. Yang semakin mengecil. Yang semakin memburam dalam pandangan mata saya yang mungkin saja berair.
Bertahun-tahun kemudian saya tidak pernah lupa menoleh ke arah asrama setiap kali melewati Jalan Cibalagung. Tidak pernah lupa untuk melihat bahkan ketika sedang melintas di pertigaan Empang. Barangkali karena saya sadar sebagian masa lalu saya tertinggal di sana. Barangkali karena saya sadar kenangan-kenangan itu tidak mudah dilupakan, dan keinginan untuk menyusuri ruang-ruang di dalam asrama menjadi semacam keinginan yang tidak bisa ditahan.
Kinginan itu selalu ada. Selalu menganggu pikiran. Bahkan sampai belasan tahun kemudian keinginan itu tidak juga menghilang.
Sampai sekarang….