colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in Kenapa Masuk SPMA?

Lepas balita sebelum Indonesia merdeka aku sudah ancang ancang ingin masuk sekolah pertanian. Nantinya ingin seperti Tuan Gilbert administratur perkebunan kelapa sawit Taba Pingin Lubuk Linggau, tempat kami tinggal saat itu. Mengawali SD, 1945 aku masuk HIS Muhamaddyah di Curup lalu kelas 4 tahun 1949 pindah ke SD No.1. Tamat SD tahun1952 dan tamat SMP Curup tahun 1955. Niatan untuk masuk SPMA Bogor tidak tercapai karena nilai ijazah rendah. Namun beruntung bisa masuk SPMA Palembang yang baru dibuka tahun 1955. Jadilah aku murid SPMA Palembang angkatan pertama.

Masih terfokus pada SPMA Bogor sampai kelas II aku melakukan surat menyurat dengan rekan di SPMA Bogor. Sdr.Simatupang menceritakan panjang lebar tentang berbagai hal di SPMA Bogor yang membuat kami merasa wah! Alhasil aku bisa pindah ke SPMA Bogor tahun 1956.

Karena banyaknya perbedaan antara SPMA Palembang dan Bogor, aku tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan tidak naik kelas. Bahkan berhasil mencapai rekor nilai paling rendah angka 3 di raport untuk pelajaran Ilmu Bangunan oleh Bapak Manuputti. Masa itu siswa yang kurang tidak diraih. Sebagian besar guru berpendirian ”just let it be”. Hanya Andi Hakim yang menanyakan mengapa nilaiku turun. Aku tidak bisa menjawab, tapi pak guru kemudian memberi contoh2 yang sederhana dan akhirnya mendapat nilai 6.

Pengalaman lain, pak guru yang “tegas” kualami pada waktu praktek membuat bedengan untuk pesemaian padi. Perintahnya gunakan tangan untuk menumpuk lumpur jadi bedengan, namun aku tetap menggunakan pacul karena terasa lebih mantap. Tak berapa lama datang peringatan pak guru agar jangan pakai pacul! Semula aku akan menawarkan hasilnya lebih baik dan lebih cepat, tapi pak guru gusar dan menyuruh kita semua cuci tangan dan pulang. Rekan rekan banyak yang marah kepadaku, dan mengatakan “Maneh mah rek jadi pengusaha mani embung nyekel taneuh?

Seperti diposting oleh Mas Karmun ‘59 pada Rabu 24 Feb 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2354

Setelah lulus dari SMP PGRI III/5 Bogor yg berada di SMP N 5 (sekarang SMP PGRI VII Bogor), saya sudah langsung mendaftar ke SMAN 1 Bogor, kemudian daftar juga ke SAKMA Bogor dan terakhir ke SPP SPMA Negeri Bogor. Namun untuk SAKMA saya tidak lulus. Kemudian saya lulus ujian dan diterima di SPP-SPMA dan lulus ujian saringan masuk di SMAN 1 namun diterima di SMAN 5 Bogor (angkatan pertama).
Namun demikian saya pilih SPP-SPMA, karena bila saya milih SMA pasti nantinya akan masuk jurusan IPS sebab saya senang sekali pelajaran sejarah dan bahasa, sedangkan SPMA sudah jelas tidak ada IPSnya. Selain itu saya pilih sekolah kejuruan (SPP-SPMA) dengan harapan kelak setelah lulus akan mudah mendapat pekerjaan dan ternyata terbukti demikian.

Saya mendaftar masuk SPMA Bogor pada waktu itu ikut dengan teman-teman sebanyak tujuh orang (lupa nama2nya) dari SMP PGRI III/5, dan yang menerima berkas pendaftaran pada saat itu pak Bambang Lukisworo dan saya mendapat nomor ujian 512 (klo gak salah).

