colocasia.spmabogor.net

Majalah Dinding Maya SPMA Bogor

Browsing Posts in Untuk Kita Renungkan....

…. artikel menarik dari koran Republika….
Oleh : Zaim Uchrowi

“Yang penting jadi orang baik,” begitu kata dosen dan antropolog Universitas Gajah Mada yang bernama panjang, Pujo Semedi Hargo Yuwono. Ia menyampaikan itu pada mahasiswanya. Seorang mahasiswa yang baru lulus kuliah, dan sedang bingung hendak ke mana untuk bekerja.

Menurut Pujo, bekerja apa pun baik. Sepanjang cocok dengan nurani. Pandangan yang belum sepenuhnya disetujui sang mahasiswa. Bagi mahasiswa itu, nilai ekonomi suatu pekerjaan penting untuk dipertimbangkan. Apalagi, di masa sekarang, saat ekonomi makin jadi ukuran sukses. Bahkan, dianggap sebagai syarat utama untuk bahagia. Namun, Pujo menggeleng, ”Kalau jadi orang baik, uang akan datang sendiri,” katanya.

Setuju pandangan Pujo? Boleh saja tak setuju. Tapi, sulit untuk membantah bahwa hati cenderung mendorong diri menjadi orang baik. Kita ingin menjadi orang baik. ”Orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama,” begitu slogan klise yang acap terdengar. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, istilah ’orang baik’ memang makin jarang terdengar. Istilah itu tenggelam oleh hiruk pikuk kehidupan. Hiruk pikuk orang jungkir balik mencari penghidupan. Juga, hiruk pikuk orang sibuk memupuk kekayaan dan kekuasaan.

Dulu banyak orang mengajak yang lain agar menjadi orang baik. Orang tua pada anak-anaknya, guru pada muridnya, juga ulama pada jamaahnya. Sekarang, ajakan menjadi orang baik makin jarang terdengar. Istilah ’orang baik’ makin jarang diucapkan. Tentu, makin sulit juga menjadi wujud orang baik. Sulit mencari orang baik sebenarnya bukan hanya saat-saat sekarang. Sudah beberapa lama ada penilaian, orang baik memang sulit dicari.

Yang terang-benderang menyebut orang baik sulit dicari adalah Jacob Sumardjo. Intelektual Bandung itu menulis kolom berjudul ’Orang Baik Sulit Dicari’. Sebuah judul yang diambilnya dari cerpen Amerika, Flannery O’Connor berjudul serupa. Jacob bahkan menggunakan judul itu untuk judul buku kumpulan tulisannya, yang diterbitkan oleh Penerbit ITB tahun 1997. Tulisan itu menunjukkan, beberapa tahun lalu pun orang baik sulit dicari. Bagaimana sekarang?

Keadaan lingkungan, sosial, ekonomi, hingga politik sering menghalangi menjadi orang baik. Para pengendara motor di Jakarta umumnya orang baik. Rumah yang jauh dari tempat kerja, juga berat beban perjalanan, membuat mereka ringan melampaui batas lampu merah atau malah menerobos rambu. ’Konstituen’ banyak meminta dana bantuan, anggota DPR jadi sibuk mencari uang dengan berbagai cara. Para pejabat publik dituntut menjaga gengsi tak perlu malu. Dapat dimengerti bila banyak yang berlomba memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan itu. Keadaan semacam itu yang membuat orang baik sulit dicari.

Orang baik biasanya suka merendah. Jika tak benar-benar perlu, orang baik umumnya tak mau tampil. Itu membuat orang baik yang sudah sulit dicari makin sulit lagi dicari. Tapi, bukan berarti orang baik tak ada. Orang baik mungkin banyak. Cuma jumlahnya yang belum mencukupi untuk menjadi ’massa kritis’ yang mampu mengubah umat dan bangsa ini menjadi baik. Perlu upaya utuk memperbanyak jumlah orang baik. Itu perlu upaya semua.

