SPMA 100 TAHUN
Ir. Husaini Azharny, M.Ed. Pengajar pada Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Bogor.
INTISARI, No. 481 TH. XL, Agustus 2003
KAWAH CANDRADIMUKA PARA PEMBESAR
Sekolah pertanian ini telah melahirkan sejumlah tokoh kawakan di berbagai bidang. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjabat sebagai menteri. Padahal sekolah yang kini berumur seabad ini sejatinya “kawah candradimuka” bagi penyuluh dan teknisi di bidang pertanian.
Meski baru berusia 58 tahun, negeri kita ternyata memiliki lembaga pendidikan yang umurnya sudah seabad atau lebih. Sebutlah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), satu-satunya lembaga pendidikan tinggi di negeri ini yang berumur lebih dari satu seperempat abad. Memang masih kalah tua dari Universitas Tokyo, misalnya, yang tahun ini 135 tahun umurnya. Atau Universitas Leiden di Belanda yang sudah mendekati usia 440 tahun.
Hanya FKUI? Tidak! Masih ada satu lagi, yang tahun ini menginjak usia seabad. Namanya, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) di Cibalagung, Bogor. Namun, orang lebih mengenalnya sebagai SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) Bogor; nama yang disandang sejak negeri kita merdeka. Nama STPP sendiri baru disandang sejak April 2001.
Sepanjang sejarahnya, lembaga pendidikan ini menjadi tempat menimba ilmu sejumlah tokoh ternama negeri ini. Sebutlah Wisaksono Wijodihardjo (pakar ilmu tanah pertama Indonesia), Ign. J. Kasimo (menteri pertanian RI, 1949 – 1950), Dr. Hadrian Siregar (pakar pemuliaan tanaman padi), Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwidjaja dan Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro (keduanya mantan menteri pertanian), Prof. Dr. Ir. Soetardi Mangoendojo (pakar entomologi), serta Laksamana Soebijakto (KSAL RI pertama).
Juga Prof. Dr. Ir. Tb. Bachtiar Rifai (mantan duta besar RI di Prancis) dan Drs. Poernomo (aktor yang lebih dikenal sebagai Mang Udel). Nama beken lain yang penah berguru di sekolah ini yaitu Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) dan Slamet Soeseno (penulis ilmiah populer).
Dalam menyelenggarakan pendidikan, sekolah ini sempat berpindah-pindah gedung. Semula, menempati gedung yang sekarang menjadi gedung Laboratorium Treub di Kebun Raya Bogor. Pada 1916 pindah lagi ke Cultuurtuin Tjikeumeuh, yang sekarang ditempati Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan di Jln. Merdeka 99, Bogor. Terakhir, sejak 50 tahun lalu hingga kini, proses belajar mengajar mengambil tempat di Kampus Cibalagung dengan gedung baru yang diresmikan pemakaiannya persis pada peringatan 50 tahun MLS-SPMT-SPMA Bogor pada 1953.
Prasarana dan sarana pendidikan seperti gedung sekolah, laboratorium, sawah dan kebun praktik, serta asrama siswa, menempati lahan seluas 30 ha di kaki Gunung Salak. Bangunannya merupakan hasil rancangan arsitek F. Silaban, yang juga perancang bangunan Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional. Ciri khas gedung sekolah ini adalah menara setinggi 30 m yang tidak asing bagi warga Bogor.
Hijrah gara-gara Sekutu
Riwayat sekolah ini dimulai dari dibukanya Land en Tuinbouw Cursus pada 6 Juli 1903 di Kebun Raya Bogor oleh Dr. Melchior Treub, direktur kebun raya itu. Muridnya saat itu cuma 13 orang. Guru-gurunya hampir semua berkebangsaan Belanda, misalnya Dr. Th. Valenton dan Dr. W.G. Boorsma. Setelah berjalan 10 tahun, siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan berjumlah 88 orang, di antaranya 16 orang berkebangsaan Belanda.