Pada saat saya ikut ujian saringan masuk SPMA saya mempunyai tekad yang optimis bahwa saya harus lulus tes dan diterima di SPMA, karena pada saat ujian tersebut peserta yang terdaftar sebanyak + 850 orang sedangkan yang diterima hanya 77 orang (dua kelas), dan saya ikuti ujian tersebut dengan penuh semangat
Tempat saya tes ujian masuk SPMA di luar samping klas IB di depan pintu perpustakaan dan berseberangan dengan Taman Bougenville, dan pada saat itu dalam benak saya alangkah senangnya bila sekolah di SPMA yang gedung sekolahnya terbaik di Bogor

Ternyata esok harinya setelah ujian nomor saya terpampang di papan pengumuman di Gudang Bawah lokasinya dekat pintu masuk ke SPMA dan menurut teman-teman saya artinya saya diterima di SPMA sedangkan 6 orang teman saya lainnya tidak diterima, kemudian saya langsung lapor ke sekretariat penerimaan murid baru dan mendapat penjelasan dari pak Bambang Lukisworo dan pak Supendi

Esok harinya saya mendaftar untuk melengkapi berkas2 penerimaan murid baru dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 17.500,- (klo gak salah) dan mendapat 1 stel bahan untuk seragam celana (biru) dan 1 stel untuk seragam wearpak (biru). Nah, pada saat itu saya bertemu dengan Asep Syarif Hidayat dan pulang bersama kang Asep berjalan menyusuri pancasan trus berpisah di pasar Empang Bogor melanjutkan perjalanan ke rumah masing2.

Setelah diterima masuk sekolah SPMA, saya masuk di klas IA dan mendapat nomor urut Absen 11, pada saat itu yang saya ingat untuk pertama kalinya yang memimpin untuk pemilihan ketua kelas adalah Andri Winata

Sebagai murid/siswa baru SPMA diwajibkan untuk tinggal di Asrama Atas “Dewi SRI” selama satu tahun dan saya menempati kamar no. 9 bersama Iwan Syahrul Komar, Ahmad Soban dan Agda (dari Cirebon), namun sayang sdr. Agda setelah bersekolah 2 bulan dia mengundurkan diri karena merasa tidak mampu untuk bersekolah di SPMA Bogor.

Itulah tentang kisah saya untuk pertama kalinya masuk SPMA negeri Bogor, dan saya merasa bersyukur dan beruntung dapat sekolah di SPMA Negeri Bogor yang luar biasa istimewanya…dan saya sangat berterimakasih kepada para guru dan asiten yang telah membimbing saya sehingga dapat lulus dengan baik dan bersyukur kehadirat Allah SWT…. Amiin.

Seperti diposting oleh achmad widya septiono pada Rabu 15 Juli 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Satu-satunya alasan saya dulu memilih spma adalah karena ingin jauh dari rumah. Bukan karena saya anak durhaka tapi karena saat itu saya sedang tergila-gila pada novel sapta siaga atau lima sekawan karangan Enid Blyton yang diterbitkan gramedia. Cerita petualangannya mengobsesi saya untuk bisa mengalami seperti apa yang diceritakan dalam novel.
Kenapa SPMA?
Karena lokasinya di luar jakarta dan ada asramanya. Secara kebetulan saya membaca tentang spma bogor dari sebuah artikel di majalah femina. Sudah terbayang waktu itu betapa menyenangkan bisa bersekolah jauh dari orangtua dan tinggal di asrama. Untungnya orangtua mendukung. Malah bapak sendiri yang mengantar ke Bogor. Naik KRL dari Lenteng Agung, dilanjutkan naik bemo yang mangkal berjejer di seberang pasar Ramayana.

(Dulu naik KRL masih enak. Masih lowong. Kita masih bisa menikmati perjalanan sambil baca poskota dan makan kacang rebus. Sekarang yang begitu itu jadi kenangan saja. Apalagi ramayana pun sekarang sudah berubah jadi Bogor Trade Mall. Makin lengkap sudah kenangan yang akhirnya hanya menjadi kenangan.)