Orang baik dapat disebut sebagai orang yang ramah, santun, suka menolong, tak menyakiti, atau berbuat jahat pada yang lain. Juga tak korup atau menyahgunakan wewenang. Tapi, kriteria orang yang baik tentu tak sesederhana itu. Orang baik juga harus mau dan mampu terus-menerus mengevaluasi dan memperbaiki diri. Orang baik tak akan pernah berhenti meningkatkan dan memperbaiki wawasan, sikap, serta perilaku. Orang baik juga akan terus belajar serta enggan mapan pada ’zona nyaman’nya masing-masing. Orang baik suka mengambil prakarsa. Apa pun resikonya.

Orang baik demikian. Tampaknya, yang diyakini dosen UGM itu akan membuat ’uang datang sendiri’. Boleh jadi kita merasa sudah jadi orang baik, namun ternyata uang tak kunjung datang sepanjang masa. Jika seperti itu, kita tentu belum sungguh-sungguh menjadi orang baik. Kita perlu berani mengevaluasi diri, membebaskan diri dari ’zona nyaman’, terus menguatkan daya belajar diri, dan meningkatkan prakarsa. Itu berlaku bukan hanya bagi individu, melainkan juga masyarakat dan bangsa. Orang, masyarakat, serta bangsa yang baik akan membuat uang atau kemakmuran datang sendiri.

Sumber : Republika, Jum’at, 30 Juli 2010

Seperti diposting oleh hayat pada Rabu 04 Ags 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2560

Untuk renungan bersama. Semoga bermanfaat.

Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: ‘Ya Karim! Ya Karim!’

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menirunya membaca ‘Ya Karim! Ya Karim!’
Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: ‘Ya Karim! Ya Karim!’
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berada di belakangnya mengikut zikirnya ‘Ya Karim! Ya Karim!’
Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata:

‘Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.’

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersenyum, lalu bertanya: ‘Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?’
‘Belum,’ jawab orang itu.
‘Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?’
‘Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,’ kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berkata kepadanya: ‘Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!’
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

‘Tuan ini Nabi Muhammad?!’ ‘Ya’ jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Melihat hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:
‘Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah SWT mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang
yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.’

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata:
‘Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: ‘Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar!’ Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
‘Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!’ kata orang Arab badwi itu.
‘Apakah yang akan engkau perhitungkan denganTuhan?’ Rasulullah bertanya kepadanya.
‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya, ‘jawab orang itu…dan ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
‘Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga ‘Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang.
Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah SWT tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah SWT sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!’

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut, lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

oleh : HABIB ABU BAKAR BIN ALWI ALHABSY

Seperti diposting oleh masduki pada Selasa 27 Juli 2010
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2546

setiap waktu ku tertegun dan termenung…
menatap “nafas kehidupan” bangsaku ini
INDONESIA “tercinta” (kata para Ustad mencintai tanah air bagian dari iman loo)
dari hari ke hari orang pinternya semakin banyak…
sepanjang jalan memandang berseliweran mobil apalagi motor….
di sisiku dua pemandangan yang sangat ironis…
si A yang terus menambah lantai rumahnya keatas…
si B yang terus ditimpa musibah karena atap rumahnya yang semakin keropos…
dan..
di tanah suci Mekah…
tiap tahun jutaan anggota bangsaku berteriak…. labaika Allahuma labaik
setiap waktu pula ku menangisi nasib bangsaku
setiap saat wartawan tertawa
setiap saat ada berita yang “waah”
dari Miyabi hingga KPK
dari kesolehan “AA Gym” hingga kenistaan “?”
semua serba Waah…
Tuhan..
tetapkanlah kami menjadi orang-orang yang asing bagi ahli dunia….
dan masayahur bagi ahli langit….

Seperti diposting oleh ikhwan hakim pada Selasa 17 Nov 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2223

Isu sekolah gratis akhir-akhir ini menjadi akrab di telinga kita. Antara percaya dan tidak, kata “gratis” seperti pisau yang bermata dua…
Sekolah identik dengan mutu..
Mutu identik dengan dana…
Dana identik dengan uang..
Intinya kalau ingin sekolah bermutu harus ber”uang”…
Kalau tak punya uang silahkan masukan anak di sekolah yang tak bermutu.