Pada 1913 jenjang lembaga pendidikan ini ditingkatkan menjadi Middelbare Landbouw School (MLS) dengan lama pendidikan tiga tahun. Dari sekolah ini dihasilkan penyuluh pertanian lapangan atau LVD (landouw voorlichting dienst), tenaga lapangan di onderneming (perkebunan besar), atau asisten peneliti di Lembaga Penelitian Pertanian. MLS juga mencetak pengusaha pertanian yang terdidik.
Beberapa tahun sebelum pecah perang Asia Timur Raya (invasi Jepang ke Asia Tenggara), pendidikan di MLS dibedakan atas jurusan pertanian rakyat dan jurusan perkebunan besar. Ini tak lepas dari kepentingan Belanda yang pada masa itu mengalami kesukaran mendapatkan teknisi perkebunan lulusan Belanda (Wageningen) akibat Perang Dunia II yang melanda Eropa.
Dalam dasawarsa pertama, MLS berhasil menggembleng anak didiknya yang kemudian menjadi orang-orang ternama, seperti Wisaksono Wijodihardjo dan Ign. J. Kasimo. Pada dasawarsa berikutnya, sekolah yang sama juga meluluskan Dr. Hadrian Siregar dan Prof. Ir. Anwas Adiwilaga. Kemudian, menjelang Perang Dunia II, Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwidjaja, Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro. Prof. Dr. Ir. Soetardi Mangoendojo, dan Laksamana Soebijakto berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah ini. Total jenderal tercatat ada 620 orang alumni MLS, lebih 70 orang di antaranya berbangsaan Belanda.
Ketika penjajahan Belanda berakhir dan berganti dengan pendudukan Jepang, nama sekolah ini berubah menjadi Nogyo Senmon Gakko atau Sekolah Pertanian Menengah Tinggi (SPMT). Pada masa itu, kepala sekolahnya R. Sodo Adisewojo, lulusan MLS tahun 1919. Dialah orang Indonesia pertama yang memimpin sekolah ini.
Pada masa pendudukan Jepang itu lulusan SPMT sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi pangan guna melanjutkan dan memperluas perang. Selama tahun-tahun itu pula siswa SPMT diharuskan mengikuti latihan kemiliteran. Ini menguntungkan, karena ternyata latihan kemiliteran itu berguna bagi siswa yang kelak ikut mengangkat senjata melawan Belanda di masa revolusi fisik. Nama besar yang berhasil menimba ilmu di SPMT di antaranya Prof. Ir. Gembong Tjitrosoepomo, Prof. Dr. Ir. Tb. Bachtiar Rifai, Letjen. Haerudin Tasning, dan Mang Udel.
Ketika tentara Sekutu menyerbu Pulau Jawa pada akhir 1945, siswa kelas III dan guru SPMT Bogor terpaksa hijrah ke Tegalgondo (Solo, Jawa Tengah). Lalu mereka menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Negeri di Ibukota RI waktu itu. Siswa kelas I dan II SPMT Bogor sebagian hijrah sampai ke Jawa Timur, bergabung dengan SPMT yang sudah berdiri di Malang sejak 1944. Baru pada September 1946 SPMT di Bogor dibuka kembali oleh pemerintah Federal. Selama menyandang nama SPMT ini, sebanyak 134 orang berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Menjadi sekolah kedinasan
Nama SPMA mulai digunakan di Bogor sejak 1950, setelah terbentuknya Negara Kesatuan RI. Pada periode tahun 1950-an inilah SPMA Bogor meluluskan siswa yang kemudian menyandang nama besar, antara lain Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution dan Slamet Soeseno. Lulusan dari angkatan periode ini juga banyak yang kemudian mencapai gelar doktor, menjadi pakar pertanian, pejabat tinggi negara, dan direktur utama perkebunan besar.
Menyusul SPMA Bogor, SPMT Malang, Bukittinggi, dan Makassar akhirnya juga berubah menjadi SPMA Negeri.
Pada awal Orde Baru (1967 – 1968), dua angkatan lulusan SPMA Bogor diharuskan menambah masa belajarnya sampai empat tahun. Di kelas IV, siswanya diwajibkan melaksanakan operasional Bimbingan Massal – Swasembada Bahan Makanan (Bimas-SSBM) bersama mahasiswa Fakultas Pertanian dari berbagai perguruan tinggi, dan ditempatkan di desa-desa penghasil padi.