Waktu itu masa pendaftaran murid baru belum dibuka. Kami memasuki halaman SPMA yang sepi. Kayaknya waktu itu pelajaran sudah diliburkan. Begitu melihat bentuk menaranya, bapak saya spontan berkomentar: “Ini sekolah apa gereja ya?”
Di dalam gedung, kami menuju ke ruang tata usaha. Kalau tidak salah kepala TU-nya saat itu bernama Pak Soekisman. Dan saya masih ingat betul posisi saat itu. Bapak duduk di kursi yang ada di hadapan Pak Soekisman, sementara saya berdiri di samping bapak.
Setelah mereka berbincang-bincang, terdengar Pak Soekisman berkata, “Anaknya yang mau masuk sini kakaknya dia?” sambil menunjuk pada saya.
“Bukan,” jawab bapak. “Ya dia ini yang mau masuk spma.”
Pak Soekisman membuka kacamatanya dan sambil setengah berdiri melihat saya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Dia? Kok masih kecil? Apa bisa pegang cangkul nanti?”
“Bisa Pak!” jawab saya dengan suara lantang.
Percakapan sekilas itu membekas dalam ingatan sampai sekarang. Apalagi karena setelah mengikuti tes dan diterima di SPMA, saya tidak pernah ngobrol dengan Pak Soekisman lagi.
Barangkali memang tidak perlu.
Karena toh selama tiga tahun kemudian saya bisa membuktikan kepada Pak Soekisman bahwa saya bukan hanya bisa memegang cangkul, tapi juga bisa menjadi pengurus osis dan pacaran segala….

Seperti diposting oleh eko supriyanto pada Minggu 07 Juni 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Jujur aja nih….jangan pade kesungging yee.. aye masuk spma bogor tuh gara-gara bokap. Waktu abis test masuk SMA N 1 Depok, bokap daftarin aye ke SAKMA Bogor. Tuh sekolah katanye bokap buat analis kimia. Dalem ati nih, aye ketawa ketiwi, pasalnye aye pan kagak demen ama yang namanye kimia…….. Di SPMA aje pernah ngulang tuh pelajaran kimia. Dan ternyata beneran aye kagak diterima di sonoh.
Aye danse ama temen yang demen banget waktu denger kabar ntuh. Tapiiiiii…. oh my God!…. Entah tau darimane tuh bokap, aye tau2 dikasih kartu test dari SPP Cibalagung Bogor.
Mati gaye dah!… Waktu hari pertama tes di SPMA tea, aye sempet bingung, takjub, plus merinding ondel2 dah. Ntuh bangunan kagak mirip sedikitpun ama yang disebut sekolahan umumnye. Pake ada menara segale, dah gitu bangunannya kayak asrama kumpeni…. wkwkwkwk….
Tapi ternyata malah diterima! Alhasil, dengan berat ati, aye lepaskan SMAN 1 Depok, padahal aye masuk 20 besar hasil tesnya. Huhuhu…tega banget dah bokap aye. Udah gitu mau berangkat aja aye udah repot nyiapin perlengkapan ospek. Aye kagak tau tgl berapa waktu itu, yang jelas aye dianter bokap ama nyokap ke asrama putri SPMA Bogor…..
Selanjutnya….menjalani hari2 dengan segenap suka dukanya di SPMA bogor. Sukanya banyak bangetz dah, dukanya …..hehehe tangan aye kapalan! …….