Novel laskar pelangi muncul menghancurkan mitos asumsi-asumsi di atas..
Mutu tidak selalu identik dengan Uang..
walaupun tidak dipungkiri uang berperan dalam meningkatkan mutu…
ketika ribut tentang anggaran pendidikan 20 % APBN/APBD…
orang bertanya, apakah termasuk gaji guru?
ataupun untuk segala hal yang berhubungan dengan proses peningkatan mutu…?
lahirlah RSBI dan SBI….?
berteriak pula para pemerhati pendidikan yang “jujur”
ini adalah liberalisasi pendidikan…dll dll
lahir pula undang-undang BHP…
di tengah gema pebolakannya..
hari-hari ini kita mengantarkan anak-anak kita
masuk TK, SD, SMP, SMA atau universitas
bersiap-siaplah dengan “dana” ratusan hingga jut-jutan
biarlah sekolah gratis bersuara di TV dll
realita berbicara lain…
BOS hanya untuk operasional sekolah…
kami perlu memperbaiki pagar…
kami perlu membeli komputer….
kami perlu…. kami perlu….
dan itu semua hanya diharapkan keluar dari kantung saku kita orang tua…
yang ber”uang” tak masalah…
yang tak ber”uang” habis sudah air mata kesedihan….
jangankan untuk sekolah….
apa yang dimakan esok hati pun tak terbayang….
itulah jutaan saudara kita di negeri kita..
tak salah Pramudia Anantoer berbicara dlm “bumi dan manusia”
tentang ketidak berdayaan kaum tersingkirkan proletar
tentang semangat perlawanan kepada tirani..
namun satu yang ia lupa…
kita masih punya Tuhan tempat mengadu
dan Dia-lah yang memiliki Rizki sebenarnya….

Seperti diposting oleh ikhwan hakim pada Rabu 01 Juli 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2014

Dalam mantiqul thair (musayaawarah burung), Faridudin Athar menceritakan tentang musyawarah burung2 untuk mencari pemimpin mereka, sepakat untuk memilih burung hud-hud. Tapi burung hud-hud menolak karena dia merasa tak layak menjadi pemimpin para burung. Ributlah para burung dalam rapat tersebut hingga akhirnya mereka bertanya kepada burung hud-hud, “Siapakah yang pantas kami angkat sebagai pemimpin kami?” Jawab burung hud-hud: “Ada, namanya simthur.”
Lantas burung hud-hud menceritakan bagaimana bentuk, sifat simthur (persis para capres kampaye tentang dirinya) sehingga para burung yakin dan ingin segera bertemu dengan simthur untuk mengangkatkannya menjadi pemimpin para burung.
Tapi burung hud-hud mengatakan kepada mereka kalau tempat tinggal simthur sangat jauh dan banyak bahaya yang menghadang di tengah jalan…..
Mendengar hal tersebut ributlah para burung….
Burung Bul-bul dengan bangganya berkata, “Bagiku cukuplah bunga mawar sebagai kecintaanku…. Dia indah dan semerbak…. Aku menyukainya sepenuh hatiku….”
Yang lainnya berkata dengan alasan masing-masing sehingga mereka tak jadi pergi ke tempat simthur.
Burung hud-hud berkata kepada bul-bul: “Cintamu kepada bunga mawar tak sepenuhnya dan tak abadi, bunga mawar hanya indah dan berbunga pada musim semi….”

Dengan kisah di atas Faridudin Athar ingin mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak bisa mengharapkan kecintaan sepenuhnya dari orang lain. Cinta seorang suami kepada istrinya datang dan pergi, demikian pula sebaliknya.
Jangan kita melihat cinta itu indah sepenuhnya….
Ketika kita mencintai seeorang atau sesuatu, maka bersiaplah kita untuk berkorban.
CINTA YANG ABADI HANYA ILALLAH ALALLAH dan LILLAH….

