Alkisah, sewaktu kelas 1 saya punya teman senior kakak kelas bernama Joko Pamungkas. Sama-sama tinggal di Asrama Dewi Sri I atau yang sering disebut Asrama Atas. Kamar dia persis di depan kamar saya. Karena itulah saya sangat dekat dengan dia.
Kalau pergi-pergi sering dia mengajak saya. Ke kebun, ke sungai, atau sekedar ke warung beli makanan. Dia sering minta diantar sama saya ke sungai untuk buang air. Katanya dia tidak bisa be’ol di asrama karena bau dan kotor. Kalau dia mau buang air dia selalu manggil saya “No.. ke pantai yuk!” begitu istilah dia. Padahal maksudnya ke sungai.
Rasanya saya juga senang dengan dia. Orangnya friendly, kocak, dan dia punya banyak makanan. Tentu saja, dia orang Jakarta, rumahnya di jalan senopati, dan setiap akhir pekan dia pulang. Sepulangnya dari rumahnya dia pasti membawa makanan enak. Selain itu, nampaknya dia banyak uangnya, saya sering ditraktir sama dia.
Teringat, saya pernah mau dikasih hand body lotion satu botol. Tapi saya menolak “Buat apa…? Kayak cewe ajah…”. Begitu kataku. Baru kepikiran sekarang gunanya lotion itu… hahaha…
Namun, ada juga yang tidak enaknya bergaul dengan dia. Saya sering dimanfaatkan untuk mencuri di kebun. Saya sebenarnya ngga suka mencuri, tapi dia selalu bilang ini bukan mencuri, karena semua kebun itu milik kita juga, cuma mengambilnya duluan.
Ya.. itulah. Pernah satu kali saya disuruh mencuri kelapa di samping asrama. Waktu itu malam hari, kira2 jam 10an. Saya yang disuruh manjat, sementara dia katanya di bawah berjaga-jaga. Setelah saya berada di atas pohon kelapa, dan siap memetik buahnya, tiba-tiba terdengan orang berteriak “Hai.. siapa itu..”. Saya hapal benar itu suara Si Ebeh, penjaga keamanan Asrama. Si Ebeh itu orangnya sangat menakutkan, kata saya mah seperti bajak laut. Waduh…. badan saya gemetar, saya ketakutan setengah mati.
Lampu senternya berputar-putar menyoroti sekitarnya di kegelapan malam itu. Saya menengok ke bawah, ternyata si Joko dan teman2 sudah kabur. Sementara saya masih berada di atas pohon kelapa, tanpa diketahui sama si Ebeh.
Berapa menit sudah saya di atas pohon kelapa, tangan dan paha saya sudah mulai pegel. Kalau sampai kram gimana ya… Saya terus memperhatikan si Ebeh yang masih kelihatan mundar mandir di bawah.
Kemudian, sambil terus menyalakan seternya, si Ebeh terlihat berjalan masuk ke kawasan asrama. Nah, inilah saatnya saya harus segera turun. Dan… srosooooootttttttt…. Badanku meluncur ke bawah dengan cepat.
Setelah itu saya bergegas menuju asrama. Dengan jantung deg-degan takut kepergok si Ebeh, terus saya masuk kamer. Tangan dan dada ini terasa perih. Benar saja saya liat tangan bagian dalam tergores. Terus saya buka kaos dan terlihat dada lecet-lecet dan kulitnya sedikit mengelupas.
Sementara saya sedang mengamati luka-luka dan menahan rasa sakit, si Joko dan teman2nya kemudian pada datang ke kamarku sambil tertawa cekikikan.
“Abis dari mana lu No….” katanya.
Seperti diposting oleh nono pada Sabtu 16 Feb 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=130
