Terus terang, masuk SPMA tidak terduga sama sekali sebelumnya. Saya tahu SPMA ketika ngaji di Madrasah-nya Al-Ihya. Ustad saya sering cerita SPMA, kemudian kakak kelas di madrasah ada Ustad Hamid, Ustad Hairul, Kang Yayat sekolah di SPMA. Heri/Ahmad Ridwan (alm) sahabat saya waktu di sekolah di SD Hutabarat juga cerita ttg kakaknya (kang Roy) yang sekolah di SPMA. Kalau berangkat ngaji (pukul 14.00) sering berpapasan dengan siswa SPMA yang pulang sekolah di Pusat Penelitian Hutan / Bosbow berseragam putih/biru.
Daftar ke SPMA didaftarkan oleh kakak saya, karena saya ngikut test SMAN 1 dan SAKMA. Test di SAKMA tdk lulus, SMAN 1 lulus. Test di SPMA berangkat bareng dengan Heri (alm), pulang bahas soal test di bosbow, besoknya lihat pengumuman dan lulus. Saya pilih SPMA dengan berpikiran lulus bisa kerja atau mau neruskan ke PT.
Masuk asrama merupakan hal yang sangat baru, sebelumnya belum terpisahkan dari rumah orang tua.
Hari pertama di asrama diorientasi, kaget belum apa-apa sudah dimarahi, dibentak, disuruh bersihkan kamar kakak kelas. Hari pertama orientasi angkut pupuk kandang dengan hand traktor yang dibawa oleh Kak Herman (asisten guru), terperosok di dekat rumah pak Karna (Gudang Tengah), baju dan celana belepotan pupuk kandang sapi. Pulang ke asrama baju dan celana saya rendam dengan Rinso selam 3 hari, malah jadi tambah bau.
Semuanya itu jadi pelajaran berharga bagi saya agar tegar menghadapi berbagai masalah. Hikmah lain, rasa solidaritas dan kekeluargaan dengan seluruh siswa sangat tinggi, yang tidak dikenal di sekolah lain.
Pendidikan yang didapat di SPMA, saya pikir meliputi semua aspek baik pertanian maupun non pertanian, itulah kelebihan lulusan SPMA.
Lulus SPMA, sempat nganggur karena kurang komunikasi, ikut kursus komputer sebagai programmer, selesai kursus dikejar-kejar sama orang SAMSAT (pelayanan pajak kendaraan bermotor) karena membuat program database pelayanan STNK, disuruh kerja di Kantor SAMSAT Tangerang tapi malah kerja di Balai Penelitian Tanaman Pangan di Sindangbarang ketemu pak Surojo (guru Bercocok Tanam kelas 1).
Sempat jadi instruktur komputer di PT Union Carbide, dengan bayaran cukup lumayan (5 x gaji PNS). Ikut Test di Kebun Raya Bogor dan lulus 1988 di pengelolaan data tanaman koleksi sampai sekarang dan tim perencanaan.
Ketika di SPMA, banyak yang mengucapkan saya ini calon insinyur, meski berpikir apa bisa lulus SPMA sekolah lagi di IPB, mengingat yang diterima di IPB hanya beberapa orang melalui jalur Perintis 2 (sekarang USMI), atau SIPENMARU yang soalnya sulit-sulit.
Alhamdulillah ucapan tetangga, mungkin salah satu doa selain doa kedua orang tua saya.Tahun 1992 saya ditugaskan belajar rencananya ke Missouri (USA) atau ke IPB, ternyata IPB lebih dulu menyatakan saya lulus melalui jalur USMI, sedangkan di USA meski sudah ada lampu hijau tapi belum pasti keberangkatannya. Kuliah di IPB di PS Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian.
Kuliah di TPB-IPB, ikut matrikulasi MK Kimia, yang namanya ujian, jangankan jawabannya, soalnya juga gak ngerti arahnya ke mana, sempat gak lulus matrikulasi, mengulang MK tersebut di Reguler TPB, Alhamdulillah semuanya dapat dilewati meski hanya dengan nilai C.
Lulus di IPB tahun 1997 langsung diwisuda 2x, pertama sebagai sarjana pertanian, kedua sebagai suami dari Eni Yuhaeni (seangkatan 86)
Kembali ke dinas, dapat tugas baru, membuat perencanaan kebun raya baru di Jambi (1998), Baturraden (2002), Kuningan (2007), studi kelayakan rencana pembangunan kebun raya di Nicaragua (2001), Kalimantan Timur (2001) dan beberapa desain taman lainnya. Tahun 2005 ditugaskan lagi untuk belajar di PS Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Padjadjaran dan harus diselesaikan dalam waktu 13 bulan. Alhamdulillah beres juga.
Melihat apa yang saya alami, terkadang sering terpikir bahwa setelah lulus SPMA ini tidak punya arah, meski semuanya bersifat positif, tapi yang jelas apa yang saya dapat waktu di SPMA tetap saja masih sangat bermanfaat dan sangat relevan untuk menunjang profesi saya. Kalau membuat master plan atau site plan, ilmu yang saya gunakan tetap apa yang didapat di SPMA seperti penghitungan pupuk, penghitungan benih, masalah iklim, penghitungan debit air, penghitungan bestek, pengukuran geodesi (meski oleh konsultan lain, jangan sampai kena dikadalin)
Dari semua kenangan sekolah yang pernah saya alami, kenangan di SPMA yang paling berkesan, apalagi dapat jodoh lulusan SPMA seangkatan. Sangat disyukuri….

Seperti diposting oleh suhendar pada Rabu 10 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125