Seperti diposting oleh ikhwan hakim pada Sabtu 18 Juli 2009
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=2042

Oleh : Dra. (Psi). Zulia Ilmawati

Pelaku utama dalam kehidupan rumah tangga adalah suami dan istri. Keduanya laksana dua sahabat dan anggota tim yang harus kompak dalam membina biduk rumah tangga. Agar solid, antara suami dan istri harus bisa melakukan fungsi dan perannya masing-masing sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Satu hal yang juga penting adalah bagaimana cinta antara keduanya bisa terus tumbuh dengan subur. Sebab, cinta akan membuat kehidupan keduanya menjadi lebih indah hingga terwujud keluarga yang sakînah mawadah wa rahmah, yang merupakan tujuan dibangunnya sebuah rumah tangga. (Lihat: QS ar-Rum [30]: 21).

Cinta Itu Fitrah
Pada diri manusia terdapat dua potensi (dorongan) hidup yang senantiasa mendorong dirinya untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Pertama: kebutuhan jasmani (hâjah al-’udhawiyah) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Kedua: naluri (gharîzah) yang menuntut adanya pemenuhan saja. Salah satu dari naluri tersebut adalah gharîzah an-nau‘ (naluri untuk mempertahankan spesies manusia), yang salah satu perwujudannya adalah munculnya rasa cinta/kasih-sayang, antara lain di antara suami-istri.
Berbeda dengan dorongan kebutuhan jasmani yang bersifat internal, misalnya orang ingin makan karena rasa lapar dari dalam dirinya, dorongan naluri baru akan muncul kalau ada rangsangan dari luar. Begitupun dengan cinta. Cinta antar suami-istri harus selalu dirangsang dan ditumbuhkan agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan harmonis.

Sepuluh Kiat Agar Suami Makin Cinta

1. Taat.
Suami dengan segala kelebihannya telah dijadikan Allah sebagai pemimpin bagi wanita. Keluarga ibarat sebuah kapal, maka mestilah ada yang menahkodainya. Itulah suami yang yang akan membawanya kemana kapal berlabuh. Karena itu, istri shalihah harus senantiasa mematuhi suaminya, kecuali dalam maksiat kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda: Seandainya aku memerintahkan agar seseorang bersujud kepada orang orang lain maka pasti (yang paling dulu) aku memerintahkan agar seorang wanita (istri) bersujud kepada para suaminya. (HR at-Tirmidzi).

2. Pandai menjaga amanatnya sebagai ibu (umm[un]).
Tugas utama seorang ibu adalah merawat (baik dari sisi fisik maupun psikologisnya), membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Tugas ini tidak boleh diabaikan. Agar suami senang, anak harus selalu terawat kebersihan-nya, juga kondisi psikologisnya. Akan sangat tidak enak tentunya kalau suami pulang ke rumah melihat anak-anak yang masih tampak kotor karena belum mandi sore, atau menangis tidak mau berhenti hanya karena ibunya tidak peka melihat keinginan anak. Kegesitan dan kecermatan ibu ketika pagi hari harus menyiapkan anak-anak yang akan berangkat sekolah juga akan membuat suasana rumah terasa lebih segar. Dengan begitu, suami juga akan merasa tenang ketika akan memulai aktivitasnya.

3. Pandai menjaga amanat sebagai pengatur rumah tangga (rabbah al-bayt).
Rumah akan sangat terasa nyaman jika senantiasa tampak tertata, teratur dan bersih. Fisik rumah tentu bukan menjadi syarat utama. Yang penting, bagaimana istri bisa mengatur dan menjaga kebersihan rumah sehingga semua anggota keluarga, termasuk suami, betah tinggal di dalamnya.

4. Pandai menjaga diri, kehormatan dan harta suami.
Ketika suami tidak di rumah, istri shalihah harus pandai menjaga diri dan harta suami dengan sebaik-baiknya. Ia tidak sembarangan menerima tamu di rumah atau melakukan aktivitas yang tidak ada manfaatnya, seperti ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga yang kadang secara tidak sengaja akan bercerita tentang keburukan suami atau keluarga.
Rasulullah saw. bersabda:Tidak ada sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik baginya daripada seorang istri shalihah, yakni…yang jika suaminya tidak ada di sisinya, ia menjaga diri dan harta suaminya. (HR Ibn Majah).