Seperti diposting oleh susi87 pada Jumat 19 Feb 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Ayah saya seorang guru SD yang hoby mencangkul di kebun belakang rumah (tentu selepas mengajar). Ayah saya terobsesi punya anak yang dapat meneruskan profesinya sebagai seorang guru. Maka lulus SMP saya didaftarkan ke SPG Negeri Bogor dan diterima. Rupanya ayah saya juga punya obsesi lain yaitu ingin punya anak yang berprofesi sebagaimana hobynya, maka saya “disuruh” mendaftarkan diri ke SPMA Bogor.
Nomenklatur “SPP” sama sekali tidak populer saat itu, tapi tahukah kawan, apa sebetulnya cita2 saya? Benarkah ingin menjadi guru atau Insinyur Pertanian? Salah sama sekali, cita2 saya dari kecil adalah ingin menjadi SUPIR BIS!
Tentu aneh kedengarannya, tapi boleh jadi idaman jadi Supir Bis karena tetangga saya ada beberapa orang yang berprofesi sbg Supir Bis, orientasi saya adalah Supir Bis sangat gagah, duduk paling depan memegang kemudi yang besar laksana seorang Jenderal memimpin pasukan, injak rem angin, suara bis mengaum gagah bagaikan auman macan. Satu hal lagi, supir bis tiap hari banyak uang, hebat bukan? Bukan…hehehe….

Saya mendaftar dan ikut seleksi SPMA Bogor dan lulus (saya tdk tahu rangking berapa, yang jelas tdk membayangkan rangking 1 hehehe…). Bukan main girangnya ayah saya. Saya benar2 menjadi kebanggaan ayah (itulah kebahagiaan saya yang sebenarnya), karena awalnya saya tidak pernah berminat menjadi Siswa SPMA Bogor, saat itu motivasi saya mendaftar SPMA Bogor adalah karena saya ingin ikut saja apa kata ayah saya.

Ada satu hal lagi motivasi saya mendaftar SPMA Bogor. Di Kampung saya, ada dua orang pendahulu saya yang dikenal sebagai anak2 pintar dan selalu juara kelas, yaitu Didit Pursadin (Alumni SPMA 82) dan Udin Syafrudin (Alumni SPMA 1985). Bahwa dua orang tersebut bersekolah di SPMA Bogor tentu saja sangat dibanggakan dan dikagumi oleh teman-teman saya bahkan oleh seisi kampung. Maka saya merasa tertantang untuk bisa mengikuti jejak kedua orang ini. Entah kebetulan atau memang direncanakan, di kampung saya terjadilah estafet tongkat SPMA yaitu Didit Pursadin lulus SPMA, masuklah Udin Syafrudin. Udin Syafrudin Lulus SPMA, masuklah saya, saya lulus SPMA, SPMAnya dibubarin hehehe….

Well…. Apapun motivasinya, ternyata setelah masuk dan menjadi siswa SPMA Bogor, tidak sia-sia ayah saya menyuruh sekolah di SPMA Bogor. Tidak perlu saya ceritakan apa yang membuat kita Bangga dan Berbahagia menjadi SPMA Bogor, karena kita semua mengalaminya…
Saya masih ingat kalimat pertama ketika guru Agama kita Ustadz M. Husni Thamrin memberikan kuliah pertamanya di kelas, “Beruntunglah kalian menjadi Siswa SPMA Bogor.” Awalnya saya tidak mengerti maksud kalimat beliau tsb, tapi setelah menjalani hari2 sebagai Siswa SPMA, benarlah adanya kalimat beliau tersebut
“Ya, karena kita semua orang2 yang beruntung…”

Seperti diposting oleh tedi rusmiadi pada Senin 01 Juni 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Masuk SPMA Bogor?
Terus terang saat daftar saya lagi sangat bingung. Orang tua lagi pada merantau di Sumatra. Di kuningan (perbatasan Jawa Barat & Jawa Tengah) saya hanya tinggal dengan saudara perempuan saya, sehingga saat orang-orang lulus SMP sibuk mencari sekolah unggulan saya masih menunggu orang tua. Untung ada guru yang mendaftarkan saya di SPMA dan SUPM dengan jalur tanpa tes (Kebetulan nilai saya untuk ukuran di kampung bagus).
Di SUPM saya tidak diterima. Alhamdulillah di SPMA saya diterima, sementara 2 orang temen saya yang ikut tes dua-duanya tidak lolos. Jadilah saya siswa SPMA…..
Ternyata dalam keadaan pasrah tanpa daya namun tetap berharap dan berdoa, Allah selalu berikan yang terbaik….. dapat teman, kakak dan adik kelas yang baik-baik, seperti saudara kandung saja semuanya…… Terimakasih Tuhan… terimakasih teman2, Guru2, dan semuanya….

