Pertama kali saya masuk sekolah ini, tidak pernah menyangka ada praktek nyangkul yang dimulai jam 6 pagi. Bisa dibayangkan jam berapa saya harus berangkat dari rumah. Tapi itulah kewajiban harus tetap dilaksanakan dan diusahakan jangan sampai terlambat. Temen-temen tahu sendiri khan bila kta terlambat.
Nah…..untuk menghadapi itu semua, saya biasanya bangun jam setengah lima, mandi, solat subuh, rapi rapi dan mempersiapkan yang akan dibawa. Setelah semua beres tanpa sarapan weeeeeessssss berangkat, hari masih gelap, udara dingin masih menusuk dan komplek saya tuh sepiiiiiiii sekali. Saya nih orangnya penakut, jadi setiap berangkat subuh selalu diantar mamah atau bapak sampai rumah Eli. Dari komplek kami naik angkot sampai Bosbow Gunung Batu, terus jalan, kalau waktu masih lama kami jalan sampai sekolah (gudang bawah/gudang atas ataupun gudang tengah) kadang kadang suka papasan sama Aef dan Abas yang naik sepeda, tapi betapa teganya mereka jalan mendahului kita tanpa menawari untuk bonceng (tega deh kalian). Nah paling enak kalo papasan sama anak sabah, lumayan kami diajak.
Saat praktek adalah yang paling menyenangkan, karena kami selain bekerja (nyangkul) juga banyak bercandanya, jadi praktek tidak terasa akhirnya selesai juga. Cangkul dicuci dan dikembalikan ke tempat semula. Kami berlima (Saya, Novie, Iis, Eli dan Marni) kadang kadang bareng Mudiani dan Popi, bersih-bersih diri dan ganti pakaian seragam. Perut lapar…..baru deh buka bekel dari rumah, biasanya tuh bekelnya hampir sama : Nasi Goreng, kalo tdk nasi putih dan dadar telur. Walaupun sama nasi goreng tapi kami selalu tukar tukaran atau sekedar cicip mencicipi. Wah rasanya nikmat sekali, biasanya kami makan di belakang kelas 1C yang menghadap ke kolam ikan SUPM. Ditemani angin sepoi sepoi kami makan sambil bercanda sampai tak terasa bel masuk sudah bunyi.
Ternyata acara jalan dari sekolah sampai bosbow gunung batu pulang pergi merupakan acara rutin kami jika pergi dan pulang sekolah. Bukan hanya saya dan Eli, kadang kadang kami rame2 dengan Novie, Mudiani, Iis, Roy, bahkan beberapa kakak kelas juga ada. Mengingat itu semua saya tersenyum dan betapa bahagianya saat itu. Cape tidak terasa, ongkos yang kami terima biasanya digunakan untuk jajan es cendol atau doclang (dasar pengiritan, tidak hanya anak asrama saja ya, kita kita juga berusaha jalan kaki agar bisa jajan).
Kalo melihat kondisi jalan saat ini, sepertinya kami tidak sanggup jalan seperti itu. Dulu kendaraan masih sedikit dan jalannya pelan, tapi sekarang…..ampun deh.

Seperti diposting oleh nina solvia pada Rabu 02 April 2008
Tanggapan dan komentar selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
http://forum.spmabogor.net/viewtopic.php?t=325