5. Berilah penghargaan dan kejutan.
Semua orang, tak terkecuali suami, sangat senang jika dihargai. Penghargaan tidak selalu dalam wujud materi, tetapi bisa pujian atau pelukan mesra. Cobalah sekali-kali bawakan oleh-oleh kesukaannya saat dia dengan rela menjaga anak-anak ketika istri harus keluar rumah untuk berdakwah; kirimkan sms penuh kebanggaan ketika suami selesai mengisi dengan sukses sebuah acara sebelum peserta memberikan applause; atau berilah hadiah spesial pada saat-saat tertentu.

6. Menyenangkan jika dipandang.
Nabi Muhammad saw. bersabda: Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. (HR Muslim). Tidak ada sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik baginya daripada seorang istri shalihah, yakni yang jika suami memerintahnya, ia menaatinya; jika suaminya memandangnya, ia membuat suaminya bahagia… (HR Ibn Majah).
Perempuan cantik memang enak untuk dipandang. Namun, kecantikan fisik bukan segalanya, karena istiri semakin lama juga akan semakin tua. Buatlah suami agar selalu merasa senang dan betah di rumah dengan memberi kesetiaan yang ikhlas, senyuman yang tulus dan menawan, serta cinta dan pengorbanan. Panggillah dengan panggilan yang paling dia sukai.

7. Bertutur kata lembut.
Saling menasihati antar suami-istri harus selalu dilakukan. Bagaimanapun, tidak ada manusia yang sempurna. Siapa pun suatu saat bisa melakukan kesalahan. Karena itu, penting istri untuk tidak lupa mengingatkan suami ketika dia alpa. Lakukanlah semua itu dengan penuh kelembutan. Pilihlah kata-kata yang baik dan santun selama berdialog. Rendahkan nada bicara dan usahakan dengan intonasi yang terkontrol. Kata-kata yang baik, jika disampaikan dengan cara yang lembut, akan melahirkan kekuatan yang besar. Semua itu, insya Allah, akan bisa menggerakkan jiwa yang lemah, membangkitkan semangat orang yang putus asa, dan menenteramkan hati yang gelisah. Ia juga akan meluluhkan sikap yang kaku sehingga nasihat yang semula tidak bisa masuk berubah menjadi nasihat yang menggugah dan menyadarkan.

8. Tidak membebani, tetapi membantu mencari solusi.
Kehidupan berumah tangga tentu tidak lepas dari persoalan. Sebagai istri shalihah, ketika persoalan itu datang, bantulah suami untuk mencari solusi. Kalau tidak mampu, jangan menambah persoalan baru atau bahkan menuntut sesuatu di luar batas kemampuan-nya. Persoalan-persoalan kecil yang mampu diselesaikannya sendiri dan tidak memerlukan izin suami, selesaikanlah dengan segera. Jadikanlah diri istri menjadi tempat yang nyaman buat suami untuk mengadu dan menumpahkan kepenatan setelah seharian keluar rumah untuk mencari rezeki atau berdakwah. Biasakan untuk selalu bersyukur dengan semua nikmat yang didapat, bersabar ketika menghadapi kesulitan, tawakal jika mempunyai rencana, dan bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

9. Pandai melayani suami.
Urusan perempuan memang tidak hanya seputar sumur, dapur dan kasur. Namun, istrilah yang bertanggung jawab untuk ketiga urusan itu. Bisa saja ada pembantu yang memasak, tetapi menyiapkan makan, minum dan segala keperluan suami di dalam rumah merupakan kewajiban istri. Lakukan semua itu dengan ikhlas dan penuh rasa cinta. Tentu akan berbeda rasanya teh manis buatan istri tercinta dibandingkan dengan buatan pembantu. Insya Allah, akan terasa lebih nikmat. Jadilah istri yang selalu siap “melayani” suami dan pandai membuatnya “bergairah”.