Seperti diposting oleh uking-carkim sumirya pada Sabtu 09 Mei 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Sobat semua, hidup ini penuh misteri. Contohnya saat saya lulus dari SMP 1 Kotabumi Lampung th 1976 cita-cita saya adalah ingin jadi IR dan untuk itu harus kuliah di IPB. Dan dalam benak saya untuk memudahkan kuliah di IPB maka jalur yang paling tepat adalah masuk SPMA apalagi kalau SPMAnya di Bogor. Namun apa yang terjadi, karena sistim kurikulum dan aturan yang ada harus kerja 2 tahun, cita-cita untuk jadi IR kandas di jalan.
Tapi saya tidak menyesal sekolah di SPMA karena perasaan saya sampai hari ini betapa hebatnya ketika diterima di SPMA saya anak dari daerah dapat menembus persaingan yang cukup ketat dan sistim sekolahnya sangat menghargai nilai-nilai intelektual. Alhamdulillah berkat didikan SPMA saya masih sempat menyelesaikan S2 di bidang ilmu administrasi publik dan kini dipercaya oleh Pemda Kab Lampung Utara untuk jadi pejabat eselon 2 sebagai Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang stafnya rata-rata lulusan s1 dan s2 pertanian….

Seperti diposting oleh hidayat sungkai pada Senin 24 Nov 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Waktu masih sekolah di SMP 3 Cirebon aku pernah kedatangan kakak kelas yang pakai seragam angkatan laut putih2 bersih n gagah. Waktu aku tanya sekolah di mana, dia bilang sekolah di SPP Bogor. Dari situlah langsung terpikirkan untuk sekolah di Bogor karena tertarik dgn seragamnya.
Waktu lulus SMP karena belum tahu yang namanya Bogor terpaksalah mendaftarkan diri ke SMA 1 Cirebon dan alhamdulillah diterima. Tapi dasarnya sudah kebelet aku nekat memberanikan diri pergi ke Jakarta lalu ke Bogor untuk cari sekolah SPP. Di jakarta ada tetangga yg kuliah di IPB dan menunjukan SPP itu ada di Cibalagung. Dgn semangat 45 aku mendaftarkan ke sana sendirian dibekali peta dari tetangga. Ternyata setelah sampai dan ikut ujian seleksi betapa bangganya stlah aku diterima dari sekian banyaknya peserta yang datang dan satu asrama.

Aku baru sadar kalau salah sasaran setelah dapat seragam ternyata bukan putih2, yg sebenarnya tujuan sekolahku adalah SUPM. Tp tak apalah justru di SPMA inilah aku mendapatkan banyak pengalaman yg indah yg membawa aku mendapatkan jodoh n pekerjaan dari SPMA ini. He……. He……
Dan kebanggaan lain setelah reuni kemarin ternyata yuniorku jg terobsesi mau masuk SPMA mudah2an aja SPMA dapat dibangkitkan kembali dgn kualitas yang lebih baik untuk yunior-yuniorku …………