Kurikulum polivalen mulai dijalankan sejak 1975. Materi pelajaran dan praktik yang diberikan kepada siswa tidak cuma mengutamakan bercocok tanam, tetapi melingkupi pula ilmu dan keterampilan perikanan dan peternakan. Nama sekolah juga berubah menjadi Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP).
Pengembangan sekolah ini selanjutnya mengacu pada perkembangan yang bakal terjadi di masa mendatang. Untuk menghadapi petani terdidik dan modern di abad ke-21 dengan persaingan agribisnis yang semakin ketat, misalnya, lulusan dengan bekal ilmu dan keterampilan dari SPMA atau SPP saja dirasa tidak memadai lagi. Maka sejak 1987 SPP dikembangkan menjadi sekolah kedinasan yang berfungsi meningkatkan profesionalisme penyuluh yang sudah berdinas minimum lima tahun.
Program Diploma-3 Ahli Penyuluhan Pertanian (D-3 APP) pun diselenggarakan di sekolah ini. Program itu merupakan pendidikan formal bagi penyuluh pertanian lapangan (PPL) agar memiliki pengetahuan tentang pertanian yang lebih maju. Asal tahu saja, sebelum menyelenggarakan program D-3 APP, SPMA dan SPP sudah meluluskan lebih dari 2.000 alumni.
Bersamaan dengan peningkatan status SPP Negeri Bogor, beberapa SPP Negeri Medan, Yogyakarta, Malang, dan Makassar juga berubah status menjadi penyelenggara Program D-3 APP.
Sudah cukup? Belum. Tantangan lebih berat lagi akan dihadapi para petani di masa mendatang, yakni era perdagangan bebas (AFTA 2003). Karena itu, lulusan sekolah ini harus lebih mampu bersaing dalam tantangan global. Untuk itu Departemen Pertanian meningkatkan Program Diploma 3 tahun menjadi 4 tahun pada April 2001. Lembaga ini pun berubah menjadi perguruan tinggi kedinasan bernama Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). Alumninya berhak menyandang gelar SST (Sarjana Sains Terapan). Sementara, dari program D-3 APP, telah berhasil diluluskan tidak kurang dari 1.200 orang alumni.
Kunci keberhasilan
Rahasia keberhasilan sekolah ini, khususnya ketika masih bernama MLS dan SPMA, dalam mencetak lulusan yang sebagian kelak menjadi orang-orang besar itu tak lepas dari metode pendidikannya. Dalam kurikulumnya siswa tidak cuma diberi pelajaran teori, tetapi juga praktik di lapangan. Bisa di sawah, ladang, atau tambak. Semuanya diberikan secara total, dari teknik pertanian (termasuk perkebunan, perikanan, dan peternakan), ilmu komunikasi, hingga ilmu usaha tani. Pada masa itu, belum ada sekolah menengah yang memiliki kurikulum yang mendalam seperti itu.
Tak hanya itu, setiap tahun siswa juga wajib turun ke desa bergabung dengan petani selama sekitar dua minggu untuk mempraktikkan ilmunya. Di tahun terakhir masa belajar mereka melakukan praktik lapangan – semacam Kuliah Kerja Nyata di perguruan tinggi – di pedesaan selama minimal tiga minggu.
Kunci keberhasilan lainnya, sekolah ini menerapkan kedisiplinan yang ketat. Masuk kelas dan tempat praktik harus tepat waktu. Siswa juga diwajibkan tinggal di asrama. Mereka belajar mulai hari Senin hingga Sabtu. Sering pula mereka harus belajar hingga sore hari bila kondisi mengharuskan.