10. Jadilah pemaaf dan ringan berterima kasih.
Manusia selamanya tetap manusia, yang memiliki sifat pelupa dan khilaf. Wajar jika suami atau istri sekali waktu berbuat keliru. Karena itu, diperlukan upaya saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran agar tetap di jalan Allah. Jadilah istri yang pemaaf dan tahu berterima kasih.
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Sumber: http://layyina.multiply.com/journal

Seperti diposting oleh masduki pada Sabtu 20 Sep 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1245

Rumah seseorang ibarat cermin yang menggambarkan keluhuran akhlak, kesempurnaan budi pekerti, keelokan pergaulan dan ketulusan nuraninya. Tidak ada seorang pun yang melihat apa yang diperbuatnya di balik kamar dan dinding. Saat ia bersama hamba sahaya, bersama pembantu atau bersama istrinya, ia bebas berbuat tanpa ada rasa sungkan dan berpura-pura. Sebab ia adalah raja yang memerintah dan melarang di dalam rumahnya. Semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya adalah lemah. Marilah kita lihat bersama aktifitas Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah, selaku pemimpin dan panutan umat yang memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi. Bagaimanakah keadaan beliau di dalam rumah?

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR: Ahmad dan Tirmidzi)
Demikianlah contoh sebuah ketawadhu’an dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Alloh yang terpilih tidaklah segan mengerjakan hal itu semua.

Dari rumah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh berkah itulah memancar cahaya Islam, sedangkan beliau sendiri tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal perut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. An-Nu’man bin Basyir menuturkan kepada kita keadaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam: ”Aku telah menyaksikan sendiri keadaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengganjal perut.” (HR: Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menyalakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air.” (HR: Al-Bukhari)
Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; “Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!” beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: ‘Apakah yang biasa dilakukan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?’ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).” (HR: Muslim)

Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Alloh.

Di samping beliau lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya, namun beliau juga sangat marah terhadap orang yang meninggalkan shalat fardhu berjamaah (di masjid). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Sanksi yang sangat berat tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya shalat berjamaah. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mendengar seruan azan, lalu ia tidak menyambutnya (mendatangi shalat berjamaah), maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur.” (HR: Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Uzur di sini adalah perasaan takut (tidak aman) atau sakit. Apa dalih orang-orang yang mengerjakan shalat fardhu di rumahnya (di samping istrinya)? Mereka tinggalkan masjid! Apakah ada uzur sakit atau perasaan takut bagi mereka?

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

Seperti diposting oleh masduki pada Sabtu 20 Sept 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1247

Penulis : Bayu Gawtama

Subuh tadi, saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
“Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya.
Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah…, besok Agus harus bayar uang praktek.”
“Iya…” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, “Besok beliin lengkeng ya!” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah” sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya!”
Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, “Ini, anak siapa minta susunya ke siapa?”
Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, “Iya, nanti semua Ayah bereskan,” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh di sana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hambaNya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

Seperti diposting oleh masduki pada Minggu 14 Sep 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1189

Penulis : M. Quraish Shihab

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an. An-Naml (semut), Al-’Ankabuut (laba-laba), dan An-Nahl (lebah).

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur’an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Al-’Ankabuut [29] : 41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.” (An-Nahl [16] : 68. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ’semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ’semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa.”

Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.” Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

Seperti diposting oleh masduki pada Minggu 14 Sep 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=1190

Ini adalah kerinduan seorang istri tak kala suaminya sedang pergi melakukan perjalanan jauh demi tugasnya.

Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu karena derita yang mendera
Kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati merasa terpotong potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang
Mataku berpendar mencari bintang yang datang

Seandainya tidak kuingat jalinan kasih di antara kami
Akan kudapatkan hati ini terkulai dan bersimbah air mata
Setiap kekasih tentu akan mengingat kekasihnya
Pertemuan dan kebersamaan setiap hari yang diharapkan

Ya Allah, ringankanlah rasa cinta yang mendera ini
Doa dipanjatkan dan Engkau mendengarnya
Kupanjatkan sepotong doa setiap waktu
Karena kerinduan yang merenda hati ini

Seperti diposting oleh nina solvia pada Rabu 30 Juli 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=881