Seperti diposting oleh endah sulvitasari pada Senin 22 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Terus terang, masuk SPMA tidak terduga sama sekali sebelumnya. Saya tahu SPMA ketika ngaji di Madrasah-nya Al-Ihya. Ustad saya sering cerita SPMA, kemudian kakak kelas di madrasah ada Ustad Hamid, Ustad Hairul, Kang Yayat sekolah di SPMA. Heri/Ahmad Ridwan (alm) sahabat saya waktu di sekolah di SD Hutabarat juga cerita ttg kakaknya (kang Roy) yang sekolah di SPMA. Kalau berangkat ngaji (pukul 14.00) sering berpapasan dengan siswa SPMA yang pulang sekolah di Pusat Penelitian Hutan / Bosbow berseragam putih/biru.
Daftar ke SPMA didaftarkan oleh kakak saya, karena saya ngikut test SMAN 1 dan SAKMA. Test di SAKMA tdk lulus, SMAN 1 lulus. Test di SPMA berangkat bareng dengan Heri (alm), pulang bahas soal test di bosbow, besoknya lihat pengumuman dan lulus. Saya pilih SPMA dengan berpikiran lulus bisa kerja atau mau neruskan ke PT.
Masuk asrama merupakan hal yang sangat baru, sebelumnya belum terpisahkan dari rumah orang tua.
Hari pertama di asrama diorientasi, kaget belum apa-apa sudah dimarahi, dibentak, disuruh bersihkan kamar kakak kelas. Hari pertama orientasi angkut pupuk kandang dengan hand traktor yang dibawa oleh Kak Herman (asisten guru), terperosok di dekat rumah pak Karna (Gudang Tengah), baju dan celana belepotan pupuk kandang sapi. Pulang ke asrama baju dan celana saya rendam dengan Rinso selam 3 hari, malah jadi tambah bau.
Semuanya itu jadi pelajaran berharga bagi saya agar tegar menghadapi berbagai masalah. Hikmah lain, rasa solidaritas dan kekeluargaan dengan seluruh siswa sangat tinggi, yang tidak dikenal di sekolah lain.
Pendidikan yang didapat di SPMA, saya pikir meliputi semua aspek baik pertanian maupun non pertanian, itulah kelebihan lulusan SPMA.
Lulus SPMA, sempat nganggur karena kurang komunikasi, ikut kursus komputer sebagai programmer, selesai kursus dikejar-kejar sama orang SAMSAT (pelayanan pajak kendaraan bermotor) karena membuat program database pelayanan STNK, disuruh kerja di Kantor SAMSAT Tangerang tapi malah kerja di Balai Penelitian Tanaman Pangan di Sindangbarang ketemu pak Surojo (guru Bercocok Tanam kelas 1).
Sempat jadi instruktur komputer di PT Union Carbide, dengan bayaran cukup lumayan (5 x gaji PNS). Ikut Test di Kebun Raya Bogor dan lulus 1988 di pengelolaan data tanaman koleksi sampai sekarang dan tim perencanaan.
Ketika di SPMA, banyak yang mengucapkan saya ini calon insinyur, meski berpikir apa bisa lulus SPMA sekolah lagi di IPB, mengingat yang diterima di IPB hanya beberapa orang melalui jalur Perintis 2 (sekarang USMI), atau SIPENMARU yang soalnya sulit-sulit.
Alhamdulillah ucapan tetangga, mungkin salah satu doa selain doa kedua orang tua saya.Tahun 1992 saya ditugaskan belajar rencananya ke Missouri (USA) atau ke IPB, ternyata IPB lebih dulu menyatakan saya lulus melalui jalur USMI, sedangkan di USA meski sudah ada lampu hijau tapi belum pasti keberangkatannya. Kuliah di IPB di PS Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian.
Kuliah di TPB-IPB, ikut matrikulasi MK Kimia, yang namanya ujian, jangankan jawabannya, soalnya juga gak ngerti arahnya ke mana, sempat gak lulus matrikulasi, mengulang MK tersebut di Reguler TPB, Alhamdulillah semuanya dapat dilewati meski hanya dengan nilai C.
Lulus di IPB tahun 1997 langsung diwisuda 2x, pertama sebagai sarjana pertanian, kedua sebagai suami dari Eni Yuhaeni (seangkatan 86)
Kembali ke dinas, dapat tugas baru, membuat perencanaan kebun raya baru di Jambi (1998), Baturraden (2002), Kuningan (2007), studi kelayakan rencana pembangunan kebun raya di Nicaragua (2001), Kalimantan Timur (2001) dan beberapa desain taman lainnya. Tahun 2005 ditugaskan lagi untuk belajar di PS Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Padjadjaran dan harus diselesaikan dalam waktu 13 bulan. Alhamdulillah beres juga.
Melihat apa yang saya alami, terkadang sering terpikir bahwa setelah lulus SPMA ini tidak punya arah, meski semuanya bersifat positif, tapi yang jelas apa yang saya dapat waktu di SPMA tetap saja masih sangat bermanfaat dan sangat relevan untuk menunjang profesi saya. Kalau membuat master plan atau site plan, ilmu yang saya gunakan tetap apa yang didapat di SPMA seperti penghitungan pupuk, penghitungan benih, masalah iklim, penghitungan debit air, penghitungan bestek, pengukuran geodesi (meski oleh konsultan lain, jangan sampai kena dikadalin)