Kini sekolah pertanian ini telah berumur 100 tahun, suatu representasi bagi seabad pendidikan pertanian di Indonesia. Maka, kalau Jenderal Douglas Mac Arthur terkenal dengan ungkapan “Old soldier never die” di kalangan prajurit bangsanya, para alumni Kampus Cibalagung pun boleh dengan bangga menyatakan, , “Old campus never fade away”. Kampus tua di Cibalagung tidak akan pernah terhapus dari catatan sejarah pembangunan bangsa ini, terutama di dalam pembangunan pertanian
March 9th, 2008 at 12:01 pm
Teman-teman panitia Reuni 82-92 sebaiknya sowan ke pak Huzaini, bagaimana pandangannya tentang ide menghidupkan kembali SPMA Bogor…. nanti saya buatkan janji sama beliau..
May 23rd, 2008 at 3:50 am
Ide Bagus!
Perlu direalisasikan segera. Tim appresiasi guru kan punya tugas mengumpulkan biodata singkat guru. Jadi klop dah.
Mohon diset up appoinmentnya non.
salam,
ND
June 29th, 2008 at 11:38 pm
Betul banyak pakar pertanian bangsa ini terlahir dari kampus yang tua tapi gagah. Itu semua tidak terlepas dari peran pendidiknya. Apakah gedung yang bersejarah ini akan tetap melahirkan insan insan pertanian yang tangguh lagi, sementara yang melandasi pendidikan pertanian akan tergantikan. Kenapa SPMA Bogor harus dihapus, padahal sekolah inilah cikal bakal lahirnya sekolah sekolah pertanian di negeri ini. Bukankah lebih baik memelihara dan meneruskan yang sudah ada daripada membangun yang baru?
August 12th, 2008 at 9:57 am
Syukur alhamdulillah, tak terasa… airmata bangga & haru menetes karena telah menjadi bagian prajurit pejuang pertanian lulusan gedung tua SPMA Bogor. Ketika masuk seleksi saja kami 80 orang tahun 1980 harus menyisihkan 800-an peserta tes (10%) dari seluruh Indonesia. Kurikulum ketat tidak main-main sejak gerbang masuk pertama.
Alm Pak Ir. Suharnis BA, Alm Pak Ir. Saharuddin MS, Pak Ir. Husaini MEd dan semua guru-guru tercinta yang tak tersebutkan satu persatu… Terimakasih untuk semua ilmu dan keteladanan total yang telah kami warisi.
Semoga Alloh Swt Tuhan Yang Mahakuasa merahmati Bapak Ibu Semua degan Pahala Pejuang Pendidik Pertanian Indonesia.
Kepada para wakil rakyat dan petinggi Indonesia sekarang… berkacalah kita pernah swa sembada pangan tapi kini importir beras….!!! Malu hati ini. Bantu kami !!! membangun lagi benteng pertahanan pangan negeri ini melalui pendidikan pertanian menengah model SPMA.
October 6th, 2008 at 8:14 am
dari dulu saya sangat mengagumu pak Ir. Husaini, membaca tulisan diatas kecintaan dan hormat saya bertambah kepada beliau. sayang negeri ini negeri “politikus” yg berpikiran sama dengan tikus. Kebijakan pertanian kitapun larut dalam kegaduhan dinding gedung politik. ompor beras kan lebih menguntungkan “saku pribadi” daripada swasembada beras. semoga tulisan beliau (pak Ir.Husaini) mengetuk hati pemegang kekuasaan. Rakyat perlu beras untuk makan bukan sekedar lagu pelipur lara. oh negeriku…..
February 22nd, 2009 at 4:24 pm
di mana tempat bertanya masalah spesipikasi perlengkapan pembibitan dan lab utuk sekolah pertanian. tolong di informasikan. trims.
June 30th, 2009 at 3:31 pm
Biarpun terlambat, namun tak terasa bahwa SPMA telah membentuk sebagian karakter kita menjadi insan yg selalu menghargai karya yang terbaik dan juga santun terhadap yang lebih tua tanpa melupakan jasa-jasa yg tlah kita terima
July 1st, 2009 at 7:20 am
Salam kangen buat semua. I love you all.
Teman2 tercinta silahkan saling berkomentar dan saling berinteraksi atau menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kami.
Wasalam
Admin