Dari semua kenangan sekolah yang pernah saya alami, kenangan di SPMA yang paling berkesan, apalagi dapat jodoh lulusan SPMA seangkatan. Sangat disyukuri….

Seperti diposting oleh suhendar pada Rabu 10 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125

Cita-citaku… Ingin jadi Insinyur.. (seperti lagunya Susan..)

Sewaktu kecil, saya ingin bisa langsung bekerja setelah lulus sekolah dan ingin menjadi Insinyur Pertanian. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut saya ingin sekolah di bidang pertanian.

Selepas SMP tahun 1984, saya tidak mendapatkan info keberadaan sekolah pertanian setaraf SMA (sekarang SMU). Karena harus melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, maka saya masuk SMAN 62 Kramat Jati Jakarta. Satu tahun kemudian naik kelas dua jurusan A2 atau IPA. Penjurusan waktu itu A1 untuk Matematika, Kimia & Fisika, A2 untuk Biologi dan A3 untuk Sosial-Ekonomi.

Saat libur kenaikan kelas, saya mendapatkan info teman saya Tisno yang biasa dipanggil Iis, yg rumahnya di belakang rumah orang tua saya kebetulan baru lulus SMP mau mendaftar di SPMAN Bogor.

Bolehlah cerita sedikit… Saya tinggal di komplek ABRI- RINDAM yang letaknya di Condet Jakarta Timur. Anak2 komplek ABRI biasa dipanggil ANAK KOLONG.. Rumah kami amat berdekatan satu dengan yang lainnya dan tidak memiliki halaman…

Nah, karena info dari dialah keinginan saya untuk masuk Sekolah Pertanian kembali menggebu-gebu. Saya utarakan keinginan tersebut ke orang tua… Alhamdulillah orang tua saya mengijinkan dan merestuinya..

Singkat cerita saya mendaftar dan mengikuti test seleksi penerimaan siswa SPMAN Bogor. Saya, Tisno dan teman2 yang lainnya tinggal di asrama DS I…
Pengumuman hasil seleksi dilakukan esok harinya yang ditempel di papan tulis dan diletakkan di lapangan tenis depan Gudang Bawah.

Saya bersyukur dan bahagia… saya DITERIMA…
Kebahagiaan saya jadi hambar karena teman saya Tisno tidak lulus…

Sempat terjadi gejolak batin antara masuk SPMA atau melanjutkan SMA. Dengan keyakinan dan restu orang tua akhirnya saya putuskan menjadi Siswa SPMA Bogor dan menjadi anggota Dewi Sri..

Alhamdulillah… Bukan hanya ilmu pertanian saja yang saya dapatkan.
Saya mendapatkan Nilai-nilai Luhur SPMAN Bogor. Saya mendapatkan Kehangatan, Kenangan Manis dan Kekeluargaan yang luar biasa sampai kini… Dan…
Saya mendapatkan Pendamping Hidup di sini…

Saat ini saya sudah menggapai cita-cita menjadi Sarjana di bidang pertanian walau bukan Insinyur Pertanian. Hal ini karena adanya perubahan penulisan gelar. Sebel juga seeehhh..

Seperti diposting oleh repelita iwan kusumah pada Jumat 15 Ags 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=125